Bara di Bawah Tanah: Ancaman Nyata Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut yang Kian Mengkhawatirkan

Author Image

notesrss

-

gegeronline.co.id

Terbit

14 Oktober 2026, 19:52 WIB

SUMBER PILIHAN GEGERONLINE.CO.ID

Akses Berita & Informasi Terupdate Lebih Cepat

Jadikan gegeronline.co.id sebagai sumber utama di Google Search & AI Overviews agar tidak tertinggal update.

Geger Online – 14 Oktober 2026 | Situasi darurat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kini menjadi ancaman serius bagi ekosistem dan kesehatan masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Bukan sekadar menghanguskan pepohonan di permukaan, fenomena ini telah merambah jauh ke dalam lapisan tanah gambut, menciptakan bara api bawah tanah yang sulit dideteksi dan dipadamkan. Kondisi ini diperparah oleh minimnya curah hujan akibat fenomena El Nino, yang membuat lahan gambut kehilangan kelembapan alaminya dan menjadi sangat rentan terbakar.

Di Kalimantan Tengah, kebakaran hutan yang melanda kawasan Taman Nasional Tanjung Puting menjadi salah satu titik perhatian utama. Tantangan di lapangan sangat berat, mulai dari akses menuju titik api yang sulit dijangkau hingga karakteristik gambut yang menyimpan bara tersembunyi. Meskipun operasi pemadaman melalui udara dengan teknik water bombing telah dikerahkan sejak September 2026, pengendalian api belum sepenuhnya maksimal. Tebalnya kabut asap yang menyelimuti area tersebut bahkan membatasi jarak pandang, sehingga menghambat operasional helikopter demi alasan keselamatan penerbangan.

Dampak dari kebakaran hutan ini tidak hanya dirasakan oleh flora dan fauna, tetapi juga manusia. Di Papua Selatan, masyarakat setempat melaporkan kondisi yang memprihatinkan akibat polusi udara yang ekstrem. Asap tebal telah mengganggu aktivitas warga selama berminggu-minggu, menyebabkan gangguan kesehatan seperti batuk, hingga kesulitan mendapatkan akses air bersih. Sebaran asap ini bahkan telah meluas hingga ke wilayah Papua Tengah, Papua Pegunungan, hingga sebagian wilayah Sulawesi dan Maluku, mengikuti arah pergerakan angin.

Secara ilmiah, proses pembakaran gambut memberikan dampak permanen yang mengkhawatirkan. Lapisan organik yang terbentuk selama ribuan tahun dapat hilang dalam waktu singkat. Berdasarkan observasi pada lahan yang terbakar di Kalimantan, permukaan tanah bisa turun hingga puluhan sentimeter akibat musnahnya material organik, akar, dan rimpang tanaman. Hal ini menegaskan bahwa pemulihan lahan tidak bisa dilakukan hanya dengan menunggu vegetasi kembali hijau, karena simpanan karbon yang hilang akibat kebakaran hutan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk dapat pulih kembali.

Tragedi kemanusiaan pun tak terelakkan. Di Samarinda, seorang pria berusia 60 tahun dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami luka bakar hingga 60 persen akibat peristiwa karhutla. Pihak kepolisian saat ini masih melakukan investigasi mendalam untuk memastikan penyebab pasti kebakaran tersebut, sembari mengumpulkan keterangan dari sejumlah saksi di lokasi kejadian.

Secara keseluruhan, penanganan karhutla memerlukan koordinasi lintas sektor yang lebih kuat dan langkah preventif yang lebih efektif. Menjaga kelembapan lahan gambut tetap menjadi kunci utama dalam meminimalisir risiko kebakaran di masa depan. Tanpa upaya serius untuk memitigasi dampak kekeringan dan mengawasi pembukaan lahan secara ketat, ancaman kebakaran hutan akan terus menjadi siklus tahunan yang merugikan lingkungan, ekonomi, dan nyawa manusia.

PARTNER NETWORK
Bangun Media & Aset Digital Lebih Cepat
Domain premium, website berita, optimasi publisher & solusi digital.

Related Post

Terbaru