Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi salah satu instrumen yang dilirik untuk aktivitas trading pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. KB Valbury Sekuritas merilis analisisnya untuk memaksimalkan potensi keuntungan dari saham emiten perbankan ini.
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan trading buy untuk saham BBRI dengan target harga harian di level Rp 3.250. Investor disarankan untuk melakukan pembelian pada kisaran harga Rp 3.170 hingga Rp 3.190 sebagai entry price.
Secara teknikal, level resistance atau batas atas pergerakan harga saham BBRI berada di Rp 3.250, sementara level support atau batas bawahnya adalah Rp 3.170. KB Valbury Sekuritas mengingatkan untuk waspada jika harga menembus Rp 3.170 dan menyarankan untuk melakukan stop loss di level Rp 3.090.
Sebelumnya, pada penutupan perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, saham BBRI tercatat menguat 1,27% ke level Rp 3.190. Dalam sepekan terakhir, saham ini mengalami koreksi 1,24%, namun berhasil naik 8,1% dalam sebulan. Meskipun demikian, secara year to date (ytd), saham BBRI masih mengalami penurunan sebesar 12,8%.
Selama periode 24-28 Agustus 2026, investor asing tercatat melakukan aksi net sell atau jual bersih senilai Rp 473 miliar di pasar reguler Bursa Efek Indonesia. Data ini dihimpun berdasarkan laporan Stockbit Sekuritas.
Di sisi lain, KB Valbury Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham BBRI dengan target harga jangka panjang yang didasarkan pada model Gordon Growth Model (GGM) sebesar Rp 4.010. Target harga ini dinilai setara dengan price to book value (P/B) sebesar 1,8 kali untuk proyeksi tahun 2026, menunjukkan bahwa saham BBRI saat ini diperdagangkan pada valuasi yang tergolong murah.
Beberapa katalis positif berpotensi mendorong saham BBRI ke depan. Pertumbuhan kredit yang diproyeksikan lebih tinggi dari ekspektasi, disertai penyesuaian imbal hasil kredit yang moderat, dapat membantu meningkatkan net interest margin (NIM) melampaui panduan tahun 2026. Selain itu, potensi penurunan cost of credit (CoC) seiring perbaikan kualitas aset juga akan menjadi faktor krusial bagi pertumbuhan laba BBRI di tahun 2026.
Potensi pendapatan non-bunga yang lebih kuat juga diidentifikasi sebagai katalis utama untuk mendorong pertumbuhan pre-provision operating profit (PPOP). Namun, terdapat pula risiko utama yang perlu diwaspadai, seperti pertumbuhan kredit yang lebih lemah dari perkiraan, rasio biaya terhadap pendapatan yang lebih tinggi dari estimasi, serta kenaikan pencadangan yang jauh lebih besar dari antisipasi.
Sentimen negatif domestik yang berlanjut dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga berpotensi terus menekan sentimen pasar terhadap saham BBRI.






