TOKYO – Pemerintah Jepang menggelontorkan dana sebesar US$ 96,5 miliar, setara dengan Rp 1,7 kuadriliun, dalam sebulan terakhir untuk menopang nilai mata uang yen di pasar valuta asing. Pengeluaran ini mencatatkan rekor tertinggi dalam sejarah intervensi yang pernah dilakukan Jepang untuk mata uang lokalnya.
Angka tersebut merupakan total nilai intervensi yang dilakukan antara 30 Juli hingga 26 Agustus 2026. Bank of Japan (BOJ) melakukan intervensi pasar dengan membeli yen pada 30 dan 31 Juli 2026. Tindakan ini, yang jarang terjadi bersamaan dengan Amerika Serikat, dilakukan saat yen merosot ke level terendah dalam 40 tahun terakhir, mendekati angka 164 yen per dolar AS.
Besarnya dana yang digelontorkan mencerminkan tekad kuat Jepang untuk mengangkat nilai yen dari titik terendah dalam empat dekade. Pelemahan yen berdampak signifikan pada eksportir dan meningkatkan biaya impor negara, termasuk untuk kebutuhan energi yang sebagian besar harus dipenuhi dari luar.
Jepang mengimpor hampir seluruh kebutuhan energinya, dengan 95% di antaranya berasal dari Timur Tengah. Kondisi ini membuat negara tersebut rentan terhadap gangguan pasokan akibat konflik yang terjadi di kawasan tersebut.
Namun, kebijakan pengetatan moneter yang relatif lambat oleh Bank of Japan (BOJ) menyebabkan suku bunga di Jepang tetap rendah jika dibandingkan dengan negara lain, seperti Amerika Serikat. Hal ini mendorong investor untuk terus mendanai perdagangan global menggunakan yen yang memiliki biaya rendah.
Bank of Japan (BOJ) sendiri telah mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan terakhirnya di bulan Juli 2026. Meskipun demikian, para pembuat kebijakan telah mengisyaratkan kesiapan untuk mempercepat pengetatan kebijakan moneter. Pasar saat ini memperkirakan adanya peluang sebesar 65% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya yang dijadwalkan pada bulan September mendatang.






