JAKARTA – Presiden RI Prabowo Subianto menerima kunjungan kehormatan dari Presiden Timor Leste José Ramos Horta bersama sembilan peraih Nobel dari berbagai negara di Istana Merdeka, Jakarta. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menyatakan pertemuan ini bertujuan untuk mempererat hubungan bilateral antara Indonesia dan Timor Leste serta membuka berbagai peluang kolaborasi di sektor-sektor strategis.
Kesembilan peraih Nobel tersebut berasal dari latar belakang keilmuan yang beragam, mencakup bidang perdamaian, sains, kimia, pangan, dan disiplin ilmu lainnya. Pertemuan ini diharapkan tidak hanya memperkuat tali persahabatan kedua negara, tetapi juga membuka kesempatan untuk pengembangan kolaborasi yang lebih luas di bidang lingkungan hidup, riset, pendidikan tinggi, sains, dan inovasi.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo didampingi oleh beberapa menteri dari Kabinet Merah Putih dan perwakilan Komisi IV DPR yang memiliki fokus pada urusan lingkungan hidup. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa diskusi antara kedua pemimpin negara mencakup peningkatan kerja sama, khususnya melalui kolaborasi antara para peraih Nobel dengan para peneliti dan akademisi di Indonesia.
“Lebih banyak saya kira potensi untuk ke depan, untuk dieksplorasi, terutama kan para pemenang Nobel ini dari berbagai latar belakang. Ada yang biologis, ada yang fisika, dan macam-macam,” ujar Fadli Zon. Ia menambahkan bahwa potensi kolaborasi ini sangat besar untuk digali di masa mendatang.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menjelaskan bahwa kolaborasi semacam ini merupakan fondasi penting untuk memperkuat ekosistem riset di Indonesia. Presiden Prabowo menekankan pentingnya realisasi kolaborasi tersebut sesegera mungkin. “Karena sangat penting sekali para peraih Nobel itu memberikan inspirasi, kemudian bisa menjadi bagian dari ekosistem penguatan talenta riset di Indonesia. Dan Pak Presiden juga sangat berharap bahwa kolaborasi ini bisa dilakukan secepatnya,” jelas Arif.
Arif Satria mencontohkan keberhasilan kolaborasi serupa yang telah dijalin BRIN dalam pengembangan Metal-Organic Framework bersama peraih Nobel asal Jepang, Susumu Kitagawa. Kolaborasi ini terwujud melalui pembangunan laboratorium kembar (sister lab) di Indonesia yang berfokus pada pengembangan teknologi terkait gas alam. “Jadi sudah pernah saya sampaikan bahwa peraih Nobel Jepang ini kemudian membangun sister lab di Indonesia. Dan sister lab di Indonesia ini sekarang sedang mempersiapkan bagaimana menghasilkan gas alam dengan tekanan yang lebih rendah dengan menggunakan temuan dari hasil peraih Nobel itu,” tuturnya.






