JAKARTA – Pemerintah Kota Pekanbaru mengumumkan bahwa kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayahnya kini semakin terkendali. Pihak berwenang melaporkan bahwa tidak ada lagi titik api yang terdeteksi di Kota Pekanbaru.
Membaiknya kualitas udara pascahujan memungkinkan aktivitas belajar mengajar di sekolah kembali berjalan normal. Anak-anak kini dapat kembali mengikuti pembelajaran tatap muka di kelas, setelah sebelumnya metode pembelajaran daring diterapkan untuk melindungi kesehatan siswa dari dampak kabut asap.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menyatakan bahwa kondisi positif ini adalah hasil kolaborasi dari seluruh unsur pemerintah, Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), petugas pemadam kebakaran, relawan, dan masyarakat yang secara aktif menjaga lingkungan.
“Alhamdulillah, titik api di Pekanbaru saat ini sudah nol. Ini hasil kerja keras semua pihak dan doa masyarakat. Namun, kita tidak boleh lengah. Kesiapsiagaan harus tetap dijaga,” ujar Agung.
Ia menekankan bahwa keputusan untuk mengembalikan pembelajaran tatap muka diambil dengan prinsip kehati-hatian, dengan selalu memprioritaskan keselamatan anak-anak. “Ketika kondisi udara tidak aman, kita mengambil langkah cepat agar anak-anak terlindungi. Ketika kondisi membaik, sekolah kembali dibuka. Keselamatan dan kesehatan anak-anak tetap menjadi prioritas utama,” tegasnya.
Pemerintah Kota Pekanbaru menyampaikan apresiasi kepada para orang tua, guru, tenaga kesehatan, serta seluruh masyarakat atas kesabaran mereka selama masa penanganan kabut asap. Masyarakat juga diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan potensi kebakaran melalui layanan gratis TRC 112 Pekanbaru AMAN.
Semangat gotong royong ini menjadi bagian dari gerakan Pekanbaru Lestari, yang bertujuan membangun kota yang hijau, sehat, tangguh, dan nyaman bagi seluruh warga serta generasi mendatang.






