Harga emas dunia diprediksi akan menghadapi pekan yang krusial. Hal ini menyusul koreksi tajam yang terjadi pada perdagangan Jumat (28/8/2026), dipicu oleh pidato Ketua The Fed Kevin Warsh yang bernada hawkish.
Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, harga emas spot tercatat anjlok 3,18% dan berakhir di level US$ 4.455,02 per ons troi. Penurunan ini menjadi ujian penting bagi tren kenaikan emas yang sebelumnya sangat kuat.
Senior Strategist Forex.com James Stanley menilai, pasar kini tengah mencermati respons para pembeli setelah koreksi harga yang signifikan tersebut. Ia menyoroti level US$ 4.500 per ons troi sebagai batas krusial yang akan menentukan arah pergerakan emas pada pekan ini.
Menurut Stanley, jika harga mampu bertahan dan kembali menguat di atas level US$ 4.500, hal ini dapat menjadi sinyal bahwa tren bullish emas masih memiliki daya tahan. Sebaliknya, kegagalan untuk mempertahankan area tersebut akan meningkatkan risiko terjadinya koreksi lebih dalam.
“Pertanyaannya adalah apakah bulls akan merespons sekarang setelah tren yang lebih luas mengalami pullback,” ujar Stanley dalam risetnya, Minggu (30/8/2026).
Ia menjelaskan bahwa level US$ 4.500 per ons troi awalnya dapat berfungsi sebagai resistance yang membentuk pola lower high. Namun, jika pembeli berhasil mempertahankan harga di atas level tersebut, US$ 4.500 per ons troi justru dapat menjadi penanda kekuatan emas untuk melanjutkan tren kenaikannya.
Fundamental Masih Menopang Emas
Meskipun tekanan meningkat akibat sikap hawkish The Fed, Stanley menekankan bahwa faktor fundamental yang mendukung emas belum hilang. Prospek penghematan anggaran dan potensi penurunan belanja pemerintah masih menjadi faktor pendukung yang signifikan bagi harga emas.
“Karena itu, koreksi tajam pada Jumat belum otomatis menandakan berakhirnya tren kenaikan emas,” tegasnya.
Stanley juga mengamati bahwa sikap hawkish Warsh kali ini masih menyisakan pertanyaan, mengingat kemiripannya dengan dua penampilan pertama Warsh dalam rapat FOMC. Pada kedua kesempatan tersebut, Warsh sebenarnya memiliki peluang untuk mendorong kenaikan suku bunga meskipun inflasi lebih tinggi dari saat ini, namun keputusan tersebut tidak diambil.
Dengan demikian, Stanley berpendapat bahwa sikap hawkish Warsh pada saat ini belum tentu secara fundamental akan mengubah prospek emas secara keseluruhan.






