Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berpotensi memasuki babak baru seiring rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) menghapus batas harga minimum saham Rp 50. Kebijakan ini membuka ruang penurunan harga GOTO di bawah level gocap, namun analis menilai tekanan awal justru dapat menjadi jalan bagi terbentuknya price discovery yang lebih sehat.
Di sisi lain, fundamental GOTO mulai menunjukkan perbaikan signifikan. Perseroan mencatatkan laba bersih Rp 608 miliar pada semester I-2026, berbalik dari rugi bersih Rp 580 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis MNC Sekuritas Christian mengatakan perubahan aturan floor price Rp 50 menjadi dinamika baru bagi saham GOTO. Menurut dia, apabila batas tersebut dihapus, harga saham GOTO memang berpotensi bergerak di bawah Rp 50 dalam jangka pendek. Namun, kondisi tersebut justru dapat mengurangi hambatan perdagangan yang selama ini muncul ketika saham berada di level Rp 50.
“Kalau aturan harga terendah diubah, ekspektasinya harga saham GOTO turun ke bawah Rp 50. Ini ada sisi positifnya karena penjual bisa bertemu pembeli di harga tertentu. Kontras dengan kondisi di Rp 50 ketika antrean jual lebih banyak dari beli sehingga transaksi tidak matched,” kata Christian, Senin (31/8/2026).
Menurut dia, penurunan harga pada tahap awal dapat menciptakan short-term pain bagi investor. Akan tetapi, dalam jangka berikutnya, mekanisme pembentukan harga yang lebih fleksibel berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan. Dengan tidak adanya lagi batas bawah Rp 50, saham GOTO dapat bergerak mengikuti keseimbangan permintaan dan penawaran. Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya price discovery, sekaligus memberikan ruang bagi pemulihan harga apabila fundamental perseroan semakin kuat.
Christian menilai salah satu persoalan utama yang membebani GOTO saat ini bukan semata-mata fundamental, melainkan technical overhang setelah saham tersebut dikeluarkan dari sejumlah indeks global. Eksklusi dari indeks FTSE dan MSCI membuat passive fund yang mengikuti indeks tersebut harus melakukan penyesuaian portofolio. Namun, selama harga GOTO tertahan di level Rp 50, proses tersebut dinilai tidak berjalan optimal karena ketidakseimbangan antara antrean jual dan beli.
“Dengan kondisi harga saham saat ini di Rp50 memang ada technical overhang, di mana passive fund yang harus keluar dari saham GOTO karena eksklusi FTSE dan MSCI, tetapi mereka tertahan,” ujarnya.
Dengan adanya perubahan mekanisme harga, Christian berharap proses rebalancing oleh investor institusi dapat berlangsung lebih normal. “Dengan aturan baru, memungkinkan mereka bisa rebalancing, sehingga harapannya tidak ada lagi masalah overhang seperti ini,” imbuhnya.
Artinya, tekanan harga GOTO di bawah Rp 50 tidak serta-merta dapat dibaca sebagai memburuknya fundamental. Sebagian tekanan awal berpotensi berasal dari faktor teknikal dan proses penyesuaian kepemilikan investor. Setelah tekanan tersebut mereda, arah saham akan semakin ditentukan oleh kemampuan GOTO mempertahankan pertumbuhan bisnis dan profitabilitas.
Lebih lanjut, di tengah tekanan teknikal dan ketidakpastian regulasi, kinerja keuangan GOTO justru menunjukkan perubahan yang cukup signifikan. Sepanjang Januari-Juni 2026, GOTO membukukan laba bersih Rp 608 miliar. Pencapaian tersebut menandai pertama kalinya perseroan mencatatkan laba bersih pada tingkat semesteran setelah sebelumnya masih membukukan rugi Rp 580 miliar pada semester I-2025.
Direktur Utama GOTO Hans Patuwo sebelumnya mengatakan bisnis financial technology (fintech) perseroan telah mencatat profitabilitas yang untuk pertama kalinya melampaui bisnis On-Demand Services (ODS). Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ekosistem GOTO tidak lagi hanya bergantung pada bisnis mobilitas dan pengantaran melalui Gojek, tetapi semakin ditopang oleh bisnis finansial melalui GoPay dan layanan terkait.
“Kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp 3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” kata Hans.
Perubahan bauran bisnis tersebut menjadi penting bagi prospek saham GOTO. Pasalnya, investor kini tidak hanya melihat kemampuan perseroan meningkatkan transaksi, tetapi juga kemampuan menghasilkan keuntungan secara berkelanjutan.
Meski demikian, prospek GOTO masih menghadapi risiko dari sisi regulasi, khususnya terkait pengaturan komisi ojek online. Pemerintah telah memberlakukan skema komisi baru untuk layanan angkutan roda dua sejak 1 Juli 2026. Dalam skema tersebut, potongan komisi untuk aplikasi dipangkas menjadi 8% dari sebelumnya sekitar 20%.
Sementara itu, pengaturan untuk layanan pengantaran makanan dan barang masih dalam pembahasan pemerintah. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebelumnya mengatakan pemerintah tengah mencari titik keseimbangan antara kepentingan pengemudi dan keberlanjutan bisnis perusahaan aplikasi. Pemerintah menginginkan pengemudi memperoleh hak yang adil, tetapi pada saat yang sama platform tetap memiliki margin yang cukup untuk menjaga keberlangsungan usaha.
Bagi GOTO, kepastian regulasi menjadi krusial karena perubahan struktur komisi dapat memengaruhi unit economics bisnis Gojek. Analis Kiwoom Sekuritas Abdul Aziz mengatakan dampak perubahan floor price terhadap saham GOTO kemungkinan hanya bersifat sementara. Setelah tekanan teknikal mereda, investor akan kembali melihat fundamental perseroan.
“Saya melihat ruang GOTO untuk memperkuat fundamental masih terbuka karena GoTo adalah sebuah ekosistem digital yang terintegrasi. Jadi kalau kinerja Gojek terdampak, masih ada GoPay,” ujar Abdul.
Menurut dia, fleksibilitas regulasi menjadi salah satu faktor penting yang akan menentukan keberlanjutan model bisnis GOTO. Apabila regulasi tetap memberikan ruang bagi platform untuk menentukan harga dan menjaga kualitas layanan, GOTO dinilai memiliki peluang mempertahankan momentum profitabilitas. Abdul bahkan optimistis GOTO dapat mencapai target adjusted EBITDA setahun penuh 2026 sebesar Rp 3,2-3,4 triliun.
“Ketika keberlanjutan ekosistem jadi prioritas regulasi, ini akan menjadi sentimen dan katalis positif untuk saham GOTO,” katanya.
Sentimen lain yang menarik perhatian pasar datang dari aksi Morgan Stanley yang tercatat membeli saham GOTO pada harga Rp 23 per saham. Berdasarkan keterbukaan informasi 26 Agustus 2026, Morgan Stanley tercatat memiliki hampir 59,4 miliar saham GOTO atau sekitar 5,2% dari total saham beredar.
Masuknya investor institusi global tersebut menjadi salah satu faktor yang menarik dicermati, terutama di tengah posisi saham GOTO yang menghadapi tekanan akibat faktor indeks dan regulasi. Namun, bagi investor ritel, aksi tersebut belum dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk mengambil keputusan investasi.
Pergerakan saham setelah perubahan floor price akan sangat bergantung pada keseimbangan permintaan dan penawaran serta kemampuan GOTO menjaga pertumbuhan laba. Dengan demikian, prospek GOTO ke depan akan ditentukan oleh tiga faktor utama. Pertama, seberapa cepat perseroan mampu mempertahankan profitabilitas dan mencapai target EBITDA. Kedua, kepastian regulasi bisnis ojol dan ruang bagi perseroan menjaga unit economics. Ketiga, kemampuan saham melewati technical overhang setelah eksklusi dari indeks global.
Jika ketiga faktor tersebut bergerak positif, perubahan aturan harga minimum justru berpotensi menjadi titik awal pembentukan harga GOTO yang lebih mencerminkan fundamental perusahaan.





