Upaya peningkatan rendemen minyak sawit mentah (CPO) dapat dimulai dari proses budi daya di kebun, terutama pada tahapan panen dan pascapanen. Ketepatan kriteria matang panen, teknik memanen, penanganan tandan buah segar (TBS), hingga pengangkutan menjadi kunci utama dalam menjaga mutu dan menekan kehilangan hasil usaha tani sawit. Oleh karena itu, para pekebun dituntut untuk menguasai dan mumpuni dalam penerapan teknis panen dan pascapanen di lahan yang mereka kelola.
Rendemen sawit nasional, yang merupakan persentase CPO yang dihasilkan dari setiap kilogram TBS yang diolah, rata-rata berkisar 16-23%. Angka ini umumnya lebih rendah pada perkebunan sawit rakyat atau swadaya dibandingkan dengan perkebunan besar milik perusahaan.
Kepala Bagian Usaha Hulu Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Fandi Hidayat, menekankan bahwa produktivitas sawit tidak semata-mata ditentukan oleh luas lahan. Kemampuan pekebun dalam mengelola tanaman dan mempertahankan hasil hingga sampai ke pabrik kelapa sawit (PKS) juga memegang peran penting. Pekebun perlu memahami berbagai tahapan krusial, mulai dari penentuan kriteria matang panen, penggunaan teknik panen yang tepat, penanganan TBS dan brondolan, hingga memastikan hasil segera diangkut.
“Penerapan teknik panen dan pascapanen yang tepat menjadi salah satu cara untuk menggali potensi produksi yang sebenarnya sudah tersedia di lahan pekebun,” ujar Fandi saat membuka Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 di Palembang, Sumatra Selatan, pada 24 Agustus 2026. Pelatihan yang berlangsung hingga 29 Agustus 2026 ini diikuti oleh 111 pekebun dari Kabupaten Musi Rawas dan Muara Enim.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, serta Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, Kabupaten Musi Rawas, dan Kabupaten Muara Enim. Pusat Penelitian Kelapa Sawit sendiri merupakan bagian dari PT RPN.
Pesan utama yang ditekankan dalam pelatihan adalah bahwa rendemen sawit tidak hanya ditentukan di pabrik, tetapi dimulai dari kebun. Kualitas TBS sudah lebih dulu ditentukan sebelum masuk ke PKS. Buah yang dipanen terlalu muda, terlambat ditangani, mengalami kerusakan, atau terlalu lama menunggu untuk diangkut berisiko menurunkan mutu TBS dan meningkatkan kehilangan hasil, yang pada akhirnya dapat mengurangi nilai ekonomi bagi pekebun.
Oleh karena itu, panen dan pascapanen bukan sekadar pekerjaan memetik buah. Setiap tahapan merupakan bagian penting untuk mempertahankan potensi produksi dan rendemen yang telah tersedia di kebun. Pelatihan teknis panen dan pascapanen bagi para pekebun sawit menjadi elemen krusial dalam upaya peningkatan rendemen.
“Pelatihan penting terutama dalam hal kita menggali potensi produksi yang ada di lahan bapak dan ibu sekalian. Ilmu yang diperoleh pada kegiatan pelatihan ini dapat diterapkan, diimplementasikan ketika nanti bapak dan ibu sudah kembali ke tempat (kebun) masing-masing,” ujar Fandi dalam keterangan yang dikutip pada Sabtu (29/08/2026).
Tularkan Pengetahuan
Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel, Herlan Kagami, menjelaskan bahwa manfaat pelatihan teknis panen dan pascapanen sawit diharapkan tidak berhenti pada 111 peserta. Peserta diharapkan dapat menjadi penggerak yang membawa pengetahuan tersebut ke lingkungan pekebun lainnya.
“Ilmu tak berhenti di peserta. Harapan kami adalah bapak ibu semua setelah mengikuti apa yang kita kerjakan selama beberapa hari ke depan nantinya akan memberi bekal kepada bapak ibu dan pada akhirnya bisa menulari kepada masyarakat di sekitar kita,” ujar Herlan.
Pelatihan ini diikuti oleh 111 pekebun, yang terdiri dari 51 peserta dari Musi Rawas dan 60 peserta dari Muara Enim. Peserta dibagi dalam empat batch, yaitu angkatan 4 dan 5 untuk Musi Rawas, serta angkatan 10 dan 11 untuk Muara Enim. Melalui pelatihan ini, para pekebun diperkuat dengan pengetahuan dan keterampilan untuk mengelola panen serta pascapanen secara lebih tepat.
Tujuan utama pelatihan ini bukan hanya untuk mengurangi kehilangan hasil, tetapi juga menjaga kualitas TBS agar tetap optimal ketika sampai di pabrik. TBS yang dipanen pada tingkat kematangan yang tepat, ditangani dengan baik, dan segera diangkut memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan mutunya.
Pembelajaran bagi para pekebun sawit tidak berhenti di ruang kelas. Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan juga dilengkapi dengan kunjungan lapangan yang dilaksanakan pada 27 Agustus 2026 ke PT Bina Sawit Makmur dan PT Minanga Ogan. Kunjungan ini memberikan kesempatan bagi pekebun untuk melihat langsung penerapan pengelolaan panen dan pascapanen sawit di lapangan, serta menghubungkan materi pelatihan dengan praktik nyata.
Peserta dapat mempraktikkan penerapan kriteria matang panen, penanganan TBS dan brondolan, hingga pengangkutan hasil menuju pabrik. Pengalaman ini menjadi pembelajaran penting bahwa menjaga mutu TBS tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga ketepatan dalam menerapkannya pada setiap tahapan. Dengan demikian, teknik panen dan pascapanen sawit yang diperoleh pekebun selama pelatihan diharapkan dapat diterapkan kembali di kebun masing-masing guna menekan kehilangan hasil sekaligus mempertahankan kualitas TBS, terutama dalam meningkatkan rendemen.






