Kemudahan layanan buy now, pay later (BNPL) atau paylater memungkinkan masyarakat berbelanja barang dan membayarnya secara mencicil. Namun, sebelum memanfaatkan fasilitas ini, konsumen dinilai perlu memiliki kemampuan penting, yakni “tahu diri” terhadap kondisi keuangannya.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Juni 2026, layanan paylater di perbankan mencatat baki debet kredit sebesar Rp 30,7 triliun, tumbuh 33,54% year on year (yoy) dengan 32,77 juta rekening BNPL. Sementara itu, layanan paylater dari perusahaan pembiayaan mencapai Rp 13,40 triliun atau meningkat 57,02% yoy, dengan rasio non-performing financing (NPF) sebesar 3,09%.
Perencana keuangan, Andhika Diskartes, mengatakan bahwa penggunaan paylater seharusnya disesuaikan dengan kemampuan seseorang dalam memenuhi kewajiban pembayaran. Kemudahan mendapatkan barang jangan sampai membuat konsumen mengambil beban utang di luar kapasitas finansial.
“Sebetulnya kalian lumayan punya wisdom, sudah punya level wisdom yang lumayan ngerti: Tahu diri. Karena orang yang tidak tahu diri, dia akan makan sebanyak apa pun yang dia kasih,” ujar Andhika dalam sebuah talkshow, seperti ditukil pada Minggu (30/8/2026).
Menurut dia, prinsip tersebut dapat diterapkan dalam penggunaan utang jenis apa pun. Seseorang perlu mengetahui batas kemampuan finansialnya sebelum memutuskan mengambil cicilan. “Penting untuk kita bisa makan sesuatu yang bisa kita makan saja. Kadang-kadang paylater itu kita makan di luar kemampuan yang bisa kita makan. Jatuhnya kita sakit sendiri,” katanya.
Andhika menjelaskan, masalah dalam penggunaan paylater bukan semata-mata terletak pada fasilitas pembiayaannya. Persoalan muncul ketika seseorang tidak menghitung kemampuan pembayaran sebelum melakukan transaksi. Skema pembayaran yang dibagi ke dalam sejumlah cicilan dapat terlihat ringan, namun kemampuan membayar tetap menjadi pertimbangan utama.
Ia menekankan pentingnya bertanya pada diri sendiri apakah cicilan tersebut benar-benar sanggup dibayar hingga lunas. “Kira-kira kalau pakai paylater, kira-kira saya kuat bayarnya? Kalau tidak, ya sudah tidak usah,” tegasnya.
Prinsip tersebut perlu ditanamkan sejak seseorang mulai mengenal produk keuangan. Kemudahan akses kredit tanpa kemampuan mengelola kewajiban dapat membawa seseorang masuk ke pusaran utang. “Jangan sentuh utang kalau gak ngerti cara bayarnya,” ujar Andhika.
Andhika juga meminta masyarakat tidak mudah menganggap seluruh barang yang ingin dibeli sebagai kebutuhan. Kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi bagian penting dari pengelolaan keuangan. Ia mencontohkan pembelian laptop baru untuk kuliah meskipun yang lama masih berfungsi, atau membeli ponsel baru untuk membuat konten padahal perangkat lama masih dapat digunakan. Keputusan seperti itu perlu dievaluasi sebelum dibiayai cicilan.
“Kadang-kadang kita beranggapan bahwa ini kebutuhan yang mendesak untuk gue nugas. Tapi sebetulnya itu konsumtif karena memang masih bisa dipakai,” katanya. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menggunakan paylater hanya karena pembayaran bulanannya terlihat kecil.
Cicilan Kecil Bukan Berarti Murah
Andhika menerangkan, mekanisme cicilan dapat mengubah persepsi terhadap harga barang. Barang senilai Rp 5 juta yang dicicil 10 kali sebesar Rp 500 ribu per bulan dapat terasa lebih terjangkau. Padahal, nilai barang yang dibeli tetap Rp 5 juta.
Perubahan nominal yang terlihat setiap bulan dapat membuat konsumen merasa memiliki kemampuan membeli lebih besar daripada kondisi sebenarnya. “Ketika ada mekanisme dicicil, let’s say 10 kali, jadinya Rp500 ribu. Jadinya berasa kecil,” ujar Andhika.
Kondisi ini berkaitan dengan accounting bias, di mana seseorang lebih mudah memperhatikan angka cicilan dibandingkan total nilai transaksi. Oleh karena itu, “tahu diri” dalam menggunakan paylater berarti tidak hanya melihat apakah cicilan bulan ini ringan, tetapi juga menghitung seluruh kewajiban yang sudah dimiliki serta kemampuan pendapatan untuk membayarnya.
Andhika menegaskan, siapa pun yang sudah memiliki utang harus bertanggung jawab menyelesaikannya, baik kepada penyedia paylater maupun pihak lain. “Kalau kamu punya pinjaman, baik itu ke paylater atau ke orang lain, kamu harus selesaikan,” katanya.
Pembayaran kewajiban sebaiknya dilakukan sebelum jatuh tempo. Kebiasaan membayar utang tepat waktu penting karena menunjukkan tanggung jawab seseorang dalam mengelola keuangan. “Kalau tanggal 10 jatuh tempo, selesaikan sebelumnya,” ujar Andhika.
Ia menilai persoalan utang tidak semata-mata berkaitan dengan kemungkinan pengaruhnya terhadap akses kredit di masa depan, melainkan membentuk reputasi seseorang. “Reputasi kamu sebagai orang muda itu adalah hal yang paling mahal yang akan dimiliki,” katanya.
Andhika turut mengingatkan generasi muda agar tidak menggunakan utang untuk mengejar standar gaya hidup di media sosial. Perkembangan digital membuat masyarakat mudah terpapar berbagai gaya hidup dan terdorong untuk memilikinya. Dorongan ini berbahaya jika seseorang memaksakan diri membeli barang yang tidak diperlukan atau tidak sesuai kemampuan finansial.
“Di era sekarang ketika orang harus pamer kekayaan sekian, itu sangat berbahaya ketika kita mengejar itu dengan utang. Karena rasional sudah tidak jalan,” ujar Andhika.
Seseorang tidak perlu memperbesar hal-hal yang sebenarnya tidak memengaruhi kualitas hidup. Bagi mahasiswa, kebutuhan utama tetap berkaitan dengan makan, tidur, belajar, dan menjaga kualitas berpikir. “Ketika quality of life kita masih terjaga, berarti itu belum ada kewajiban untuk menggunakan,” katanya.
Andhika menambahkan, kemampuan mengatakan “tidak” terhadap keinginan membeli sesuatu merupakan bagian penting dari kesehatan finansial. Paylater boleh menjadi pilihan, tetapi pengguna harus terlebih dahulu memahami batas kemampuan dirinya.






