Wall Street mengakhiri sesi perdagangan Jumat (28/8/2026) dengan catatan melemah. Pelemahan ini dipicu oleh komentar Ketua Federal Reserve (The Fed), Kevin Warsh, yang menyoroti belum adanya perbaikan signifikan pada tren inflasi Amerika Serikat. Indeks S&P 500 tercatat turun 0,25% ke level 7.711,76, meskipun masih mampu membukukan kenaikan secara mingguan.
Lebih lanjut, indeks Nasdaq Composite mengalami koreksi sebesar 0,52% dan ditutup pada 26.402,4. Penurunan ini sebagian besar disebabkan oleh pelemahan saham-saham di sektor semikonduktor, termasuk perusahaan besar seperti Nvidia dan Intel. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average hanya sedikit tertekan dengan penurunan 0,02%, mengakhiri perdagangan di angka 53.559,9.
Terlepas dari pelemahan pada hari Jumat, ketiga indeks utama Wall Street tersebut berhasil mencatatkan kenaikan sepanjang pekan. S&P 500 membukukan penguatan 0,5%, Nasdaq naik 0,9%, dan Dow Jones meningkat 0,5%. Kenaikan ini menandai pencapaian mingguan pertama bagi Dow Jones dalam tiga pekan terakhir.
Dalam pidatonya di simposium tahunan bank sentral di Jackson Hole, Wyoming, Kevin Warsh secara spesifik membahas perkembangan indikator inflasi utama, yaitu Personal Consumption Expenditures (PCE) atau indeks pengeluaran konsumsi pribadi, serta Consumer Price Index (CPI) atau indeks harga konsumen.
Warsh mengakui bahwa kedua indikator tersebut menunjukkan hasil yang lebih baik dari perkiraan selama musim panas. Namun, ia menegaskan bahwa perbaikan tersebut belum cukup meyakinkannya untuk menyimpulkan adanya perbaikan signifikan pada tren inflasi yang mendasarinya. “Walaupun data PCE dan CPI pada musim panas ini lebih baik dari perkiraan, hal itu belum meyakinkan saya bahwa tren yang mendasarinya telah membaik secara signifikan,” ujar Warsh.
Ia menekankan pentingnya The Fed memiliki keyakinan penuh bahwa inflasi yang mendasari bergerak secara jelas dan dengan kecepatan yang memadai menuju sasaran bank sentral. “Jika tidak, masih ada pekerjaan yang harus kami lakukan. Itulah tugas kami, mandat kami, dan tanggung jawab yang harus kami jalankan,” tegas Kevin Warsh.
Komentar Warsh tersebut langsung memberikan dampak pada ekspektasi pelaku pasar mengenai arah kebijakan moneter The Fed. Berdasarkan data FedWatch milik CME Group, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September meningkat menjadi 57,5% pada Jumat, melonjak signifikan dari 35,4% pada hari sebelumnya. Angka ini tercermin dalam kontrak berjangka suku bunga Federal Funds atau fed funds futures.
Fed funds futures merupakan instrumen kontrak berjangka yang dimanfaatkan oleh pelaku pasar untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga acuan The Fed.
Menyusul pidato Kevin Warsh, imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor pendek dilaporkan langsung meningkat. Sebaliknya, imbal hasil Treasury tenor panjang bergerak relatif datar.
Imbal hasil Treasury tenor panjang memiliki kaitan erat dengan biaya pinjaman di berbagai sektor ekonomi dan menjadi salah satu perhatian pasar belakangan ini. Namun, menjelang penutupan perdagangan, tren kenaikan imbal hasil tenor pendek mulai mereda.
Managing Director REX Financial, Bill Birmingham, menilai pidato Warsh mengirimkan pesan yang kuat kepada pasar mengenai pendekatan kebijakan The Fed. “Saya melihat pidato ini memberikan pesan yang sangat kuat, baik kepada pasar maupun secara umum, bahwa cara The Fed menjalankan kebijakan selama sekitar 40 tahun terakhir, dalam beberapa aspek, mungkin belum seketat yang seharusnya,” kata Birmingham.
Menurut Birmingham, komentar Warsh mengenai komposisi CPI juga mengindikasikan adanya upaya kuat dari Ketua The Fed untuk mencari konsensus internal guna menaikkan suku bunga.






