Beranda / Market / Emas Anjlok Pasca Pernyataan Hawkish The Fed, Minyak Melonjak

Emas Anjlok Pasca Pernyataan Hawkish The Fed, Minyak Melonjak

Emas Anjlok Pasca Pernyataan Hawkish The Fed, Minyak Melonjak

Harga emas kembali mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan Senin (31/8/2026), melanjutkan tren negatif dari akhir pekan sebelumnya. Penurunan tajam ini dipicu oleh pernyataan hawkish dari Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang kembali memperkuat ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga acuan dalam waktu dekat.

Saat berita ini ditulis, harga emas tercatat anjlok 1,01% ke level US$ 4.407,04 per ons troi. Pelemahan ini menyusul koreksi 3,18% yang terjadi pada Jumat (28/8/2026), saat harga emas menyentuh US$ 4.455,15 per ons troi.

Dalam pidatonya di Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026), Warsh menekankan bahwa inflasi belum menunjukkan tanda-tanda penurunan yang berarti. Ia menegaskan kembali komitmen The Fed untuk membawa inflasi kembali ke target sebesar 2%.

Lebih lanjut, Warsh menilai bahwa kondisi keuangan saat ini belum cukup ketat. Komentar tersebut semakin memperkuat pandangan pelaku pasar bahwa The Fed masih memiliki ruang kebijakan untuk mempertahankan suku bunga pada level yang ketat, atau bahkan mempertimbangkan untuk menaikkannya.

Akibatnya, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September mendatang mencapai sekitar 57%. Angka ini melonjak signifikan dari perkiraan sekitar 40% pada pekan sebelumnya.

Ekspektasi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menjadi sentimen negatif bagi emas, mengingat aset ini tidak memberikan imbal hasil bunga. Kenaikan suku bunga juga berpotensi meningkatkan daya tarik aset-aset yang berdenominasi dolar AS.

Harga Minyak Melonjak di Tengah Ketegangan Geopolitik

Di sisi lain, pelemahan harga emas juga turut dipengaruhi oleh lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak hari ini dilaporkan menguat 2,84% ke level US$ 90,61 per barel. Penguatan ini terjadi setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap peluncur roket Iran yang diduga bersiap mengerahkan ranjau di Selat Hormuz.

Serangan ini merupakan yang pertama kali dilakukan oleh AS dalam lebih dari sebulan terakhir. Peristiwa ini kembali menarik perhatian pasar terhadap risiko geopolitik yang dapat memengaruhi pasokan energi global.

Meskipun menghadapi tekanan dari pernyataan The Fed dan pergerakan harga minyak, emas masih diproyeksikan mencatat kenaikan lebih dari 8% sepanjang bulan Agustus. Penguatan ini sebagian besar didorong oleh strategi ‘debasement trade’, di mana investor mengalihkan sebagian aset mereka ke emas sebagai instrumen lindung nilai terhadap potensi penurunan nilai mata uang serta ketidakpastian fiskal dan moneter.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *