Beranda / Market / Emas Terancam Jatuh ke US$ 4.360, Ini Pemicu dan Sinyalnya

Emas Terancam Jatuh ke US$ 4.360, Ini Pemicu dan Sinyalnya

Emas Terancam Jatuh ke US$ 4.360, Ini Pemicu dan Sinyalnya

Harga emas dunia diperkirakan masih akan menghadapi tekanan dalam perdagangan hari ini. Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, melihat adanya sinyal bearish yang kuat pada pergerakan harga emas, dengan potensi pelemahan lebih lanjut menuju level US$ 4.360 per ons troi.

Pada penutupan perdagangan sebelumnya, harga emas tercatat melemah 0,61% ke level US$ 4.428 per ons troi. Bahkan, pada Jumat lalu, harga emas sempat ambles cukup dalam sebesar 3,18% dan ditutup di level US$ 4.455,15 per ons troi.

Geraldo menjelaskan bahwa pergerakan harga emas pada grafik empat jam (H4) masih menunjukkan tren pelemahan. Belum ada sinyal pembalikan yang cukup kuat terdeteksi, sehingga peluang untuk mencapai level support berikutnya masih terbuka lebar.

Indikasi tekanan jual diperkuat oleh pola grafik ‘Drop Base Drop’ yang terbentuk. Pola ini diawali dengan penurunan harga, diikuti fase konsolidasi atau base, dan dilanjutkan kembali dengan penurunan harga.

“Level US$ 4.360 per ons troi menjadi level penting untuk dicermati karena merupakan support sebelumnya sekaligus bertepatan dengan level Fibonacci 161,8%,” tulis Geraldo dalam risetnya, Senin (31/8/2026).

Kombinasi kedua level teknikal tersebut menjadikan area US$ 4.360 per ons troi sebagai titik pengujian potensial bagi harga emas dalam jangka pendek. Jika harga mampu bertahan di area tersebut dan menunjukkan sinyal pembalikan, peluang terjadinya rebound teknikal masih terbuka.

“Sebaliknya, apabila tekanan jual semakin kuat dan harga emas menembus support US$ 4.360 per ons troi, harga berpotensi melanjutkan penurunan menuju level yang lebih rendah,” tambah Geraldo.

Oleh karena itu, reaksi harga di sekitar area tersebut menjadi indikator penting untuk memprediksi arah pergerakan emas selanjutnya.

Secara fundamental, Geraldo menambahkan bahwa harga emas juga tertekan oleh kenaikan imbal hasil (yield) obligasi Amerika Serikat (AS). Kenaikan yield membuat aset berbasis bunga menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Kondisi ini meningkatkan opportunity cost dalam memegang emas dan berpotensi menekan permintaan terhadap logam mulia tersebut.

Selain itu, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed juga menjadi perhatian pasar. Pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam agenda Jackson Hole telah mendorong investor untuk menyesuaikan kembali perkiraan mereka mengenai arah suku bunga AS.

Prospek Suku Bunga The Fed

Pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September berada di kisaran 57%. Sementara itu, yield Treasury AS tenor dua tahun berada di kisaran 4,33%.

“Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi berpotensi menopang dolar AS dan yield obligasi AS, yang pada saat bersamaan dapat menjadi sentimen negatif bagi emas,” papar Geraldo.

Meskipun demikian, arah kebijakan The Fed tetap bergantung pada perkembangan data ekonomi AS dan pernyataan pejabat bank sentral selanjutnya.

Di tengah tekanan tersebut, faktor geopolitik masih berpotensi memberikan dukungan terhadap emas. Ketegangan antara AS dan Iran dapat meningkatkan ketidakpastian di pasar global dan mendorong permintaan terhadap aset safe haven.

Kenaikan harga minyak juga menjadi faktor yang perlu dicermati. Ketegangan geopolitik dapat meningkatkan risiko gangguan pasokan energi, sehingga mendorong harga minyak dan memunculkan kembali kekhawatiran terhadap inflasi.

Kondisi ini dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed dan menambah volatilitas harga emas.

Dengan demikian, prospek harga emas saat ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen yang berlawanan. Kenaikan yield obligasi AS dan meningkatnya ekspektasi suku bunga memberikan tekanan, sedangkan risiko geopolitik masih dapat menopang permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven.

Geraldo menilai, fokus teknikal saat ini berada pada kemampuan harga emas mempertahankan level support US$ 4.360 per ons troi. Jika level tersebut bertahan dan muncul sinyal pembalikan, emas berpeluang mengalami rebound.

“Namun, selama tekanan jual masih dominan dan pola Drop Base Drop belum berubah, skenario pelemahan tetap menjadi perhatian. Level US$ 4.360 per ons troi pun menjadi area kunci yang perlu dicermati pelaku pasar dalam perdagangan emas hari ini,” tutup Geraldo.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *