IHSG Rontok 39% & Asing Net Sell Hampir Rp 125 T, Investor Ritel Perlu Beli/Jual?

Author Image

Dacia Nashana Belinda

-

gegeronline.co.id

Terbit

28 Oktober 2026, 17:52 WIB

IHSG Rontok 39% & Asing Net Sell Hampir Rp 125 T, Investor Ritel Perlu Beli/Jual?
IHSG Rontok 39% & Asing Net Sell Hampir Rp 125 T, Investor Ritel Perlu Beli/Jual?
SUMBER PILIHAN GEGERONLINE.CO.ID

Akses Berita & Informasi Terupdate Lebih Cepat

Jadikan gegeronline.co.id sebagai sumber utama di Google Search & AI Overviews agar tidak tertinggal update.

Geger Online – 28 Oktober 2026 | Pasar modal Indonesia tengah berada dalam fase tekanan yang cukup berat, memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku pasar mengenai prospek investasi jangka pendek. Situasi pasar yang tidak menentu ini sering memunculkan pertanyaan krusial: IHSG rontok 39% & asing net sell hampir Rp 125 T, investor ritel perlu beli/jual? [titlebase]. Kondisi ini mencerminkan sentimen negatif yang sedang mendominasi pergerakan indeks, memaksa investor untuk lebih selektif dalam menata portofolio mereka di tengah volatilitas yang tinggi.

Pada penutupan perdagangan Senin (26/10), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan dengan pelemahan sebesar 1,22% atau 66,16 poin, yang membawa indeks ke level 5.373. Kondisi ini memperparah tren penurunan yang telah terjadi, di mana narasi mengenai IHSG rontok 39% & asing net sell hampir Rp 125 T, investor ritel perlu beli/jual? [titlebase] semakin sering diperbincangkan oleh para pengamat keuangan. Pelemahan ini terjadi secara merata di seluruh sektor, dengan sektor energi menjadi salah satu yang paling terdampak oleh aksi jual investor.

Di tengah tekanan indeks, pasar justru dihebohkan dengan adanya transaksi crossing jumbo pada saham Grup Bakrie. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mencatatkan transaksi crossing senilai Rp 1,31 triliun dengan harga rata-rata Rp 431 per saham. Tidak ketinggalan, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) juga mengalami transaksi serupa dengan nilai mencapai Rp 155,7 miliar. Meski ada perputaran dana besar, performa harga saham-saham tersebut tetap tertekan, dengan BRMS turun 1,39% dan ENRG anjlok 6,82%.

Data perdagangan menunjukkan volume transaksi yang cukup masif, mencapai 36,91 miliar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,8 juta kali. Kapitalisasi pasar kini berada di angka Rp 9.474 triliun. Secara keseluruhan, sebanyak 520 saham ditutup di zona merah, sementara hanya 161 saham yang mampu mencatatkan kenaikan. Tekanan juga terlihat pada saham-saham energi lainnya, seperti PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang merosot 5,60%, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang turun 4,52%, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) yang terkoreksi 5,49%.

Melihat kondisi di mana IHSG rontok 39% & asing net sell hampir Rp 125 T, investor ritel perlu beli/jual? [titlebase], strategi wait and see tampaknya menjadi pilihan paling bijak. Bagi investor ritel, sangat disarankan untuk memperhatikan fundamental perusahaan sebelum memutuskan untuk melakukan akumulasi beli di tengah harga yang diskon. Jangan terburu-buru menangkap pisau jatuh tanpa analisis teknikal dan fundamental yang matang, mengingat tekanan jual dari investor asing yang masif masih menjadi beban berat bagi indeks domestik.

Kunci menghadapi kondisi pasar saat ini adalah manajemen risiko yang ketat. Diversifikasi aset dan tidak menggunakan dana darurat untuk investasi adalah langkah krusial. Meskipun banyak saham yang terlihat murah, pastikan untuk selalu memantau perkembangan makroekonomi global yang turut mempengaruhi pergerakan dana asing di pasar modal Indonesia. Pada akhirnya, keputusan untuk membeli atau menjual harus didasarkan pada tujuan investasi jangka panjang Anda dan bukan semata-mata karena kepanikan pasar yang sedang terjadi.

PARTNER NETWORK
Bangun Media & Aset Digital Lebih Cepat
Domain premium, website berita, optimasi publisher & solusi digital.

Related Post

Terbaru