JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menghadiri pertunjukan teater yang ditampilkan oleh Sekolah Seni Yonif berjudul ‘Putri Lopian, Bunga Belantara Dairi’. Momen tersebut membangkitkan kenangan Rano saat dirinya masih berusia remaja dan pertama kali tampil di panggung Taman Ismail Marzuki (TIM).
“Waktu saya melihat penampilan kalian, teringat sekali pada waktu itu, saat saya usia 13 tahun saya bermain di panggung ini. Saya mulai di film pada tahun 70, kira-kira umur saya 11 tahun,” ujar Rano di TIM, Jakarta Pusat, Minggu (30/8/2026).
Ia menceritakan bahwa ayahnya memintanya untuk berlatih teater saat ia masih remaja. Rano masih ingat betul pengalamannya bergabung dengan sebuah kelompok teater di TIM.
“Saya sudah bermain dalam beberapa film, tapi kemudian ayah saya meminta saya untuk latih teater. Saya dulu di tim ini ikut teater Kakyana. Nah, mungkin kalau bapak ibu tahu temen saya, kalau anak-anak mungkin gak tahu. Temen saya namanya Yesi Gusman. Nah, jadi dulu saya sama Yesi itu satu sanggar,” kenangnya.
Lebih lanjut, Rano menyampaikan keinginannya untuk menyelenggarakan gelaran teater yang dibawakan Sekolah Seni Yonif dalam rangka perayaan 500 tahun Jakarta. Ia mengusulkan agar para penampil membawakan cerita mengenai peristiwa yang terjadi pada tahun 1740.
“Kamu siapkan tahun depan teater begini, temanya Jakarta 500 tahun. Kamu bisa cari literasi, ada peristiwa. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1740. Itulah pertama kali genosida, saudara kita Cina, perang dengan Belanda, yang dibantu oleh pribumi. Itulah cikal bakal yang disebut ada yang namanya Kali Angke. Kali Angke itu kali yang penuh darah,” tuturnya.
Rano berjanji akan memberikan dukungan penuh dalam hal pembiayaan produksi untuk teater tersebut. Ia berharap kesenian teater di Jakarta dapat terus berkembang.
“Yang pasti nanti ibu Dewi dan Pemda DKI akan membantu pembiayaannya. Oke, sekali lagi selamat kepada kalian semua. Mudah-mudahan dunia teater, dunia drama di Jakarta ini meningkat,” imbuhnya.
Menurut Rano, aktivitas di TIM saat ini menunjukkan geliat yang positif. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pelaku seni dan warga yang berlatih kesenian di berbagai sudut TIM.
“Ini memang sudah menjadi atmosfer yang sangat dibutuhkan. Karena itulah barangkali, kemarin saya membahas khusus tentang bagaimana ada satu bangunan mangkrak. Yang ada di depan itu, itu kita akan mau memanfaatkan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan membangun sebuah bioskop di TIM. Rano menilai langkah ini sebagai upaya Pemprov untuk mendukung ekosistem perfilman di Jakarta.
“Nah itu nanti, artinya yang pasti kita harus ada bioskop di sini. Karena ini nanti menjadi ekosistem perfilman Jakarta. Karena ini seperti yang dilakukan oleh pusat. Di sini dulu pernah ada bioskop kan, tapi begitu ada revitalisasi, bioskopnya nggak sempat dibuat. Makanya kita harus punya bioskop,” pungkas Rano.






