Putra Mahkota Haakon resmi bertakhta sebagai Raja Haakon VIII, menandai babak baru bagi Kerajaan Norwegia. Ia menggantikan sang ayah, Raja Harald V, yang wafat pada Jumat (28/8/2026) di usia 89 tahun. Dalam pidato penobatannya, Raja Haakon VIII mengadopsi semboyan bersejarah “All for Norway” (Semua untuk Norwegia), yang pernah diusung oleh kakek buyutnya.
Dengan penobatan ini, Ratu Mette-Marit kini menyandang gelar Ratu, sementara putri sulung mereka, Putri Ingrid Alexandra, secara resmi menjadi Putra Mahkota dan pewaris tahta berikutnya. Meski tugas konstitusional monarki Norwegia kini sebagian besar bersifat simbolis karena pemerintahan sepenuhnya dipegang oleh parlemen, Raja Haakon VIII dihadapkan pada tantangan domestik yang signifikan. Tugas utamanya adalah menstabilkan kembali institusi monarki dan mengembalikan kepercayaan publik yang merosot akibat rentetan skandal internal keluarga kerajaan.
Profil Raja Haakon VIII
Raja Haakon VIII bukan sosok asing dalam kepemimpinan Norwegia. Dalam beberapa tahun terakhir, ia telah berulang kali bertindak sebagai wali raja (regent) seiring menurunnya kondisi kesehatan sang ayah. Secara akademis, Haakon memiliki latar belakang pendidikan yang solid. Ia memegang gelar Sarjana Ilmu Politik dari University of California, Berkeley, serta gelar Magister Studi Pembangunan dari London School of Economics and Political Science (LSE) dengan spesialisasi perdagangan internasional dan Afrika.
Selain itu, ia merupakan lulusan Royal Norwegian Naval Academy 1995 dan pernah mengikuti program pelatihan diplomat di Kementerian Luar Negeri Norwegia. Di luar urusan kenegaraan, Haakon dikenal luas sebagai sosok yang berjiwa muda dan merakyat. Ia merupakan penggemar olahraga selancar dan ski, serta pencinta musik rock dan rap. “Jika saya tidak lahir di keluarga kerajaan, saya kemungkinan besar akan menjadi seorang peselancar,” ungkapnya dalam sebuah wawancara bersama stasiun televisi nasional NRK.
Pernikahan Penuh Kontroversi dan Ujian Reputasi
Kisah cinta Haakon dengan Mette-Marit Tjessem Høiby pada 1999 sempat memicu perdebatan sengit di Norwegia. Mette-Marit saat itu merupakan seorang janda beranak satu yang berlatar belakang masyarakat biasa. Kendati demikian, Haakon berhasil meyakinkan sang ayah dan publik Norwegia. Pasangan ini menikah pada Agustus 2001 di Katedral Oslo. Pendekatan mereka yang membumi namun tetap anggun sempat membuat popularitas pasangan ini melambung tinggi.
Namun, reputasi keluarga kerajaan kembali terpukul hebat belakangan ini. Kasus hukum anak tiri Raja Haakon, Marius Borg Høiby, yang divonis penjara atas kasus pemerkosaan, penganiayaan, dan tindak kekerasan dalam hubungan, menjadi pukulan telak. Ratu Mette-Marit juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf atas hubungannya di masa lalu dengan mendiang terpidana kejahatan seksual, Jeffrey Epstein, dan mengaku kurang bijak dalam mengambil keputusan.
Kondisi kesehatan Ratu Mette-Marit yang mengidap penyakit kronis pulmonary fibrosis sejak 2018 dan baru saja menjalani operasi transplantasi paru-paru pada Juni lalu, menambah daftar ujian bagi monarki. Kontroversi Putri Märtha Louise, kakak perempuan Haakon, yang mengundurkan diri dari tugas resmi kerajaan pada 2022 setelah menikah dengan Durek Verrett, seorang pria asal AS yang mengklaim dirinya sebagai dukun/penyembuh spiritual (shaman), semakin memperkeruh suasana.
Berdasarkan jajak pendapat yang dirilis surat kabar Dagbladet, dukungan publik Norwegia terhadap sistem monarki merosot ke angka 68%, turun signifikan dibanding hasil survei NRK pada 2017 yang saat itu mencapai 81%. Kini, tumpuan untuk memulihkan citra dan kepercayaan rakyat Norwegia berada di pundak Raja Haakon VIII.
Monarki Norwegia memiliki sejarah panjang yang mengakar sejak abad kesembilan pada era Raja Harald Fairhair. Setelah sempat berada di bawah kendali Uni Swedia, rakyat Norwegia memilih untuk merestorasi sistem monarki konstitusional melalui plebisit nasional pada 1905 dengan persetujuan mencapai 75%. Secara historis, garis suksesi tahta Norwegia menganut sistem primogenitur diutamakan laki-laki (male-preference cognatic primogeniture). Hal inilah yang menyebabkan Haakon, meskipun lahir dua tahun setelah kakaknya (Putri Märtha Louise), menjadi pewaris tahta utama saat kakeknya, Raja Olav, wafat pada 1991.
Konstitusi Norwegia baru diamandemen pada 1990 untuk memberlakukan sistem primogenitur mutlak (anak pertama tanpa memandang jenis kelamin), namun aturan ini tidak berlaku surut. Akibat amandemen tersebut, putri sulung Raja Haakon VIII, yaitu Putri Ingrid Alexandra, kini berada di urutan pertama garis suksesi untuk menjadi Ratu Norwegia di masa depan.






