Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diprediksi akan rentan melemah pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Penguatan yang terjadi pada penutupan perdagangan Jumat sore (28/8/2026) sebesar 51 poin atau 0,29% ke level Rp 17.693 per dolar AS, tampaknya tidak akan bertahan lama.
Direktur PT. Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan bahwa mata uang rupiah pada pekan depan akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, berada di kisaran Rp 17.690 hingga Rp 17.750 per dolar AS. Ia juga memperkirakan pergerakan rupiah pekan depan akan berada di rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.900 per dolar AS.
Penguatan rupiah menjelang akhir pekan lalu didukung oleh respons pasar yang positif terhadap pengumuman ditetapkannya Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia terpilih untuk periode 2026–2031. Namun, pergerakan rupiah pekan depan masih akan sangat dipengaruhi oleh penantian pasar terhadap data inflasi.
Ibrahim menjelaskan bahwa pelaku pasar cenderung menahan diri untuk tidak mengambil posisi agresif sebelum melihat angka inflasi resmi yang dijadwalkan rilis pekan depan. Data inflasi ini menjadi indikator krusial bagi Bank Sentral dalam menentukan arah kebijakan moneter dan suku bunga ke depan. Inflasi yang terkendali dapat membuka ruang bagi pelonggaran kebijakan, sementara inflasi yang tinggi akan memaksa suku bunga tetap ketat.
Dari sisi eksternal, rupiah masih berisiko terdampak sentimen negatif dari konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah, serta konflik Rusia-Ukraina di Eropa Timur. Selain itu, pasar global juga masih memantau sinyal baru kebijakan moneter dari Federal Reserve (The Fed).
Lebih lanjut, Ibrahim menambahkan bahwa pasar global menunjukkan kehati-hatian menjelang pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dijadwalkan pada Jumat. Pidato tersebut dipantau ketat untuk mencari sinyal mengenai inflasi dan mendapatkan petunjuk mengenai arah suku bunga AS.






