Pemerintah Kabupaten Kebumen menyambut antusias rencana penunjukan Karangsambung sebagai lokasi penyelenggaraan kegiatan dari International Union of Geological Sciences (IUGS) yang bekerja sama dengan UNESCO. Acara prestisius ini dijadwalkan berlangsung pada 18 hingga 21 Januari 2027.
Rencana strategis ini mengemuka saat audiensi dan kunjungan kerja Badan Geologi bersama Tim Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI). Rombongan yang hadir dipimpin oleh Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Ir. Agus Cahyono Adi, didampingi Anggota Dewan Pakar KNGI, Dr. Rudy Suhendar, dan Liela Ubaidi. Mereka disambut hangat oleh Bupati Kebumen Lilis Nuryani, didampingi Asisten II Sri Kuntarti, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Frans Haidar, Plt. Kepala Bapperida Haryono Wahyudi, serta perwakilan Badan Pengelola Geopark Kebumen di ruang kerja Bupati.
Bupati Lilis Nuryani menyatakan dukungan penuh terhadap seluruh rangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan pada awal tahun 2027. Ia menilai momentum ini sangat berharga untuk memperkuat fungsi edukasi di kawasan Geopark Kebumen. “Kami dari Pemkab Kebumen sangat mendukung kegiatan yang akan diadakan pada Januari 2027 ini. Kami ingin agar Geopark Kebumen dapat berfungsi secara optimal sebagai sarana edukasi publik. Terkait fasilitas pendukung, penginapan sudah tersedia di Kampus Lapangan Karangsambung, dan kami siap memberikan dukungan penuh,” ujar Lilis dalam keterangan tertulis, Jum’at (28/8/2026).
Pertemuan tersebut menjadi ajang diskusi untuk mengoptimalkan potensi Geopark Kebumen di kancah internasional. Agenda IUGS-UNESCO di Karangsambung diperkirakan akan dihadiri oleh delegasi dari sekitar 60 negara. Kepala Disparbud Frans Haidar menambahkan kesiapan jajarannya dalam menyambut tamu internasional dan akan berkoordinasi intensif terkait proses perizinan serta kedatangan delegasi asing.
Ajang ini diharapkan menjadi wadah bertukar pikiran mengenai perkembangan ilmu kebumian sekaligus memperkenalkan kawasan Karangsambung yang telah ditetapkan sebagai cagar alam geologi selama dua dekade terakhir. Muncul pula gagasan kuat untuk mengusulkan Karangsambung sebagai pusat keunggulan (center of excellence) dalam bidang ilmu geologi.
Dukungan IUGS dan Profil Organisasi
IUGS (International Union of Geological Sciences) dan UNESCO memiliki rekam jejak kerja sama yang erat dalam bidang ilmu bumi, pelestarian warisan geologi, serta pengembangan taman bumi global (global geoparks). IUGS adalah organisasi ilmiah internasional non-pemerintah di bidang ilmu kebumian yang didirikan pada tahun 1961 dan merupakan anggota dari International Science Council (ISC).
Organisasi ini beranggotakan lebih dari 121 negara, mewakili lebih dari satu juta geosaintis di seluruh dunia. IUGS dipimpin oleh Prof. Hassina Mouri sebagai Presiden periode 2024-2028 dan Ludwig Stroink sebagai Sekretaris Jenderal. Peran IUGS sangat krusial dalam menetapkan standar ilmiah kebumian global serta mengoordinasikan kerja sama riset lintas negara.
Rangkaian Agenda IUGS-UNESCO Januari 2027
Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah serangkaian kegiatan penting IUGS-UNESCO yang akan dipusatkan di Karangsambung, Kebumen, dan Yogyakarta pada awal tahun 2027. Rangkaian acara diawali dengan UNESCO Geopark Event serta IUGS Workshop di Kampus Lapangan Karangsambung Kebumen pada 18-21 Januari 2027. Fokus kegiatan ini adalah pelatihan langsung, pengisian dossier, dan peningkatan kapasitas. Selain itu, akan ada diskusi bersama para ahli mengenai mitigasi bencana alam, energi terbarukan, perubahan iklim, hingga manajemen air.
Selanjutnya, agenda berlanjut di Yogyakarta pada 21-27 Januari 2027, meliputi Welcome Reception, IUGS EC Meeting (Open Session), IUGS Gala Dinner di hotel-hotel mitra, Two-day IUGL/Secretariat Field Trip, dan ditutup dengan IUGS EC Meeting (Closed Session). Pertemuan terakhir ini akan melibatkan unsur UNESCO, Geopark, IUGS, perwakilan kementerian, serta kolega nasional dan internasional.
Selain persiapan kegiatan internasional, pertemuan tersebut juga menyinggung isu strategis mengenai penambangan pasir di sekitar aliran Sungai Lukulo. Permasalahan lingkungan ini menjadi catatan penting yang akan dibahas lebih lanjut bersama instansi terkait dalam agenda lanjutan.






