Beranda / Berita / Nasional / Kolaborasi Unik Napi Korupsi dan Pidana Umum di Lapas Sukamiskin Lahirkan “Sukaboat”

Kolaborasi Unik Napi Korupsi dan Pidana Umum di Lapas Sukamiskin Lahirkan “Sukaboat”

Kolaborasi Unik Napi Korupsi dan Pidana Umum di Lapas Sukamiskin Lahirkan "Sukaboat"

BANDUNG – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, yang identik dengan narapidana (napi) kasus korupsi, kini menjadi saksi kolaborasi unik. Narapidana kasus korupsi dan pidana umum bersinergi dalam program bimbingan kerja pembuatan kapal cepat atau speedboat yang diberi merek “Sukaboat”.

Dalam program inovatif ini, narapidana kasus korupsi mengambil peran di sisi manajerial produksi, memanfaatkan latar belakang keahlian mereka dalam manajemen dan desain. Sementara itu, narapidana kasus pidana umum, seperti kasus narkoba dan kejahatan jalanan, mengerjakan aspek teknis pembuatan kapal.

“Dalam pembuatan kapal ini narapidana kasus korupsi yang mempunyai basic manajemen, inovasi dan keahlian di bidang kapal serta desain akhirnya melebur dengan narapidana umum seperti kasus narkoba dan kejahatan jalanan,” ujar Kalapas Sukamiskin Nanang Syamsuddin saat ditemui di Lapas Sukamiskin.

Nanang mengaku sempat ragu akan keberhasilan program kegiatan kerja di Lapas Sukamiskin saat pertama kali menjabat. Keraguan itu muncul karena mayoritas penghuni adalah napi kasus korupsi yang sebelumnya kerap menduduki posisi manajerial di instansi pemerintahan.

“Ini adalah lapas untuk narapidana korupsi. Tentunya imej yang ada di benak saya, tidak ada program yang jalan karena ini adalah kaum intelektual,” tutur Nanang.

Ia menambahkan, kegiatan kerja di lapas umumnya identik dengan pekerjaan lapangan yang membutuhkan keterlibatan fisik langsung. Hal ini menjadi tantangan tersendiri mengingat banyak napi korupsi yang terbiasa bekerja di balik meja.

“Rata-rata program kerjanya itu adalah skala kerja lapangan. Nah, di situ yang tumbuh di benak saya bahwa ini akan sulit berjalan karena mereka kan dulu sebelum masuk sini pejabat atau pimpinan instansi/lembaga yang biasa di manajerial. Ini adalah hal sulit karena kita berpikirnya, oh, kerja lapangan,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, pendekatan yang berbeda mulai diterapkan. Pihak lapas menyadari bahwa kapasitas, pengetahuan, dan pengalaman napi koruptor dapat diarahkan untuk mengembangkan program pembinaan di dalam lapas.

“Seiring berjalannya waktu ternyata memang kita menemukan nilai yang berbeda. Keberadaan mereka di sini tentunya kita harus sesuaikan dengan kapasitas mereka yang latar belakang kasus korupsi. Kalau kita paksakan mereka kerja lapangan tentunya tidak maksimal,” kata Nanang.

Narapidana dengan pengalaman profesional dan manajerial didorong untuk menyumbangkan gagasan serta kemampuan mereka. Salah satu hasil nyata dari dorongan ini adalah terciptanya “Sukaboat”.

“Akhirnya kita dorong adalah pemikiran-pemikiran jenius atau pengalaman mereka untuk membantu mengembangkan program pengembangan warga binaan di dalam lapas,” sambung Nanang.

Kegiatan pembuatan speedboat kini menjadi salah satu program kerja unggulan Lapas Sukamiskin. Saat ini, Lapas Sukamiskin tercatat sebagai satu-satunya lapas di Indonesia yang memiliki program bimbingan kerja pembuatan speedboat .

“Ini sudah ada praktik positifnya, yaitu pengembangan pembuatan kapal cepat atau speedboat . Di Indonesia setahu saya hanya di Sukamiskin saat ini. Dulu pernah ada di Porong, namun kala itu tidak berlanjut. Di sini justru program kerja pembuatan kapal menjadi ‘nilai jual’ atau unggulan kami,” ungkap Nanang.

Produk “Sukaboat” pun mulai mendapatkan respons positif dari pasar. “Alhamdulillahnya minat pasar sudah ada. Ada yang membeli produk kita bahkan lebih dari 20 unit,” ujarnya.

Lapas Sukamiskin memiliki kapasitas 560 penghuni. Hingga 19 Agustus, tercatat ada 429 warga binaan yang menghuni lapas tersebut. Dari jumlah tersebut, 290 orang merupakan narapidana perkara korupsi, sementara sisanya berasal dari berbagai perkara pidana umum.

Nanang melihat perbedaan latar belakang napi tidak hanya menjadi persoalan dalam menentukan jenis pembinaan, tetapi juga dapat dimanfaatkan dengan pembagian peran sesuai kemampuan masing-masing. Hal ini juga mendukung program ketahanan pangan nasional.

Pengembangan “Sukaboat” diarahkan untuk menjangkau sektor perikanan, sejalan dengan konsep ekonomi biru yang menjadi target Presiden.

“Kalau melihat kembali Asta Cita Bapak Presiden, sektor ketahanan pangan itu bukan hanya pertanian saja. Tapi ada ekonomi biru yang menjadi target Presiden. Nah, pengembangan produk kapal di sini juga menjadi pendukung dari capaian terhadap ekonomi biru, karena ada produk kapal nelayan yang nanti kita akan salurkan ke daerah-daerah ekonomi biru,” jelas Nanang.

Meskipun Lapas Sukamiskin berlokasi di pusat Kota Bandung yang jauh dari laut, dua lokasi mirip hanggar telah difungsikan sebagai galangan speedboat . Para napi dilatih dalam berbagai tahapan proses pembuatan kapal, mulai dari pencetakan, pengamplasan, pengelasan, pembesian, hingga finishing badan speedboat .

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *