Beranda / Market / AS Disebut Bidik Saham Minyak Venezuela di Tengah Perubahan Geopolitik

AS Disebut Bidik Saham Minyak Venezuela di Tengah Perubahan Geopolitik

AS Disebut Bidik Saham Minyak Venezuela di Tengah Perubahan Geopolitik

WASHINGTON – Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah dalam tahap negosiasi untuk mengakuisisi porsi saham yang signifikan di sektor minyak Venezuela. Laporan ini, yang mengutip dua pejabat AS dan diterbitkan oleh media Axios pada Jumat (28/8/2026), mengungkap adanya pembahasan intensif mengenai kesepakatan strategis ini bersama perwakilan pemerintah Venezuela.

Fokus utama dari negosiasi tersebut meliputi pengelolaan lebih dari selusin ladang minyak yang masih produktif. Area-area ini diperkirakan menyimpan sekitar 90 miliar barel minyak, berkontribusi pada total cadangan terbukti Venezuela yang mencapai 300 miliar barel.

Berdasarkan rancangan kesepakatan yang beredar, Venezuela berpotensi mendapatkan dorongan ekonomi yang berarti melalui pengembangan cadangan hidrokarbon yang akan digarap oleh perusahaan swasta. Langkah ini dinilai krusial untuk memulihkan dan memacu kembali pendapatan negara yang sempat terpuruk.

Laporan tersebut juga membeberkan bahwa Presiden AS Donald Trump telah mendiskusikan opsi kepemilikan saham di ladang minyak Venezuela secara tertutup. Pembahasan ini dikabarkan telah berlangsung bahkan sebelum aksi militer AS yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya, Cilia Flores, pada 3 Januari 2026.

Proses negosiasi utama disebut melibatkan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Penjabat Presiden Venezuela Delcy Rodríguez. Diskusi ini berlanjut hingga Juli 2026, di mana pejabat dari Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan AS mengadakan pertemuan langsung dengan pihak Venezuela untuk mematangkan rincian teknis kesepakatan.

Di bawah kepemimpinan Rodríguez, Amerika Serikat dan Venezuela sedang merumuskan agenda bilateral baru. Kerja sama ini direncanakan mencakup upaya bersama dalam pemberantasan perdagangan narkoba, pencairan dana aset Venezuela yang sempat dibekukan, mekanisme penjualan minyak, eksplorasi sektor pertambangan, hingga pembukaan kembali jalur dialog diplomatik resmi.

Venezuela, sebagai negara dengan cadangan minyak mentah terbesar di dunia, justru mengalami penurunan produksi yang drastis. Hal ini disebabkan oleh sanksi ekonomi dari negara-negara barat, keterbatasan investasi modal, serta kendala pengelolaan infrastruktur selama beberapa dekade terakhir.

Dinamika geopolitik di Caracas berubah secara tajam pasca-aksi militer AS pada 3 Januari 2026 yang mengakhiri kekuasaan Nicolás Maduro. Penjabat Presiden Delcy Rodríguez kemudian mengambil alih kepemimpinan dan mulai menggeser regulasi ekonomi nasional menuju keterbukaan investasi swasta serta pemulihan hubungan diplomatik dengan Washington.

Upaya akuisisi kepemilikan saham oleh AS ini mencerminkan langkah strategis pemerintahan Donald Trump untuk mengamankan rantai pasok energi global dan memperkuat pengaruh geopolitik AS di kawasan Hemisfer Barat. Bagi Venezuela, masuknya modal dan teknologi asing dianggap sebagai kunci utama untuk merenovasi infrastruktur kilang yang rusak serta memulihkan stabilitas perekonomian domestik.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *