Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk memperhatikan kualitas dan keseimbangan asupan nutrisi anak, bukan semata-mata jumlah makanan yang dikonsumsi. Kekurangan zat gizi esensial, khususnya zat besi, dapat berdampak negatif pada pertumbuhan fisik, tingkat aktivitas, hingga kemampuan kognitif anak.
Dokter Spesialis Anak, Ria Yoanita, menjelaskan bahwa zat besi memegang peranan vital dalam pembentukan hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengantarkan oksigen ke seluruh jaringan tubuh, termasuk otak. Defisiensi zat besi yang berlangsung dalam jangka waktu lama berisiko memicu kondisi anemia defisiensi besi.
“Anemia perlu mendapat perhatian karena dapat memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Apabila berlangsung terus-menerus, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan, kondisi ini dapat menghambat kenaikan berat badan dan meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan,” ujar dr. Ria dalam sebuah kegiatan edukasi pada Kamis (27/08/2026).
Data yang dipaparkan dr. Ria pada tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada anak dan remaja Indonesia berusia 0–18 tahun berkisar antara 15% hingga 23%, tergantung pada kelompok usia. Ia menekankan bahwa persoalan nutrisi anak tidak hanya sebatas pada isu tengkes atau stunting, melainkan juga mencakup deteksi dan penanganan dini terhadap kekurangan zat besi dan anemia.
Pemeriksaan untuk mendeteksi defisiensi zat besi tidak harus menunggu hingga kadar hemoglobin menurun drastis. Deteksi dini dapat dilakukan untuk mengidentifikasi apakah cadangan zat besi anak mulai mengalami penurunan.
Perhatikan Kualitas Makanan Anak
Dr. Ria lebih lanjut menjelaskan bahwa banyaknya porsi makanan yang dihabiskan anak belum tentu menjamin kecukupan nutrisi. Seorang anak bisa saja menghabiskan satu hingga dua piring makanan, namun tetap berisiko kekurangan zat gizi tertentu jika komposisi makanannya tidak seimbang.
Asupan yang seimbang meliputi karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan zat besi, yang semuanya perlu diberikan sesuai dengan usia dan kebutuhan spesifik anak. Periode krusial dimulai sejak kehamilan hingga anak berusia dua tahun, yang merupakan masa penting untuk pembentukan dan perkembangan otak. Proses ini terus berlangsung pesat hingga anak menginjak usia lima tahun.
Kekurangan zat gizi makro dan mikro selama periode formatif ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang yang signifikan. Oleh karena itu, masalah pola makan, anemia, dan gangguan pertumbuhan perlu dikenali sejak dini. Selain nutrisi, tumbuh kembang anak juga dipengaruhi oleh stimulasi yang tepat, imunisasi, serta pola asuh yang baik. Orang tua dituntut untuk menerapkan aturan makan yang sesuai usia dan membangun kebiasaan makan yang positif secara bertahap.
Kebutuhan zat besi anak sebaiknya dipenuhi melalui makanan utuh atau real food. Sumber zat besi heme, yang lebih mudah diserap tubuh, dapat ditemukan pada bahan pangan hewani seperti daging merah, ikan, hati, telur, dan unggas. Sementara itu, zat besi nonheme terdapat dalam bahan pangan nabati seperti sayuran hijau dan kacang-kacangan, yang penyerapannya dapat dibantu dengan konsumsi makanan kaya vitamin C.
“Orang tua dapat memberikan pola makan seimbang yang mencakup daging merah, ikan, telur, dan sayuran hijau,” ujar dr. Ria.
Bagi anak yang memiliki kecenderungan sulit makan atau picky eater, pangan yang telah difortifikasi dapat dipertimbangkan sebagai pelengkap asupan. Namun, produk tersebut tidak dapat menggantikan makanan bergizi seimbang dan perlu dipilih berdasarkan usia serta kebutuhan anak.
Orang tua juga disarankan untuk membaca label nutrisi dengan cermat. Kandungan protein, vitamin, mineral, zat besi, kadar gula, serta persentase angka kecukupan gizi harian perlu diperiksa sebelum produk diberikan kepada anak.
“Pastikan produk tersebut memang dibutuhkan serta sesuai dengan usia dan kondisi anak,” tambah dr. Ria.
Peran Orang Tua dalam Pemenuhan Nutrisi
Dalam kegiatan edukasi tersebut, public figure Asmirandah membagikan pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan nutrisi buah hatinya. Ia menekankan pentingnya variasi dan keseimbangan gizi dalam menu harian.
“Sebagai ibu, saya percaya bahwa anak membutuhkan lebih dari sekadar kenyang. Mereka perlu nutrisi lengkap untuk mendukung tumbuh kembang, daya tahan tubuh, dan kemampuan belajarnya. Saya selalu berusaha menyiapkan menu harian yang beragam, namun saya juga memahami bahwa memenuhi kebutuhan nutrisi anak setiap hari tidak selalu mudah,” ungkapnya.
Menurut Asmirandah, setiap orang tua menghadapi tantangan yang berbeda dalam menyiapkan asupan harian. Langkah sederhana dapat dimulai dengan menyediakan makanan bergizi seimbang, membangun kebiasaan makan yang baik, dan membiasakan diri membaca label nutrisi pada produk pangan.
Yohanes David Setiawan, pemilik jaringan ritel Raja Susu, menambahkan bahwa akses terhadap produk nutrisi berkualitas perlu didukung oleh informasi yang memadai bagi keluarga untuk memahami kebutuhan gizi pada setiap tahap pertumbuhan anak. Jaringan ritel ini kini memiliki lebih dari 174 cabang.
“Kami percaya bahwa setiap orang tua berhak mendapatkan akses yang mudah terhadap produk nutrisi berkualitas, informasi yang terpercaya, serta pengalaman berbelanja yang membantu mereka memberikan yang terbaik bagi keluarga. Hari ini kami bangga dapat menjadi bagian dari perayaan 72 tahun Sarihusada melalui kegiatan edukasi dan aktivitas keluarga yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Edukasi Nutrisi Digelar di 17 Lokasi
Diskusi mengenai nutrisi anak ini merupakan bagian dari rangkaian edukasi yang diselenggarakan oleh PT Sarihusada Generasi Mahardhika bekerja sama dengan jaringan ritel Raja Susu. Kegiatan ini dilaksanakan di 17 lokasi di wilayah Jabodetabek.
Acara tersebut mencakup diskusi interaktif bersama tenaga kesehatan, permainan edukatif yang dirancang untuk ibu dan anak, serta berbagai aktivitas keluarga lainnya. Program ini diselenggarakan bertepatan dengan peringatan 72 tahun berdirinya Sarihusada.
Sales Director Danone Specialized Nutrition Indonesia, Rizki Imam Ardhi, menyatakan bahwa pemenuhan nutrisi anak memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak agar informasi dan akses terhadap pangan bergizi dapat menjangkau lebih banyak keluarga.
“Kolaborasi memiliki peran penting dalam membantu orang tua memahami dan memenuhi kebutuhan nutrisi anak setiap hari,” kata Rizki.
Sementara itu, General Secretary Director Danone Indonesia, Agung Laksamana, menuturkan bahwa kebutuhan gizi anak terus berkembang seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan perubahan kondisi masyarakat. Ia menambahkan, pengembangan produk nutrisi perlu berjalan seiring dengan edukasi agar orang tua memiliki informasi yang memadai dalam menentukan pilihan terbaik bagi anak.
Sarihusada didirikan pada tahun 1954, berawal dari pengembangan produk protein untuk membantu mengatasi persoalan gizi pasca-kemerdekaan Indonesia. Perusahaan mengklaim telah menjangkau lebih dari 75 juta anak selama 72 tahun beroperasi.






