Geger Online – 06 Oktober 2026 | Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memanas setelah Pemerintah Yaman umumkan serangan besar, rebut wilayah Houthi [titlebase] pada Minggu (4/10/2026). Deklarasi ini disampaikan langsung oleh Ketua Dewan Kepemimpinan Kepresidenan (PLC) Yaman, Rashad al-Alimi, yang menegaskan bahwa seluruh sistem pertahanan negara kini telah beralih dari fase persiapan menuju tahap pembebasan wilayah dari cengkeraman milisi Houthi.
Langkah tegas ini diambil menyusul runtuhnya peluang perdamaian dan eskalasi konflik yang semakin tidak terkendali. Dalam pidato resminya, al-Alimi menyatakan bahwa keputusan ini merupakan tanggung jawab konstitusional untuk menjaga kedaulatan republik. Pemerintah Yaman umumkan serangan besar, rebut wilayah Houthi [titlebase] dengan mengerahkan seluruh matra angkatan bersenjata serta didukung penuh oleh koalisi militer pimpinan Arab Saudi melalui serangan udara, artileri, hingga penggunaan pesawat nirawak (drone).
Sebelum deklarasi tersebut, militer Yaman tercatat telah melancarkan 257 serangan masif yang menyasar posisi strategis, jalur pergerakan, dan fasilitas militer kelompok Houthi di Sanaa serta beberapa provinsi lainnya. Data sementara menunjukkan bahwa operasi ini berhasil melumpuhkan sekitar 170 unit peralatan militer dan menewaskan setidaknya 700 anggota milisi Houthi. Di sisi lain, koalisi Arab Saudi turut melakukan 97 operasi tambahan yang berfokus pada front Tor al-Baha dan poros Taiz.
Also Read
Eskalasi pertempuran mencapai titik krusial di Kota Taiz. Milisi Houthi dilaporkan telah memutus rute logistik utama dari Aden menuju Taiz setelah menguasai wilayah al-Safiya dan kantor polisi setempat. Pengepungan ini menempatkan ratusan ribu warga sipil dalam kondisi yang sangat genting. Bentrokan sengit di perbatasan Provinsi Taiz dan Lahj dalam kurun waktu satu hari dilaporkan menelan korban jiwa lebih dari 70 orang dari kedua belah pihak.
Menanggapi operasi militer ini, Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, mengklaim bahwa pasukannya berhasil menggagalkan upaya pergerakan pemerintah di timur Provinsi Al-Jawf. Houthi juga membalas dengan meluncurkan rudal balistik dan drone yang menargetkan fasilitas energi Saudi Aramco di Riyadh dan kawasan Khurais. Ketegangan ini menandai babak baru yang lebih kompleks dalam perang saudara yang telah berlangsung sejak 2014.
Para pengamat memberikan pandangan beragam terkait efektivitas operasi ini. Ibrahim Jalal, seorang analis pertahanan, menilai bahwa ketimpangan kekuatan militer yang dibiarkan selama bertahun-tahun menjadi pemicu utama kegagalan diplomasi. Namun, pakar lain seperti Farea Al-Muslimi dari Chatham House meragukan hasil jangka pendek operasi tersebut mengingat penguasaan Houthi atas perbukitan strategis di sekitar Taiz membuat upaya pembebasan menjadi jauh lebih sulit.
Operasi militer yang kini sedang berlangsung diharapkan dapat memulihkan kewenangan pemerintah di wilayah-wilayah yang selama ini dikuasai kelompok pemberontak. Meskipun tantangan di lapangan sangat besar, terutama terkait krisis kemanusiaan yang mendalam, pemerintah tetap berkomitmen melanjutkan misi hingga seluruh wilayah republik terbebas dari kendali milisi. Keberhasilan upaya ini akan sangat bergantung pada koordinasi antara pasukan pemerintah dan dukungan koalisi di garis depan pertempuran yang kini terus meluas.
![Misteri Lapisan Keras di Balik Pengeboran 20 Meter di Lokasi Diduga Bahtera Nabi Nuh, Peneliti Tunggu Hasil Laboratorium [titlebase]](https://gegeronline.co.id/wp-content/uploads/2026/10/misteri-lapisan-keras-di-balik-pengeboran-20-meter-di-lokasi-diduga-bahtera-nabi-nuh-peneliti-tunggu-hasil-laboratorium-titlebase.webp)

