Beranda / Berita / Nasional / Spicy Tomato Sukiyaki Gokuniku: Perpaduan Unik Cita Rasa Indonesia dan Jepang

Spicy Tomato Sukiyaki Gokuniku: Perpaduan Unik Cita Rasa Indonesia dan Jepang

Spicy Tomato Sukiyaki Gokuniku: Perpaduan Unik Cita Rasa Indonesia dan Jepang

Spicy Tomato Sukiyaki menjadi menu andalan di restoran Jepang Gokuniku, menawarkan perpaduan rasa manis, gurih, asam segar dari tomat, dan pedas dari cabai rawit yang diklaim membuat ketagihan.

Michael, CEO Gokuniku, menyatakan bahwa Spicy Tomato Sukiyaki dirancang sebagai identitas utama restoran tersebut. “Sebenarnya yang bikin beda itu spicy tomato sukiyaki-nya kita. Itu signature product-nya kita,” katanya.

Ia menjelaskan, sukiyaki umumnya bercita rasa manis dan gurih. Versi tomato spicy yang ditawarkan Gokuniku menambahkan rasa asam segar dan pedas dari cabai rawit. “Kalau tomato spicy ini, dia ada essence asam, asam segarnya. Ada cabai rawitnya juga. Nah, itu yang bikin beda sebenarnya,” tutur Michael.

Menurut Michael, rasa tersebut telah disesuaikan dengan lidah konsumen Indonesia tanpa menghilangkan karakter utama hidangan. Inspirasi menu ini datang dari pengalamannya mencicipi tomato sukiyaki di Singapura, di mana ia menyebut restoran Kuroya sebagai salah satu referensi pelopor.

Meskipun demikian, Michael menegaskan bahwa konsep tersebut dikembangkan sendiri untuk Gokuniku. Ia menambahkan bahwa hidangan serupa tidak umum ditemukan di Jepang. “Karena di Jepang sendiri pun enggak ada. Ada tapi dikit lah, enggak favorit,” katanya.

Pilihan Daging Berkualitas

Restoran ini juga menawarkan berbagai pilihan daging untuk menu shabu-shabu dan sukiyaki. Salah satunya adalah Togarashi, potongan daging dengan kandungan lemak lebih rendah yang cocok bagi konsumen yang tidak terlalu menyukai daging berlemak. “Togarashi itu bukan nama yang sembarang kasih ya. Itu bahasa Jepangnya Togarashi tuh ada, namanya tenderloin,” jelas Michael.

Selain Togarashi, tersedia pilihan Kata Rosu dan Ribeye. Untuk Ribeye premium, Gokuniku menggunakan daging impor dari Jepang, khususnya dari wilayah Miyazaki, Kagoshima, dan Hida. “Kalau itu yang fat-nya, yang sudah marbling-nya mungkin sudah tahu lah ya, yang cantik banget,” katanya.

Bagi konsumen yang mencari pilihan lebih terjangkau, Gokuniku menyediakan paket makan siang (lunch package) yang menggunakan daging Australia Black Angus. “Harga lunch package kita mulai dari Rp188 ribu, sudah dapat set seperti tadi,” ujarnya.

Pilihan set menu ditawarkan mulai dari kisaran Rp368 ribu hingga Rp388 ribu. Dalam satu set, konsumen mendapatkan sekitar 120 gram daging, sayuran, nasi, dan komponen pendamping lainnya. “Daging itu enggak banyak kok, 120 gram. Cukup buat satu orang makan lah, sama sayur sama nasi,” katanya.

Untuk pilihan premium, harga satu set bisa mencapai sekitar Rp1 juta. Michael menyatakan bahwa meskipun menawarkan pilihan daging premium, Gokuniku tetap berkomitmen memberikan pilihan yang lebih terjangkau, terutama pada jam makan siang.

Menargetkan Konsumen Lokal dengan Konsep Privat

Gokuniku hadir dengan konsep yang menggabungkan hidangan shabu-shabu dan sukiyaki dengan cita rasa yang disesuaikan dengan selera masyarakat Indonesia. Pemilihan Senopati sebagai lokasi outlet pertama didasarkan pada karakter pasar yang sesuai dengan konsep restoran.

“Kalau menurut saya lokasi cuma bisa di daerah Senopati atau di Menteng. Itu maka untuk outlet pertama saya pilih di Senopati,” ujar Michael.

Selain menu, Gokuniku mengandalkan konsep ruang privat sebagai daya tarik utama. Restoran ini memiliki sejumlah VIP room yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk berkumpul bersama keluarga, teman, atau pertemuan perusahaan. “Kita punya konsep lebih ingin VIP banyak, bisa karaoke. Terus kita di lantai empat juga ada ruangan besar untuk corporate meeting segala macam,” katanya.

Konsep ruang privat dipilih karena masyarakat Indonesia semakin menyukai pengalaman bersantap yang lebih eksklusif. “Karena sekarang orang-orang Indonesia suka banget sama private-private ruangan ini,” katanya.

Interior Gokuniku mengusung konsep modern Japanese. Terdapat sembilan VIP room dan satu ruangan besar di lantai empat yang dapat menampung sekitar 30 orang, seluruhnya dilengkapi fasilitas karaoke. Penggunaan ruang privat dikenakan minimum charge, mulai dari Rp2 juta untuk satu ruangan hingga Rp10 juta untuk ruangan besar di lantai empat.

Gokuniku tidak hanya menyasar ekspatriat atau warga Jepang, melainkan menargetkan konsumen lokal sebagai pasar utama. Michael memperkirakan komposisi pengunjung saat ini sekitar 80 persen konsumen lokal, 10 persen warga Jepang, dan 10 persen wisatawan.

“Lokalnya 80 persen, Jepang 10 persen, turisnya 10 persen,” ujarnya. Karena mayoritas pasar adalah konsumen lokal, karakter rasa spicy tomato sukiyaki pun dibuat agar lebih mudah diterima lidah Indonesia. “Kalau turis kayaknya kalau ke makan, ke Indonesia enggak makan Jepang ya,” katanya sambil tertawa.

Selain makanan, Gokuniku juga menyediakan minuman berupa koktail dengan konsep ala Jepang.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *