JAKARTA – Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi primadona bagi investor asing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam sepekan terakhir. Tercatat, investor asing melakukan pembelian bersih (net buy) saham BMRI senilai Rp 580 miliar pada periode 24-28 Agustus 2026. Pembelian ini mayoritas terjadi di pasar reguler.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, angka net buy asing untuk BMRI menjadi yang terbesar dibandingkan saham lainnya. Di posisi kedua, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan net buy asing sebesar Rp 386,5 miliar, diikuti oleh PT Timah Tbk (TINS) dengan net buy Rp 82,1 miliar.
Secara keseluruhan, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 279,2 miliar di seluruh pasar BEI pada pekan tersebut. Angka ini melanjutkan tren positif dari pekan sebelumnya yang mencapai Rp 2,2 triliun.
Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), saham BMRI menguat 0,95% ke level Rp 4.250. Dalam sepekan, saham bank pelat merah ini naik 0,7%, dan dalam sebulan terangkat 2,1%. Namun, secara year-to-date (ytd), BMRI masih mencatat pelemahan sebesar 16,6%.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham BMRI dengan target harga Rp 6.200. Target ini didasarkan pada pendekatan inverse cost of equity (inverse CoE) lima tahun sebesar 11,6% dan asumsi pertumbuhan jangka panjang (long-term growth/LTG) 3%. Target harga tersebut mencerminkan rasio harga terhadap nilai buku pada nilai wajar (fair value price to book value/FV PBV) sebesar 1,8 kali.
Sementara itu, Kiwoom Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli dengan target harga 12 bulan ke depan di Rp 5.400. Pada target tersebut, BMRI diperkirakan diperdagangkan pada P/BV proyeksi 2026 sebesar 1,5 kali, yang berada di atas level P/BV satu standar deviasi di bawah rata-rata tiga tahun (1,35 kali).
Kiwoom Sekuritas menilai fundamental inti BMRI tetap solid meskipun menghadapi tekanan net interest margin (NIM). Kinerja laba, pertumbuhan kredit, pendapatan non-bunga, dan kualitas aset menjadi pilar utama yang menopang prospek perseroan.






