Beranda / Ekonomi / Pejabat The Fed: Inflasi Sulit Turun, Peluang Kenaikan Bunga Terbuka Lebar

Pejabat The Fed: Inflasi Sulit Turun, Peluang Kenaikan Bunga Terbuka Lebar

Pejabat The Fed: Inflasi Sulit Turun, Peluang Kenaikan Bunga Terbuka Lebar

JAKARTA – Beberapa pejabat Federal Reserve (The Fed) kembali memberikan peringatan mengenai inflasi Amerika Serikat yang masih persisten dan belum menunjukkan pergerakan signifikan menuju target 2%. Peringatan ini disampaikan di tengah simposium ekonomi tahunan The Fed Kansas City di Jackson Hole, Wyoming.

Presiden The Fed Kansas City, Jeffrey Schmid, menyatakan bahwa inflasi masih sulit untuk diturunkan. Ia menekankan perlunya bank sentral untuk terus mencari langkah-langkah guna mengendalikan tekanan harga. “Inflasi masih persisten dan kita harus terus mencari cara untuk membawanya kembali ke 2%,” ujarnya kepada CNBC.

Schmid menilai bahwa suku bunga kebijakan yang berlaku saat ini belum cukup membatasi kegiatan ekonomi. The Fed sendiri telah mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75% dalam pertemuan terakhirnya pada 28–29 Juli. “Saya tidak tahu apa yang saat ini kita batasi dengan tingkat suku bunga yang berlaku,” tambahnya.

Meskipun sebelumnya mendukung kenaikan suku bunga untuk membantu pengendalian inflasi, Schmid belum memastikan sikapnya menjelang pertemuan kebijakan The Fed pada 15–16 September. Ia masih menunggu data tambahan dan perlu memahami lebih jauh kekuatan permintaan yang mendorong pertumbuhan ekonomi serta inflasi.

Kredibilitas The Fed Dipertaruhkan

Senada dengan Schmid, Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, juga menilai bank sentral perlu bertindak untuk mengendalikan tekanan harga. “Saya tidak ingin mendahului keputusan apa pun, tetapi saya percaya sekarang saatnya untuk bertindak,” ungkapnya, seperti dikutip Reuters.

Hammack, yang merupakan satu dari tiga pejabat The Fed yang berbeda pendapat dalam pertemuan Juli dan memilih mendukung kenaikan suku bunga, berpendapat bahwa inflasi telah berada di atas target selama lebih dari lima tahun, sementara kebijakan moneter saat ini belum cukup menahan perekonomian. Ia mengkhawatirkan kredibilitas bank sentral dapat menurun jika inflasi yang tinggi berlangsung lama, yang berisiko menanamkan pola pikir inflasioner dalam perekonomian.

Hammack memprediksi inflasi berada di sekitar 3% pada akhir 2026 dan baru turun ke kisaran pertengahan 2% pada tahun berikutnya. Ia juga menilai pasar tenaga kerja AS dalam kondisi seimbang, sehingga tekanan inflasi menjadi persoalan utama yang harus dihadapi The Fed.

Tarif dan Harga Energi Jadi Risiko

Presiden The Fed Chicago, Austan Goolsbee, menyoroti inflasi yang belum terkendali sebagai kekhawatiran terbesarnya dalam jangka pendek. “Semua orang harus waspada. Jika inflasi kembali meningkat, akan sangat sulit untuk menurunkannya,” ucapnya dalam siniar Rapid Response.

Goolsbee mengemukakan bahwa kenaikan biaya energi akibat perang di Iran serta perubahan kebijakan tarif pemerintahan Presiden Donald Trump dapat menambah tekanan terhadap rumah tangga. Kondisi ini berisiko membuat masyarakat berasumsi bahwa inflasi di atas target akan bertahan lebih lama.

Meski demikian, Goolsbee mengakui tren inflasi selama tiga bulan terakhir tidak terlalu buruk. Ia menyatakan suku bunga dapat diturunkan secara bertahap apabila data menunjukkan inflasi bergerak kembali menuju target 2%. Ia juga menyarankan pelaku industri yang sensitif terhadap suku bunga untuk lebih memperhatikan data ekonomi daripada perkiraan pasar mengenai arah kebijakan moneter.

Sementara itu, Presiden The Fed Boston, Susan Collins, melihat data inflasi terbaru memberikan gambaran yang beragam. Namun, skenario utamanya masih memperkirakan penurunan inflasi secara bertahap dengan kebijakan moneter yang sedikit membatasi perekonomian.

Pasar Menunggu Pidato Kevin Warsh

Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang merupakan indikator inflasi utama The Fed, naik 3,7% secara tahunan hingga Juli, angka yang sama dengan Juni namun turun dari 4,1% pada Mei. Data ini memicu penilaian berbeda di kalangan ekonom, dengan sebagian melihatnya sebagai alasan untuk menaikkan suku bunga pada September, sementara yang lain melihat peluang kenaikan di akhir tahun.

Pasar berjangka memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga dalam pertemuan September, namun peluang kenaikan sebelum akhir 2026 tetap dinilai besar. Perhatian pasar kini tertuju pada pidato Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole, yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter, meskipun ia dikenal enggan memberikan panduan tegas.

Sejumlah pejabat The Fed dalam beberapa pekan terakhir telah menyatakan dukungan atau keterbukaan terhadap kenaikan suku bunga. Goolsbee juga mengingatkan risiko tekanan politik terhadap independensi The Fed, mencontohkan pengalaman di negara lain di mana inflasi melonjak kembali ketika pemerintah mencampuri keputusan kebijakan moneter.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *