JAKARTA – Wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus diguncang oleh gempa susulan, nyaris dua pekan setelah gempa dahsyat bermagnitudo 7,7 melanda. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bahwa telah terjadi 9.765 gempa susulan yang menghantui aktivitas warga.
Meskipun ancaman guncangan masih terasa, ada secercah kabar baik. Laju korban jiwa dipastikan berhenti, dan ribuan pengungsi mulai berani meninggalkan tenda evakuasi untuk kembali ke rumah mereka.
Berton SP Panjaitan, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, melaporkan intensitas gempa susulan yang sangat tinggi. Hingga Minggu (30/8/2026), tercatat 9.765 gempa susulan, dengan 155 di antaranya dapat dirasakan oleh warga.
“Kami memperoleh laporan atau data dari BMKG sebanyak 9.765 gempa susulan yang sudah terjadi. Dan yang dapat dirasakan 155 kali,” tegas Berton dalam konferensi pers daring, dikutip pada Senin (31/8/2026).
Ia memperingatkan bahwa fenomena alam dengan skala terbesar M6,2 dan terkecil M1 ini masih berpotensi berlangsung cukup lama. “Dan gempa-gempa seperti ini bisa dialami hingga 3-4 minggu setelah gempa terjadi,” imbuhnya.
Korban Jiwa Tak Bertambah
Kabar baik dalam penanganan bencana ini adalah terhentinya temuan korban meninggal. Total korban jiwa tetap di angka 111 orang.
Berton memastikan bahwa pencarian dan pendataan oleh tim evakuasi tidak lagi menemukan korban jiwa baru. “Setelah terjadi gempa, kami juga mendapatkan laporan korban jiwa yang meninggal dan yang luka-luka. Per hari ini dan dari beberapa hari yang lalu kami tidak memperoleh lagi laporan adanya korban meninggal baru sehingga total yang meninggal adalah 111 orang, dan kami tetap menyampaikan rasa belasungkawa kami atas meninggalnya warga Indonesia yang sangat kita cintai ini,” ungkap Berton.
Sementara itu, jumlah warga yang mengalami luka-luka tervalidasi mencapai 1.631 orang, terdiri dari 223 orang luka berat dan 1.408 orang luka ringan.
Ribuan Pengungsi Tinggalkan Posko
Seiring kondisi yang mulai terukur, terlihat titik terang pemulihan dari pergerakan warga. Sebanyak 4.142 jiwa dilaporkan telah meninggalkan posko pengungsian untuk kembali ke kediaman atau menetap di rumah kerabat.
Saat ini, tercatat masih ada 188.161 jiwa yang bertahan di pengungsian. Konsentrasi pengungsi terbesar berada di Kabupaten Nagekeo dengan 50.574 jiwa dan Kabupaten Manggarai dengan 50.556 jiwa.
Tantangan terbesar pemerintah saat ini adalah merekonstruksi puluhan ribu rumah yang hancur. “Ini masing-masing (pengungsi di dua kabupaten tersebut) sebesar 50.000 jiwa lebih. Sedangkan infrastruktur rumah yang rusak sebesar 95.567 unit dan ini akan diverifikasi nantinya, apalagi ini rusak ringan, sedang, atau rusak berat,” pungkas Berton.
Fokus penanganan di NTT kini bergeser dari fase tanggap darurat keselamatan jiwa menuju verifikasi kerusakan dan pemulihan infrastruktur. Warga NTT tengah merajut kembali harapan untuk bangkit di tengah ribuan getaran susulan yang terus menguji ketangguhan mereka.






