PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI terus memprioritaskan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai inti bisnisnya. Hingga akhir triwulan II-2026, total penyaluran kredit kepada UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun, menandai pertumbuhan sebesar 8,6% secara tahunan (year on year/yoy).
Secara keseluruhan, penyaluran kredit dan pembiayaan BRI secara konsolidasi menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 16,2% (yoy) menjadi Rp1.646 triliun per akhir Juni 2026. Angka ini menegaskan bahwa 75,1% dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group disalurkan kepada segmen UMKM.
Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa porsi besar tersebut menunjukkan komitmen BRI untuk terus tumbuh bersama ekonomi kerakyatan. “Diversifikasi sumber pertumbuhan BRI tidak mengubah DNA perseroan sebagai bank yang tumbuh bersama ekonomi kerakyatan,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (31/8/2026).
Hery menjelaskan bahwa penguatan segmen consumer, small-medium-commercial, corporate, serta pengembangan new core dilakukan untuk menciptakan struktur bisnis yang lebih terdiversifikasi. Namun, UMKM tetap menjadi fondasi utama bisnis BRI. “BRI tetap konsisten menjadikan UMKM sebagai core business. Kami percaya pertumbuhan BRI harus berjalan beriringan dengan pertumbuhan pelaku usaha dan aktivitas ekonomi masyarakat,” tegas Hery.
Lebih lanjut, Hery menambahkan bahwa ekspansi bisnis yang dilakukan BRI akan senantiasa berpijak pada upaya memperluas akses pembiayaan dan memperkuat kapasitas UMKM di Indonesia. Komitmen terhadap ekonomi kerakyatan ini tidak hanya diwujudkan melalui pembiayaan, tetapi juga melalui pendekatan pemberdayaan UMKM secara end-to-end, mulai dari tingkat desa, komunitas usaha, hingga pelaku usaha secara individual.
Dorong UMKM Naik Kelas
Program Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan hingga Juni 2026. Di tingkat komunitas usaha, program Klasterku Hidupku telah merangkul lebih dari 44 ribu klaster usaha.
BRI juga terus memperluas pemberdayaan melalui platform digital LinkUMKM yang telah menjangkau sekitar 17,3 juta pelaku UMKM. Pendampingan melalui Rumah BUMN juga telah melibatkan sekitar 596 ribu pelaku UMKM hingga periode yang sama.
Ekosistem pemberdayaan ini melengkapi peran BRI dalam memperluas pembiayaan, termasuk melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Sepanjang Januari hingga Juni 2026, BRI telah menyalurkan KUR sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari 2 juta debitur. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI telah mencapai Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah.
Hery menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan BRI mencerminkan perannya sebagai financial intermediary sekaligus enabler pertumbuhan ekonomi kerakyatan. “Bagi BRI, pembiayaan dan pemberdayaan merupakan satu kesatuan. Kami ingin menciptakan siklus pertumbuhan yang berkelanjutan, UMKM memperoleh akses keuangan, mendapatkan pemberdayaan dan pendampingan, meningkatkan kapasitas usahanya, kemudian naik kelas dan semakin terintegrasi ke dalam ekosistem ekonomi yang lebih besar,” ujar Hery.
Ia menekankan bahwa keberhasilan BRI pada akhirnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan aset, kredit, maupun laba. Yang terpenting adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut mampu menciptakan nilai, membuka kesempatan bagi pelaku usaha untuk berkembang, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. “Dengan fundamental yang semakin kuat dan transformasi yang terus berjalan, BRI akan konsisten tumbuh bersama ekonomi kerakyatan Indonesia,” pungkas Hery.






