Geger Online – 10 Oktober 2026 | Pasar modal Indonesia tengah diramaikan oleh aksi korporasi jumbo yang melibatkan dua nama besar di industri pertambangan. Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) mengalami tekanan jual yang cukup signifikan di bursa, memicu pertanyaan besar bagi para pelaku pasar: Harga turun usai Haji Isam resmi akuisisi saham BYAN, investor pilih beli/jual? Fenomena ini terjadi seiring dengan langkah PT Jhonlin Baratama, perusahaan milik pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, yang melakukan perubahan perjanjian pembelian saham dengan pemilik utama BYAN, Low Tuck Kwong.
Perubahan dalam Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat (PJBS) tersebut mencakup penambahan jumlah saham yang dialihkan. Semula, kesepakatan menyasar 10.000.000.500 saham, namun angka tersebut direvisi menjadi 10.084.088.370 saham biasa. Dengan adanya dinamika ini, banyak investor bertanya-tanya apakah Harga turun usai Haji Isam resmi akuisisi saham BYAN, investor pilih beli/jual? Kepanikan pasar terlihat dari pergerakan harga saham BYAN yang sempat merosot tajam di kisaran 5-6 persen pada perdagangan hari Rabu (7/10/2026).
Di sisi lain, pasar negosiasi mencatatkan transaksi fantastis dengan total nilai mencapai lebih dari Rp26 triliun. Transaksi ini dilakukan di harga Rp2.588 per saham, sebuah angka yang jauh di bawah harga pasar reguler saat itu. Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas, Fauzan Luthfi Djamal, menilai bahwa transaksi di harga tersebut merupakan bentuk diskon besar-besaran yang mencerminkan kesepakatan khusus antara pihak pembeli dan penjual. Valuasi yang terbentuk dalam transaksi ini berada pada kisaran 5,7 hingga 5,9 kali laba bersih, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata valuasi historis perusahaan.
Also Read
Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Direktur Penilaian Perusahaan, Saidu Solihin, menyatakan bahwa regulator saat ini masih melakukan penelaahan mendalam terhadap aksi korporasi tersebut. BEI menekankan bahwa mereka tidak mengatur harga dalam transaksi pengalihan saham karena hal tersebut merupakan kesepakatan privat antara pihak-pihak terkait. Fokus utama bursa adalah memastikan keterbukaan informasi dan kepatuhan terhadap aturan pasar modal tetap terjaga.
Bagi investor ritel, situasi Harga turun usai Haji Isam resmi akuisisi saham BYAN, investor pilih beli/jual? menjadi dilema tersendiri. Di satu sisi, masuknya investor strategis seperti Haji Isam seringkali dipandang sebagai sentimen positif untuk prospek jangka panjang perusahaan. Namun, penurunan harga pasar yang terjadi secara teknikal menunjukkan adanya tekanan jual yang masif. Manajemen BYAN sendiri telah memberikan pernyataan resmi bahwa transaksi ini tidak berdampak negatif terhadap operasional maupun kelangsungan usaha perseroan.
Secara fundamental, PT Bayan Resources Tbk tetap menjadi salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia. Meskipun aksi korporasi ini menyebabkan volatilitas jangka pendek, keputusan untuk melakukan akumulasi atau justru melakukan divestasi bergantung pada strategi portofolio masing-masing investor. Mengingat valuasi yang kini menjadi jauh lebih rendah pasca-transaksi, pelaku pasar disarankan untuk mencermati detail keterbukaan informasi lebih lanjut guna memahami dampak pengendalian baru terhadap kebijakan dividen dan arah bisnis perusahaan di masa depan.


