JAKARTA – Imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) diproyeksikan belum akan memasuki tren penurunan secara agresif hingga 2027. Kendati level yield saat ini mulai menarik untuk diakumulasi, kebutuhan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang meningkat berpotensi menahan laju penguatan harga obligasi pemerintah.
Ekonom Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan bahwa pasar SUN hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 cenderung bergerak sideways dengan bias penurunan yield yang terbatas. Menurut dia, yield SUN tenor 10 tahun yang telah turun dari sekitar 7,3%-7,4% pada Juli menjadi sekitar 6,96%-7,03% pada akhir Agustus memang menunjukkan perbaikan. Namun, penurunan tersebut belum cukup kuat untuk menjadi indikasi dimulainya reli panjang pada pasar surat utang pemerintah.
“Menurut saya, belum didukung fondasi yang cukup kuat untuk mendorong rally lebih jauh tanpa syarat,” kata Yusuf kepada Investor Daily, Minggu (30/8/2026).
Dia menjelaskan, dari sisi domestik, kondisi ekonomi Indonesia masih memberikan ruang bagi pasar SUN. Inflasi Juli 2026 tercatat 2,88%, dengan inflasi inti 2,76%, sementara pertumbuhan ekonomi triwulan II-2026 mencapai 5,29%. Kondisi tersebut memberikan ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan kebijakan moneter yang relatif akomodatif apabila stabilitas nilai tukar memungkinkan.
Namun, sejumlah faktor eksternal masih menjadi penghambat. Rupiah yang berada di kisaran Rp 17.740-Rp 17.760 per dolar AS dan yield US Treasury tenor 10 tahun sekitar 4,67%-4,73% membuat investor tetap meminta premi risiko ketika masuk ke pasar surat utang Indonesia.
Di sisi lain, tekanan dari dalam negeri datang dari kebutuhan pembiayaan pemerintah. Dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027, kebutuhan penerbitan SBN neto diproyeksikan meningkat menjadi sekitar Rp 780 triliun. “Dengan kondisi tersebut, saya melihat yield SUN 10 tahun masih berada dalam kisaran 6,70%-7,20% hingga awal 2027,” ujar Yusuf.
Menurut dia, asumsi rata-rata yield SUN 10 tahun sebesar 6,9% yang digunakan pemerintah dalam RAPBN 2027 masih realistis. Namun, angka tersebut harus dipahami sebagai asumsi rata-rata untuk penyusunan anggaran, bukan berarti yield pasar akan bertahan tepat di level 6,9% sepanjang tahun.
Layak Dikoleksi
Meski ruang penurunan yield terbatas, Yusuf menilai level yield SUN 10 tahun di sekitar 6,96%-7% sudah cukup menarik bagi investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap. Pasalnya, spread terhadap BI-Rate masih sekitar 120 basis poin. Selain itu, tingkat real yield terhadap inflasi juga masih relatif tinggi sehingga memberikan daya tarik bagi investor yang mengincar pendapatan tetap.
“Pada yield sekitar 6,96%-7%, menurut saya SUN 10 tahun sudah cukup menarik untuk mulai diakumulasi secara bertahap,” jelasnya.
Namun demikian, Yusuf mengingatkan investor tidak serta-merta menganggap level tersebut sebagai titik awal penurunan yield secara tajam. Secara struktural, SUN Indonesia masih memiliki spread sekitar 220-230 basis poin terhadap US Treasury. Artinya, investor global masih memasukkan kompensasi atas risiko nilai tukar dan risiko pasar negara berkembang dalam penentuan harga SUN.
Jika rupiah mampu bergerak menuju Rp 17.500 per dolar AS dan yield US Treasury tidak kembali naik dari kisaran 4,70%, yield SUN 10 tahun berpeluang turun ke kisaran 6,80%-6,90%. Sebaliknya, apabila dolar AS kembali menguat dan yield Treasury meningkat, tekanan terhadap SUN dapat kembali terjadi.
“Karena itu, saya lebih nyaman menyebut level yield saat ini sebagai titik masuk yang wajar untuk akumulasi, bukan sebagai dasar untuk mengharapkan penurunan yield 50 sampai 80 basis poin dalam waktu singkat,” tutur Yusuf.
Asing Mulai Kembali?
Daya tarik SUN juga mulai mendapatkan dukungan dari investor asing. Kepemilikan nonresiden disebut telah mencapai sekitar 13% atau Rp 909 triliun per 20 Agustus 2026. Meski demikian, porsi tersebut masih jauh di bawah posisi sebelum pandemi. Dengan demikian, kembalinya investor asing belum dapat dianggap sebagai arus masuk besar yang secara otomatis akan mendorong reli harga SUN. Basis investor domestik, terutama perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun, masih menjadi penopang penting pasar SBN.
“Investor asing memang mulai kembali, tetapi porsinya masih jauh di bawah periode sebelum pandemi,” katanya.
Sementara itu, perhatian pasar dalam waktu dekat akan tertuju pada lelang SUN yang dijadwalkan berlangsung Selasa, 1 September 2026. Yusuf memperkirakan penawaran yang masuk (incoming bids) masih relatif kuat sepanjang tidak terjadi kejutan pada rupiah maupun yield US Treasury menjelang lelang. Optimisme tersebut mengacu pada kinerja lelang sebelumnya. Pada lelang 4 Agustus 2026, pemerintah menyerap Rp 32 triliun dari total penawaran yang masuk sebesar Rp 70,7 triliun. Kemudian, pada lelang 18 Agustus 2026, total penawaran meningkat menjadi sekitar Rp 85 triliun. Partisipasi investor asing juga mulai terlihat lebih besar.
Menurut Yusuf, permintaan dari perbankan, perusahaan asuransi, dan dana pensiun masih menjadi fondasi utama penyerapan SBN. Sementara itu, investor asing mulai kembali setelah melakukan repricing pada Mei dan Juni. Dia mengingatkan bahwa tingginya penawaran dalam lelang belum tentu berarti pemerintah harus menyerap seluruhnya. Jika yield yang diminta investor terlalu tinggi, pemerintah memiliki ruang untuk menahan penyerapan.
“Indikator yang lebih penting adalah bid to cover dan tingkat yield yang diminta investor,” ujarnya.
Untuk tenor, Yusuf melihat tenor 5 tahun dan 10 tahun sebagai bagian kurva yang paling menarik karena memberikan keseimbangan antara carry dan risiko durasi. Di pasar sekunder, yield SUN 5 tahun berada di sekitar 6,85%, sedangkan tenor 10 tahun sekitar 6,96%-7,03%. Dalam lelang, investor biasanya meminta premi sekitar 5-15 basis poin dibandingkan level pasar sekunder. Dengan asumsi kondisi pasar relatif stabil, Yusuf memperkirakan weighted average yield (WAY) lelang berada di sekitar 6,88%-6,98% untuk tenor lima tahun. Sementara untuk tenor 10 tahun, WAY diperkirakan berada di kisaran 7,00%-7,12%.
Arah Yield Tahun 2027
Lebih jauh, Yusuf menyebut terdapat lima faktor utama yang akan menentukan arah yield SUN hingga 2027, yakni pergerakan US Treasury, rupiah, arus modal asing, kebutuhan pembiayaan APBN, dan kebijakan BI. Dari kelima faktor tersebut, pergerakan US Treasury dan rupiah menjadi faktor yang paling cepat memengaruhi harga SBN karena langsung mengubah persepsi risiko investor. Arus modal asing menjadi faktor pendukung, tetapi bukan satu-satunya penentu mengingat basis investor domestik Indonesia masih relatif kuat.
Dari sisi fiskal, target defisit APBN 2027 yang lebih rendah, sekitar 2,4% terhadap produk domestik bruto (PDB), menjadi sentimen positif. Namun, peningkatan penerbitan SBN neto tetap menciptakan tekanan dari sisi pasokan. Sementara dari sisi moneter, ruang penurunan yield juga masih terbatas selama BI mempertahankan suku bunga di level 5,75% untuk menjaga stabilitas rupiah.
Jika inflasi tetap terkendali di bawah 3% dan rupiah semakin stabil, pasar akan memiliki alasan yang lebih kuat untuk memperkirakan adanya pelonggaran moneter pada 2027. Dalam skenario tersebut, tren penurunan yield SUN akan menjadi lebih meyakinkan.
“Strategi yang menurut saya lebih rasional adalah akumulasi ketika yield kembali mendekati 7%, bukan bertaruh bahwa yield akan turun secara lurus dari level sekarang,” pungkas Yusuf.






