PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) menjalin kerja sama strategis dengan Asian Development Bank (ADB) guna memperluas kapasitas pembiayaan perdagangan dan rantai pasok bagi para pelaku usaha di tanah air. Kemitraan ini dijalin melalui skema partisipasi risiko tanpa pendanaan langsung atau unfunded risk participation.
Dalam skema ini, ADB akan turut menanggung sebagian risiko dari portofolio pembiayaan perdagangan dan rantai pasok yang disalurkan oleh Bank SMBC Indonesia, sesuai dengan kesepakatan yang telah ditetapkan. Mekanisme pembagian risiko ini memberikan ruang bagi bank untuk meningkatkan kapasitas pembiayaannya tanpa perlu mengalihkan pengelolaan hubungan dengan nasabah kepada ADB. Selain itu, skema ini diharapkan dapat membantu bank dalam menjaga kualitas kredit seiring dengan perluasan portofolio.
Wakil Direktur Utama Bank SMBC Indonesia, Jun Saito, menyatakan bahwa pembiayaan perdagangan dan rantai pasok memiliki peran krusial dalam menghubungkan pelaku usaha, mendukung aktivitas komersial, serta memperkuat rantai nilai. “Kerja sama ini mencerminkan upaya kami untuk meningkatkan kapabilitas serta menyediakan solusi yang mendukung kebutuhan bisnis nasabah dalam ekosistem yang lebih luas,” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima, Kamis (27/08/2026).
Melalui kemitraan ini, Bank SMBC Indonesia tetap memegang kendali penuh atas seluruh proses transaksi. Ini mencakup penyaluran awal atau origination, administrasi, pengelolaan, hingga pemantauan pembiayaan. Bank juga bertanggung jawab penuh terhadap uji tuntas nasabah, pemenuhan ketentuan regulator, dan pemantauan portofolio secara berkelanjutan.
Kemitraan ini merupakan bagian integral dari program pembiayaan perdagangan dan rantai pasok ADB yang dirancang untuk mendorong lembaga keuangan memperluas pembiayaan bagi pelaku usaha yang bergerak di sektor perdagangan, melalui mekanisme pembagian risiko.
Bagi Bank SMBC Indonesia, kolaborasi dengan lembaga multilateral seperti ADB merupakan salah satu strategi kunci untuk memperkuat manajemen risiko sekaligus meningkatkan kapasitas pembiayaan di berbagai tahapan rantai nilai, mulai dari segmen korporasi hingga usaha mikro. Namun, realisasi perluasan pembiayaan ini tetap akan bergantung pada permintaan nasabah, kelayakan usaha, serta hasil penilaian risiko pada setiap transaksi yang berlangsung.
Kredit Korporasi dan Komersial Tumbuh 12,8%
Perluasan pembiayaan ini dilakukan seiring dengan catatan positif pertumbuhan penyaluran kredit Bank SMBC Indonesia pada segmen korporasi dan komersial. Hingga akhir Juni 2026, total kredit konsolidasi pada kedua segmen tersebut tercatat mencapai Rp116,5 triliun, menunjukkan peningkatan sebesar 12,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Di segmen lainnya, kredit yang disalurkan melalui layanan digital Jenius mengalami pertumbuhan tahunan sebesar 9,9%, mencapai Rp3,69 triliun. Sementara itu, pembiayaan yang disalurkan oleh BTPN Syariah meningkat 8,7% menjadi Rp11,03 triliun. Pembiayaan melalui anak usaha seperti OTO dan SOF juga mencatat kenaikan 5,8% secara tahunan, mencapai Rp31,89 triliun.
Saito menambahkan bahwa kemitraan dengan ADB diharapkan dapat membuka akses pembiayaan yang lebih luas bagi para pelaku usaha serta memperkuat ketahanan rantai pasok. Skema pembagian risiko ini juga akan mendukung bank dalam mengelola pertumbuhan kredit secara lebih terukur. “Kolaborasi ini makin memperkuat peran Bank SMBC Indonesia sebagai mitra keuangan tepercaya dalam mendukung aktivitas perdagangan dan rantai pasok di Indonesia. Sinergi ini diharapkan dapat memperluas akses pembiayaan bagi dunia usaha, meningkatkan ketahanan ekosistem perdagangan, serta berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya.






