Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan melanjutkan pelemahan terbatas pada perdagangan Senin, 31 Agustus 2026. Pelemahan ini sejalan dengan penutupan IHSG pada Jumat, 28 Agustus 2026, yang berakhir turun 3,63 poin atau 0,06% ke level 6.518.
Sektor keuangan menjadi sektor dengan kenaikan tertinggi sebesar 0,67%, sementara sektor perindustrian mengalami penurunan paling dalam sebesar 1,41%. Analisis teknikal dari Pilarmas Sekuritas menunjukkan IHSG berpotensi bergerak dalam rentang support 6.440 dan resistance 6.635.
Pemicu kekhawatiran pasar adalah potensi kenaikan suku bunga The Fed. Kevin Warsh, dalam pernyataannya, menyoroti bahwa tekanan inflasi belum melambat secara signifikan. Hal ini meningkatkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed jika inflasi tidak kembali ke target 2%.
Warsh menekankan bahwa The Fed akan menunggu data inflasi terbaru sebelum mengambil keputusan. Tanggal 11 September menjadi momen penting untuk memantau perkembangan inflasi inti yang diharapkan bergerak menuju target The Fed. Jika inflasi inti bergerak terlalu liar, The Fed mungkin perlu menaikkan suku bunga satu hingga dua kali menjelang akhir tahun.
Pilarmas Sekuritas memperkirakan kenaikan suku bunga The Fed akan membuat Presiden Trump murka, mengingat Trump menginginkan pemangkasan suku bunga. Keputusan The Fed akan sangat bergantung pada indeks US Personal Consumption.
Pidato Warsh telah memicu kenaikan imbal hasil obligasi US Treasury 2y lebih dari 0,1% menjadi 4,3%, sementara imbal hasil US Treasury 30y stabil di kisaran 5,2%. Hal ini mengindikasikan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga jangka pendek The Fed untuk mengendalikan inflasi.
Warsh mengingatkan bahwa stabilitas inflasi memerlukan kebijakan aktif dari The Fed, termasuk kemungkinan menaikkan suku bunga. Kekhawatiran ini tercermin dari pergerakan bursa saham Asia yang mayoritas mengalami pelemahan, menandakan kekhawatiran investor terhadap potensi suku bunga yang lebih tinggi.
Kondisi ini berpotensi membebani pergerakan IHSG dan pasar obligasi domestik. Namun, terdapat sentimen positif dari relaksasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA). Pilarmas Sekuritas menilai relaksasi ini memberikan ruang likuiditas yang lebih besar bagi eksportir tambang dengan penurunan kewajiban penempatan dari 100% selama 12 bulan menjadi 30% selama minimal 3 bulan.
Kebijakan relaksasi DHE SDA berpotensi membantu arus kas dan fleksibilitas pendanaan perusahaan tambang, yang berdampak positif bagi emiten yang termasuk dalam daftar penerima relaksasi. Namun, dari sisi makroekonomi, pengurangan porsi dan durasi penempatan DHE di dalam negeri perlu dicermati dampaknya terhadap pasokan valas domestik, stabilitas rupiah, dan likuiditas valas.
Meskipun ada potensi pelemahan IHSG, Pilarmas Investindo Sekuritas merekomendasikan saham EMAS, ENRG, dan BBNI untuk trading pada Senin, 31 Agustus 2026.






