Beranda / Bisnis / Iran Terjepit Sanksi AS, Khamenei Ajak Tinggalkan Dolar

Iran Terjepit Sanksi AS, Khamenei Ajak Tinggalkan Dolar

Iran Terjepit Sanksi AS, Khamenei Ajak Tinggalkan Dolar

Kinerja perdagangan luar negeri Iran dilaporkan merosot tajam akibat sanksi ekonomi yang diperketat dan blokade laut oleh Amerika Serikat. Menghadapi tekanan ini, Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, mengimbau seluruh lini perekonomian negara untuk mengurangi ketergantungan pada mata uang dolar Amerika Serikat.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, mengonfirmasi penurunan aktivitas perdagangan nasional berkisar antara 25% hingga 35%. Penurunan ini memengaruhi sektor ekspor dan impor, dengan sektor impor mengalami kontraksi paling dalam. “Data ini membuktikan sanksi internasional membawa dampak nyata bagi perekonomian kita,” ujar Pezeshkian dalam wawancara dengan stasiun televisi negara, menepis klaim bahwa sanksi Barat tidak berpengaruh.

Menanggapi situasi tersebut, Mojtaba Khamenei menekankan pentingnya kemandirian ekonomi. Ia menyerukan langkah strategis untuk memprioritaskan pertumbuhan produksi dalam negeri dan beralih dari dominasi dolar AS. “Sangat vital bagi kita untuk menghentikan peran dominan dolar AS secara bertahap dan menjadikan ‘Ekonomi Perlawanan’ sebagai pilar utama pembangunan,” tegasnya.

Economic Outcast dan Pemblokiran Perbankan

Tekanan terhadap Iran semakin berat setelah Kementerian Keuangan AS meluncurkan kampanye sanksi bertajuk Operation Economic Outcast, yang bertujuan memutus seluruh akses dan hubungan ekonomi Iran di tingkat global. Sebagai langkah awal, pemerintah AS mengusulkan pemutusan akses perbankan koresponden bagi jaringan Banque Misr asal Mesir yang beroperasi di Uni Emirat Arab (UEA).

Bank tersebut diduga memproses transaksi senilai US$1,8 miliar selama dua tahun terakhir untuk 103 perusahaan yang disinyalir terhubung dengan jaringan perbankan gelap Iran. Pihak Banque Misr UEA menyatakan telah bekerja sama penuh dengan otoritas terkait dan memastikan tindakan regulasi tersebut terbatas pada cabangnya di UEA tanpa mengganggu layanan nasabah.

Anjloknya Ekspor Minyak dan Efektivitas Blokade

Untuk memaksa Iran menyepakati pembukaan kembali Selat Hormuz, pasukan militer AS menggencarkan blokade di jalur pelayaran vital tersebut. Berdasarkan data lembaga intelijen komoditas Kpler, volume ekspor minyak mentah Iran merosot lebih dari 80% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menyisakan sekitar 260.000 barel per hari.

Komando Pusat AS (CENTCOM) melaporkan pasukannya telah menghadang puluhan kapal komersial yang berupaya melanggar aturan blokade. Para pengamat menilai strategi ini sangat efektif melumpuhkan pendapatan utama Iran. Meski demikian, Kementerian Minyak Iran mengklaim masih memiliki cadangan minyak yang cukup untuk memenuhi kebutuhan anggaran negara periode 2026–2027, dan telah menyetorkan dana hasil penjualan minyak sebesar US$7,5 miliar ke bank sentral untuk mengamankan belanja valuta asing hingga awal 2027.

Krisis ekonomi dan ketegangan militer yang melanda Iran saat ini merupakan dampak langsung dari eskalasi konflik terbuka di kawasan Teluk yang terus berlarut-larut. Konflik bersenjata berskala besar ini dimulai ketika Amerika Serikat dan Israel meluncurkan operasi militer bersama di wilayah Iran, yang memicu aksi balasan dari Teheran melalui serangan ke berbagai target strategis di kawasan Teluk.

Pengetatan blokade laut oleh Presiden AS Donald Trump resmi diberlakukan menyusul insiden serangan terhadap kapal-kapal tanker minyak yang melintas di Selat Hormuz, salah satu jalur kemaritiman terpenting dunia yang mengalirkan seperlima pasokan minyak global. Konflik yang awalnya diperkirakan hanya berlangsung selama beberapa pekan kini telah memasuki bulan keenam tanpa tanda-tanda penyelesaian diplomatis. Kebuntuan terkait akses navigasi Selat Hormuz terus membayangi stabilitas ekonomi global dan keamanan kawasan Timur Tengah.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *