Geger Online – 04 Oktober 2026 | Persidangan kasus suap yang menyeret mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2) Bea Cukai, Rizal, kembali mengungkap fakta baru di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada Jumat (2/10/2026). Dalam keterangannya, Rizal memberikan penjelasan mengejutkan terkait pengadaan alat pendukung operasional, di mana Sidang suap eks direktur Bea Cukai: Rizal sebut alat podcast dibeli demi perbaiki citra instansi [titlebase] menjadi sorotan utama bagi publik yang mengikuti jalannya proses hukum ini.
Rizal mengaku bahwa pengadaan perangkat podcast tersebut dilakukan dengan niat awal untuk meningkatkan citra instansi di mata masyarakat. Namun, niat baik tersebut kini justru beriringan dengan tuduhan suap yang melibatkan pihak swasta. Dalam persidangan, Jaksa KPK, M Takdir Suhan, sempat menanyakan isi lubuk hati terdalam Rizal terkait kasus yang menjeratnya. Rizal dengan tegas menyatakan penyesalannya, terutama karena kasus suap ini tetap terjadi di bawah pengawasannya.
“Penyesalan ini terjadi karena fakta-fakta persidangan membuktikan adanya suap yang diberikan oleh pihak swasta, seperti John Field dari PT Blueray Cargo yang sudah dijatuhi hukuman,” ungkap Rizal di depan majelis hakim. Meski demikian, Rizal tetap bersikukuh bahwa ia selalu menerapkan prinsip equal treatment kepada semua pihak. Ia merasa heran mengapa suap tetap terjadi padahal perlakukan terhadap setiap pelaku usaha seharusnya sama. Rizal menyadari bahwa dirinya mungkin belum optimal dalam menjalankan pengawasan melekat, yang akhirnya menjadi celah bagi bawahannya untuk melakukan pelanggaran.
Also Read
Selain membahas soal pengadaan alat, Sidang suap eks direktur Bea Cukai: Rizal sebut alat podcast dibeli demi perbaiki citra instansi [titlebase] juga menyoroti pesan singkat (WhatsApp) yang pernah dikirimkan Rizal kepada bawahannya. Penasihat hukum Rizal mengonfirmasi adanya pesan berisi “Hati-hati Coy” yang dikirimkan kepada Orlando Hamonangan, Kepala Seksi Intelijen Kepabeanan I, sesaat sebelum operasi tangkap tangan (OTT) dilakukan KPK.
Rizal berdalih bahwa pesan tersebut bukanlah bentuk perlindungan terhadap tindakan ilegal, melainkan bentuk peringatan agar bawahannya menjaga integritas. “Itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan menegaskan agar jangan bermain-main dengan integritas,” tambahnya. Ia mengklaim peringatan serupa juga dikirimkan ke berbagai grup internal pengawasan sebagai bentuk tanggung jawab pimpinan.
Secara keseluruhan, rangkaian fakta yang terungkap dalam Sidang suap eks direktur Bea Cukai: Rizal sebut alat podcast dibeli demi perbaiki citra instansi [titlebase] menunjukkan adanya celah dalam sistem pengawasan internal di Direktorat Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai. Meski Rizal berupaya membela diri dengan dalih penguatan citra dan penegakan integritas melalui pesan singkat, fakta hukum di persidangan menunjukkan bahwa praktik suap tetap tidak terelakkan. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh instansi pemerintah untuk memperketat pengawasan melekat guna mencegah penyalahgunaan wewenang oleh oknum yang mencederai kepercayaan publik.



