Beranda / Bisnis / BI Tegaskan Perbankan Tak Tingkatkan Risiko Meski Kredit Tumbuh Pesat

BI Tegaskan Perbankan Tak Tingkatkan Risiko Meski Kredit Tumbuh Pesat

BI Tegaskan Perbankan Tak Tingkatkan Risiko Meski Kredit Tumbuh Pesat

JAKARTA – Bank Indonesia (BI) menyatakan belum melihat adanya indikasi perbankan mengambil risiko lebih besar, meskipun pertumbuhan kredit perbankan tercatat lebih tinggi dari target. BI menilai akselerasi kredit yang terjadi saat ini masih didukung oleh kapasitas perbankan dan risiko kredit yang relatif terkendali.

Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI Alexander Lubis menjelaskan, pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai sekitar 13,58% secara tahunan (year on year/yoy) hingga Juli 2026 tidak serta-merta menunjukkan bank mulai meningkatkan keberanian dalam mengambil risiko. “Oh enggak sih, kalau saya sih enggak melihat seperti itu. Lebih pada memang kapasitasnya (kredit) sudah bisa didorong lagi,” kata Alexander saat ditemui akhir pekan lalu.

Berdasarkan laporan keuangan bulanan, kredit tiga bank besar yang menjadi penopang pertumbuhan kredit industri perbankan menunjukkan lonjakan tinggi. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menyalurkan kredit secara bank only mencapai Rp1.595,85 triliun, tumbuh 19,4% (yoy) per Juli 2026. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan pertumbuhan tertinggi, 27,01% (yoy) dengan nilai kredit Rp969,94 triliun. Kedua bank pelat merah ini mencatat pertumbuhan kredit yang jauh lebih tinggi dari industri.

Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyalurkan kredit Rp1.000,88 triliun per Juli, tumbuh 8,38% (yoy). Secara total, ketiga bank tersebut telah menyalurkan kredit Rp3.566,67 triliun, meningkat 17,95% (yoy), masih lebih tinggi dari industri yang tumbuh 13,58% (yoy).

Meskipun pertumbuhan kredit bank besar tersebut cukup pesat, pencadangan atau impairment yang disiapkan juga mengalami peningkatan. BNI mengalokasikan impairment senilai Rp5,43 triliun, naik 33,09% (yoy). Bank Mandiri mencatatkan pertumbuhan impairment Rp4,79 triliun atau naik 19,75% (yoy). BCA menetapkan pencadangan di level yang flat seperti Juli 2025 yakni Rp1,91 triliun, namun meningkat dari periode sebelumnya.

Terkait hal tersebut, BI menegaskan bahwa pihaknya tidak melihat pertumbuhan kredit bank yang tinggi akibat bank berani mengambil risiko lebih. Menurut Alexander, risiko kredit perbankan saat ini masih terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang terkendali. Selain itu, sektor-sektor yang menjadi tujuan ekspansi kredit juga dinilai belum menunjukkan karakteristik risiko yang mengkhawatirkan. “Secara risiko kreditnya, NPL-nya juga enggak terlalu besar,” imbuh Alexander.

Basis Rendah

Alexander juga mengingatkan bahwa tingginya pertumbuhan kredit secara tahunan perlu dilihat dengan mempertimbangkan basis pertumbuhan pada tahun sebelumnya. Menurut dia, angka pertumbuhan kredit 13,58% tidak seluruhnya mencerminkan akselerasi agresif perbankan. “Pertumbuhan 13% lebih itu juga karena statistik tahun lalunya cukup rendah. Bukan karena dia terlalu tinggi, jadi karena basis tahun lalu rendah, terlihatnya jadi tinggi,” jelas dia.

Dengan demikian, BI menilai pertumbuhan kredit saat ini merupakan kombinasi antara ekspansi penyaluran kredit oleh bank dan efek basis rendah dari periode Juli 2025. Alexander menegaskan, BI belum menemukan indikasi bahwa bank menjadi lebih risk taker akibat dorongan kebijakan BI untuk meningkatkan intermediasi. “Kami belum melihat indikasi itu,” tutur dia.

Sebelumnya, BI memang terus mendorong perbankan meningkatkan penyaluran kredit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kredit perbankan hingga Juli 2026 tumbuh 13,6% (yoy), dengan kredit investasi menjadi salah satu motor utama pertumbuhan. Namun, BI tetap memantau kualitas ekspansi tersebut, terutama karena pertumbuhan kredit yang lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) berpotensi meningkatkan tekanan likuiditas pada sejumlah kelompok bank. Alexander mengatakan kondisi permodalan perbankan juga masih cukup kuat sehingga memberikan ruang bagi bank untuk meningkatkan intermediasi tanpa mengorbankan stabilitas.

Momentum Kinerja

Analis Stockbit Sekuritas menilai momentum kinerja BCA mulai berakselerasi memasuki paruh kedua 2026, di mana kredit mulai meningkat dengan NIM yang mulai membaik. “Hal ini relatif berbeda dengan Bank Mandiri (BMRI), yang kami nilai momentum pertumbuhan kuatnya telah terlihat pada 1H26 dan akan melandai pada 2H26,” tulis analis dalam risetnya.

Stockbit Sekuritas juga melihat potensi upside bagi fundamental kinerja perbankan dari kondisi likuiditas yang tidak seketat yang dikhawatirkan. Hal ini seiring tren outstanding dan yield SRBI yang mulai melandai, perpanjangan sebagian penempatan saldo anggaran lebih (SAL) oleh pemerintah, serta potensi portofolio inflow dari investor asing menyusul pengumuman RABPN 2027 yang lebih konservatif.

Sementara itu, Stockbit Sekuritas juga menilai kebutuhan pencadangan BNI akan melandai pada paruh kedua 2026, mengingat BNI telah membangun provisi yang konservatif selama semester I. “Kami menilai BBNI on track untuk mencapai estimasi laba bersih konsolidasi 2026 di level Rp21,1 triliun, bahkan kami melihat potensi BNI dapat melampaui proyeksi tersebut,” tulis Stockbit Sekuritas.

Terkait perbedaan kecepatan pertumbuhan laba dan kredit antara kelompok bank, Alexander menilai kondisi tersebut lebih mencerminkan strategi masing-masing bank dalam mengelola portofolio, bukan perbedaan tingkat risiko antara bank Himbara dan bank swasta nasional. Menurut dia, terdapat bank yang memilih mempertahankan pertumbuhan kredit pada level tertentu untuk menjaga risiko, sementara bank lainnya lebih agresif dalam melakukan ekspansi. “Lebih pada strategi korporasinya saja. Enggak melihat ada semacam dikotomi antara Himbara atau bank swasta nasional,” ujarnya.

Dia mencontohkan sebagian bank swasta nasional memilih mempertahankan ekspansi kredit pada level yang lebih moderat dengan tetap menjaga risiko. Dengan strategi tersebut, BI menilai perbedaan pertumbuhan kredit antarkelompok bank tidak otomatis menunjukkan adanya masalah dalam pengelolaan risiko. “Mereka lebih baik maintain kreditnya segitu-segitu saja. Tapi ya mereka bisa jaga risikonya, daripada dia terlalu kencang,” tandas dia.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *