Beranda / Bisnis / Laba ADRO Melonjak 77%, Segmen Aluminium Jadi Katalis Besar Berikutnya

Laba ADRO Melonjak 77%, Segmen Aluminium Jadi Katalis Besar Berikutnya

Laba ADRO Melonjak 77%, Segmen Aluminium Jadi Katalis Besar Berikutnya

JAKARTA – Prospek PT Adaro Energy Tbk (ADRO) pada 2026 diproyeksikan tetap positif, seiring dengan lonjakan laba bersih semester I-2026 (1H26) yang mencapai 77% secara tahunan menjadi US$ 309 juta. Katalis besar diperkirakan akan mulai muncul pada kuartal III-2026 (3Q26).

Pencapaian kinerja Adaro Energy pada paruh pertama 2026 ini terbilang impresif, mengingat segmen aluminium belum membukukan pendapatan dan bahkan masih mencatat kerugian. Dengan demikian, penjualan aluminium yang diharapkan mulai kuartal III-2026 berpotensi menjadi katalis positif berikutnya.

Investment Analyst Stockbit Group, Theodorus Melvin, menilai bahwa raihan laba Adaro Energy pada semester I-2026 masih sejalan dengan ekspektasi. Laba emiten berkode saham ADRO tersebut telah memenuhi sekitar 50% dari estimasi konsensus untuk tahun 2026.

Pada kuartal II-2026 (2Q26), ADRO berhasil membukukan laba bersih sebesar US$ 181 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan, yaitu 41% secara kuartalan (qoq) dan 84% secara tahunan (yoy).

“Pencapaian tersebut menjadi semakin menarik karena bisnis aluminium belum mencatatkan pendapatan sepanjang enam bulan pertama 2026. Segmen tersebut justru masih membukukan rugi bersih US$ 45 juta,” tulis Melvin dalam ulasannya, Senin (31/8/2026).

Secara kuartalan, kenaikan laba ADRO pada 2Q26 terutama ditopang oleh segmen jasa pertambangan. Segmen ini membukukan laba bersih US$ 63 juta, melonjak 111% qoq dan 140% yoy. Peningkatan ini didukung oleh penurunan biaya bahan habis pakai (consumables) menjadi US$ 18 juta, turun dari US$ 32 juta pada 1Q26.

Volume pengupasan lapisan tanah penutup atau overburden secara kuartalan juga relatif stabil di angka 44 juta bank cubic meter (bcm). Secara kumulatif, dua segmen terbesar ADRO, yaitu pertambangan dan jasa pertambangan, masing-masing mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 45% dan 54% yoy selama 1H26.

“Kinerja semester I juga mendapat tambahan dari pendapatan dividen sebesar US$ 34 juta dibandingkan tidak ada pendapatan serupa pada 1H25,” ungkap Melvin. Selain itu, ADRO membukukan laba dari perusahaan patungan (joint venture/JV) sebesar US$ 34 juta, berbanding terbalik dengan periode sama tahun sebelumnya yang masih mencatat rugi US$ 4 juta.

Melvin memperkirakan pendapatan dividen US$ 34 juta yang dibukukan pada 2Q26 berasal dari PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI). Pada 1Q26, ADRO belum membukukan pendapatan dividen dari pos ini.

Di sisi lain, beban keuangan bersih ADRO berbalik menjadi US$ 13 juta pada 2Q26, dari sebelumnya membukukan keuntungan bersih dari pos tersebut sebesar US$ 13 juta pada kuartal sebelumnya. Perubahan ini antara lain dipengaruhi oleh bunga sewa pembangkit listrik untuk smelter aluminium PT Kalimantan Aluminium Industry sebesar US$ 26 juta yang mulai dibebankan pada 2Q26.

“Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika kontribusi bisnis aluminium mulai masuk ke laporan keuangan ADRO,” sebutnya.

Katalis Besar ADRO

Prospek Adaro Energy berikutnya sangat tertuju pada segmen aluminium. Manajemen ADRO menargetkan penjualan ingot aluminium hingga 350 ribu ton sepanjang 2026, target ini lebih tinggi dari estimasi produksi Stockbit sebesar 300 ribu ton.

Pada akhir 1H26, PT Kalimantan Aluminium Industry memiliki persediaan aluminium senilai US$ 320 juta. Dua kargo pertama pengiriman aluminium telah berlayar masing-masing pada 10 dan 29 Juni 2026.

Melvin menilai konversi persediaan aluminium senilai US$ 320 juta menjadi penjualan pada 3Q26 berpotensi menjadi katalis besar bagi ADRO. Segmen aluminium, yang dimiliki melalui PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), berpeluang berubah dari beban menjadi kontributor laba apabila persediaan tersebut berhasil dikonversi menjadi penjualan.

Selain konversi persediaan aluminium, Stockbit juga mencermati peningkatan volume produksi aluminium yang sesuai dengan ekspektasi manajemen sebagai potensi katalis bagi ADRO. Katalis berikutnya berasal dari potensi pencatatan dividen AADI secara penuh pada 2026, setelah ADRO membukukan dividen US$ 34 juta pada 2Q26.

Kenaikan harga jual batu bara metalurgi (coking coal) juga menjadi faktor positif yang dicermati. Harga coking coal China telah mencapai US$ 258 per ton, lebih tinggi dibandingkan indeks Australia sebesar US$ 237 per ton pada 31 Agustus 2026.

Meskipun demikian, terdapat sejumlah risiko terhadap prospek tersebut. Salah satunya adalah margin smelter aluminium yang berpotensi tertekan setelah harga aluminium London Metal Exchange (LME) turun ke sekitar US$ 3.200 per ton dibandingkan rata-rata 2Q26 sebesar US$ 3.559 per ton. Pada saat bersamaan, harga alumina meningkat menjadi US$ 353 per ton dari rata-rata 2Q26 sebesar US$ 307 per ton.

Risiko lainnya adalah biaya consumables pada segmen jasa pertambangan yang dapat kembali ke level normal sekitar US$ 30-38 juta dari US$ 18 juta pada 2Q26. Stockbit juga mencermati potensi dampak El Nino berkepanjangan. Kondisi ini dapat menurunkan debit air sungai dan berisiko mengganggu logistik pengangkutan batu bara perseroan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *