Beranda / Bisnis / Emas dan Bitcoin Menguat di Tengah Tren Dedolarisasi Global

Emas dan Bitcoin Menguat di Tengah Tren Dedolarisasi Global

Emas dan Bitcoin Menguat di Tengah Tren Dedolarisasi Global

Tren dedolarisasi global menunjukkan penguatan dan meluas ke berbagai kelas aset. Fenomena ini diperkirakan akan terus berlanjut dan menguntungkan aset seperti emas dan bitcoin (BTC), meskipun sempat mengalami jeda sementara akibat pernyataan Ketua Federal Reserve (Fed) mengenai komitmennya melawan inflasi.

Head of Research Pluang, Jason Gozali, menilai tekanan terhadap emas dan bitcoin lebih bersifat sementara dan tidak mengindikasikan pembalikan tren. Pluang tetap mempertahankan target harga untuk emas di US$ 5.200 dan bitcoin di US$ 100.000 dalam horizon 12 bulan ke depan.

Menurut Jason, tema pelemahan nilai dolar atau ‘dollar debasement’ justru semakin menguat. “Fenomena tersebut kini tidak hanya tercermin pada emas dan Bitcoin, tetapi juga mulai terlihat pada obligasi negara berkembang,” kata Jason dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (31/8/2026).

Pandangan ini sejalan dengan laporan Bloomberg yang dikutip Yahoo Hong Kong. Obligasi negara berkembang dalam mata uang lokal mencatat kinerja positif sebesar 3,3% sepanjang tahun ini. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan obligasi negara maju yang justru membukukan kinerja minus 1,9%.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa sejumlah manajer investasi global masih melihat adanya peluang pada obligasi negara berkembang. Hal ini didorong oleh tren diversifikasi aset keluar dari instrumen yang berbasis dolar AS.

Perusahaan pengelola dana seperti JP Morgan Asset Management, Invesco, dan Marlborough Investment Management termasuk di antara yang menilai obligasi negara berkembang masih memiliki dukungan kuat dari tema ‘dollar debasement’.

Pluang menilai posisi utang Amerika Serikat (AS) yang telah menembus US$ 40 triliun menjadi salah satu faktor kunci yang memperkuat argumen diversifikasi keluar dari dolar AS. Selain itu, langkah Departemen Keuangan AS untuk membeli kembali obligasi jangka panjang juga menambah alasan bagi investor untuk mencari alternatif di luar aset berbasis dolar.

Besarnya utang pemerintah AS memicu kekhawatiran terhadap nilai dolar dalam jangka panjang. Kondisi ini secara alami mendukung pergeseran investor menuju aset yang dianggap sebagai antitesis dari dolar AS.

Laporan Bloomberg turut menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS telah ikut mendorong permintaan terhadap aset alternatif. Aset-aset tersebut termasuk obligasi negara berkembang, emas, dan bitcoin (BTC).

Meskipun tren makro masih sangat mendukung, pergerakan harga emas dan bitcoin sempat tertahan setelah Ketua Fed menyampaikan sikap tegasnya terhadap inflasi. Namun, Pluang memandang pergerakan tersebut belum mengubah arah tren secara keseluruhan.

“Rotasi menuju aset yang menjadi antitesis dolar AS masih berada pada tahap awal, bukan akhir siklus,” ujar Jason Gozali. Atas dasar tersebut, Pluang mempertahankan target harga emas sebesar US$ 5.200 dalam 12 bulan ke depan. Target untuk Bitcoin juga tetap dipertahankan pada level US$ 100.000 untuk periode yang sama.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *