Beranda / Berita / Nasional / Kanker Bukan Akhir, Kolaborasi Lintas Profesi Kunci Perawatan Optimal

Kanker Bukan Akhir, Kolaborasi Lintas Profesi Kunci Perawatan Optimal

Kanker Bukan Akhir, Kolaborasi Lintas Profesi Kunci Perawatan Optimal

Kanker bukanlah akhir dari segalanya. Dengan diagnosis dan terapi yang tepat, serta pelayanan yang komprehensif, semakin banyak pasien kanker yang memiliki kesempatan untuk memperoleh hasil pengobatan yang lebih baik, hidup lebih lama, dan mempertahankan kualitas hidup yang bermakna.

Pesan ini menjadi inti tema “Strength in Diversity, Excellence in Care: Because Cancer Is Not the End of Everything.” Ketua Pelaksana ROICAM 13, dr. Eka Widya Khorinal, SpPD, K-HOM, MPH, Finasim, menekankan bahwa menghadapi kanker tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan obat atau teknologi.

“Kekuatan sesungguhnya lahir ketika berbagai profesi, disiplin ilmu, fasilitas kesehatan, pemerintah, akademisi, komunitas pasien, dan masyarakat bekerja bersama dengan pasien sebagai pusat pelayanan,” ujar dr. Eka dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (28/8/2026).

Data Globocan 2022 memperkirakan terdapat 408.661 kasus baru kanker dan 242.988 kematian akibat kanker di Indonesia. Tanpa perubahan strategi yang bermakna, Rencana Kanker Nasional 2024–2034 memproyeksikan beban kasus dan kematian akibat kanker di Indonesia dapat meningkat hingga sekitar 63% antara tahun 2025 dan 2040.

Perjuangan menghadapi kanker dapat digambarkan sebagai upaya bersama merobohkan sebuah dinding tebal yang tersusun dari berbagai lapisan. Lapisan tersebut mencakup rendahnya kesadaran terhadap pencegahan dan skrining, keterlambatan diagnosis, kesenjangan akses antarwilayah, keterbatasan sumber daya manusia, tantangan pembiayaan, hingga belum meratanya akses terhadap diagnostik dan terapi berkualitas.

Tidak ada satu profesi atau institusi yang mampu merobohkan dinding ini sendirian. Kekuatan justru terletak pada keberagaman, di mana setiap profesi membawa kompetensi yang berbeda dan setiap unsur sistem kesehatan memiliki perannya masing-masing.

“Ketika seluruh kekuatan itu bergerak menuju tujuan yang sama, keberagaman berubah menjadi kekuatan untuk menghadirkan pelayanan terbaik,” tambah dr. Eka.

Perubahan Paradigma Perawatan Kanker

Salah satu perubahan paradigma yang penting adalah memahami bahwa kanker tidak dapat dipandang semata sebagai penyakit pada satu organ. Meskipun tumor dapat bermula dari organ tertentu seperti payudara, paru, saluran cerna, atau prostat, kanker dan terapinya dapat memberikan dampak sistemik terhadap seluruh tubuh.

dr. Eka menjelaskan, pasien kanker dapat mengalami berbagai kondisi penyerta seperti anemia, infeksi, trombosis, malnutrisi, gangguan metabolik, serta gangguan fungsi organ vital seperti ginjal, hati, paru, maupun jantung. Di sisi lain, banyak pasien yang juga hidup dengan penyakit kronis lain seperti diabetes, hipertensi, penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal kronik, atau penyakit hati, yang dapat memengaruhi pilihan dan keamanan terapi kanker.

Dalam konteks ini, dokter spesialis penyakit dalam memegang peran strategis. Pendekatan ilmu penyakit dalam melihat pasien secara menyeluruh, tidak hanya berfokus pada lokasi tumor. “Kondisi organ, penyakit penyerta, komplikasi kanker, efek samping pengobatan, status nutrisi, hingga kemampuan pasien menjalani terapi perlu dipertimbangkan sebagai satu kesatuan,” jelas dr. Eka.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan hematologi-onkologi medik memiliki peran khusus dalam merencanakan dan memberikan terapi sistemik kanker. Ini mencakup kemoterapi, terapi hormonal, terapi target, imunoterapi, hingga pengobatan presisi yang didasarkan pada karakteristik biologis dan molekuler tumor.

Namun, keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh seberapa efektif obat bekerja terhadap kanker. “Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan mempertahankan fungsi organ, mengendalikan komorbiditas, mencegah dan menangani komplikasi, menjaga kualitas hidup, serta membantu pasien menyelesaikan terapi secara optimal,” ujar dr. Eka.

Dengan demikian, pelayanan kanker pada hakikatnya bukan sekadar mengobati tumor, tetapi merawat manusia yang hidup dengan kanker. Inilah makna dari excellence in care: memberikan terapi yang tepat kepada pasien yang tepat, pada waktu yang tepat, dengan tetap melihat pasien sebagai manusia secara utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *