Geger Online – 19 Oktober 2026 | Dunia otomotif baru saja menyaksikan lompatan teknologi yang mengejutkan di fasilitas pengujian roket SpaceX, McGregor, Texas. Tesla akhirnya menyingkap generasi kedua Roadster yang tidak hanya sekadar mobil sport bertenaga listrik, melainkan sebuah kendaraan yang mendobrak batas hukum fisika. Kehadiran tesla flying cars ini menjadi sorotan utama global setelah demonstrasi dramatis yang memperlihatkan mobil tersebut bermanuver di udara layaknya kendaraan dalam film fiksi ilmiah.
Dalam demonstrasi yang berlangsung pertengahan Oktober 2026, Roadster terbaru tampil memukau dengan sistem kipas pengisap di bagian bawah bodi yang mampu menghasilkan gaya tekan (downforce) hingga dua G. Kemampuan ini memungkinkan mobil untuk melaju di jalur melengkung dalam posisi terbalik. Puncaknya, mobil ini meluncur ke udara, melakukan manuver balik (flip), dan mendarat dengan mulus menggunakan bantuan cold-gas thrusters hasil kolaborasi teknis dengan SpaceX.
Sistem pendorong ini mengandalkan tangki udara bertekanan tinggi berbahan karbon yang mampu menyuplai sepuluh nosel di sekeliling mobil. Teknologi tesla flying cars ini diklaim mampu menghasilkan gaya dorong lebih dari 80 kilonewton, yang cukup untuk mengangkat kendaraan dan melakukan rotasi pada berbagai sumbu. Selain kemampuan udara, performa daratnya pun mencengangkan. Varian tertinggi, yakni edisi Rocket, diklaim mampu berakselerasi dari 0-60 mph hanya dalam waktu kurang dari 0,59 detik.
Also Read
Tesla menawarkan tiga konfigurasi bagi konsumen:
- Performance: Versi standar dengan aerodinamika aktif.
- Thrust: Edisi balap dengan pendorong belakang (0-60 mph di bawah 0,9 detik).
- Rocket: Varian satu kursi dengan array pendorong penuh untuk manuver udara maksimal.
Namun, ambisi besar ini bukannya tanpa tantangan. Elon Musk sendiri mengakui bahwa status legalitas dari tesla flying cars di jalan raya masih menjadi tanda tanya besar. Di Amerika Serikat, setiap kendaraan harus mematuhi standar keselamatan Federal Motor Vehicle Safety Standards dari NHTSA, yang mungkin sulit dipenuhi oleh desain berbasis thruster. Selain itu, muncul pula persaingan di industri ini, di mana perusahaan rintisan seperti Alef Aeronautics telah lebih dulu menguji prototipe mobil terbang berbasis baling-baling elektrik dengan sertifikasi kelaikudaraan khusus dari FAA.
Produksi massal direncanakan akan dimulai pada tahun 2028 di Gigafactory Texas. Saat ini, Tesla telah membuka keran pemesanan dengan deposit mulai dari $50.000 untuk model Performance. Meskipun banyak pihak meragukan aspek praktis dan regulasi yang akan dihadapi, kehadiran Roadster baru ini telah mengukuhkan posisi Tesla sebagai pionir dalam mengaburkan batas antara mobil sport konvensional dan kendaraan masa depan.
Pada akhirnya, apakah inovasi ini akan benar-benar mengaspal di jalan raya atau hanya menjadi pajangan teknologi yang eksklusif, hanya waktu yang bisa menjawab. Yang jelas, Tesla telah berhasil membuktikan bahwa imajinasi masa kecil tentang kendaraan terbang kini bukan lagi sekadar khayalan, melainkan sebuah prototipe yang siap menantang segala batasan industri otomotif yang ada saat ini.



