Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan pergerakan positif dengan mencatatkan pembelian bersih (net buy) oleh investor asing senilai Rp 322,56 miliar pada perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026. Fenomena ini berbanding terbalik dengan kondisi sehari sebelumnya, di mana saham BBCA justru mencatat jual bersih (net sell) asing sebesar Rp 34,11 miliar.
Pembelian signifikan oleh investor asing ini bertepatan dengan momen cum date dividen perseroan di pasar reguler dan negosiasi. Pada penutupan perdagangan Jumat, harga saham BBCA melonjak 1,17% ke level Rp 6.475.
Sementara itu, Senin, 1 September 2026, menjadi tanggal ex date dividen BBCA di pasar reguler dan negosiasi. Investor yang membeli saham pada tanggal ex date tidak lagi berhak menerima dividen yang dibagikan.
Secara mingguan, periode 24-28 Agustus 2026, saham BBCA kembali berhasil menyerap net buy asing sebesar Rp 386,5 miliar. Tren positif ini menandakan bahwa dalam lima pekan terakhir, saham emiten yang terafiliasi dengan Grup Djarum ini secara konsisten membukukan net buy asing setiap pekannya.
Lebih lanjut, dalam rentang dua bulan terakhir, yaitu Juli dan Agustus 2026, saham BBCA juga mencatat net buy asing masing-masing sebesar Rp 1,37 triliun dan Rp 1,16 triliun. Capaian ini berbeda drastis dari tujuh bulan sebelumnya, di mana saham BCA selalu mengalami net sell asing setiap bulannya.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) siap membagikan dividen interim kedua untuk tahun buku 2026 sebesar Rp 3,07 triliun atau Rp 25 per saham. Keputusan ini telah disetujui oleh dewan komisaris berdasarkan hasil rapat direksi pada 19 Agustus 2026.
Daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen akan ditetapkan pada 1 September pukul 16.00 WIB, dengan pembayaran dividen dijadwalkan pada 16 September 2026.
Prospek PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang 2026 diperkirakan tetap sesuai proyeksi, terutama setelah membukukan laba yang solid pada Juli. KB Valbury Sekuritas mematok target harga yang optimis untuk saham BBCA.
Analis KB Valbury Sekuritas, Akhmad Nurcahyadi, menyatakan bahwa laba bersih BCA pada Juli 2026 mengalami peningkatan 12,2% secara bulanan (mom) menjadi Rp 5,06 triliun. Pencapaian ini menjadikan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk (profit after tax and minority interest/PATMI) selama tujuh bulan pertama 2026 mencapai Rp 35,25 triliun.
Realisasi laba emiten berkode saham BBCA ini secara umum masih sejalan dengan proyeksi KB Valbury dan konsensus pasar. “Pencapaian tujuh bulan pada 2026 masing-masing telah memenuhi 58,6% dan 57,3% dari estimasi setahun penuh,” tulis Akhmad dalam risetnya, dikutip Minggu (30/8/2026).
Dari sisi intermediasi, total kredit BBCA tumbuh 8,4% secara tahunan (yoy), angka ini masih berada dalam rentang panduan perseroan untuk 2026 sebesar 8%-10% yoy. Total dana pihak ketiga (DPK), yang merupakan dana yang dihimpun bank dari nasabah, juga meningkat 8,2% yoy. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh giro yang naik 16,8% yoy, sementara deposito berjangka mengalami penurunan 5% yoy.
“Margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tercatat sebesar 5,43%. Angka tersebut masih berada dalam kisaran ekspektasi NIM tahun 2026 sebesar 5,4%-5,6%,” jelas Akhmad.
Ia juga menilai kualitas aset BBCA tetap terjaga dengan return on equity (RoE) yang masih berada di atas asumsi dasar valuasi KB Valbury untuk 2026.
KB Valbury memperkirakan PATMI BBCA (bank only) pada kuartal III-2026 akan mencapai Rp 14,78 triliun, diproyeksikan tumbuh 2,8% yoy. Dengan proyeksi tersebut, PATMI selama sembilan bulan pada 2026 diperkirakan mencapai Rp 44,32 triliun atau naik 2,1% yoy.
Potensi Kenaikan Harga BBCA 46%
Kinerja solid ini menjadi salah satu dasar KB Valbury mempertahankan pandangan positif terhadap prospek fundamental BCA. Selain pertumbuhan laba, kemampuan bank dalam menjaga margin dan kualitas aset di tengah dinamika pasar juga menjadi perhatian.
KB Valbury Sekuritas merekomendasikan ‘buy’ untuk saham BBCA dengan target harga yang dipatok tinggi sebesar Rp 9.480. Angka ini mengindikasikan potensi kenaikan harga saham hingga 46%.
Target harga tersebut mencerminkan valuasi price to book (P/B) sebesar 3,8 kali untuk proyeksi tahun 2026. Saat ini, saham BBCA diperdagangkan pada estimasi valuasi P/B 2026 sebesar 2,6 kali.
KB Valbury menilai kepercayaan pasar saat ini memang sedang menurun. Namun, kondisi valuasi tersebut membuka peluang terjadinya re-rating atau penilaian ulang valuasi saham, apabila katalis positif mulai terealisasi.
Beberapa katalis positif yang dapat mendukung saham BBCA di antaranya adalah pertumbuhan kredit dan imbal hasil kredit yang lebih tinggi dari perkiraan, sehingga berpotensi memperkuat NIM. Faktor lainnya adalah cost of credit (CoC) yang berpotensi lebih rendah dari perkiraan, terutama jika kebutuhan pembentukan pencadangan tetap terbatas dan kualitas aset terus membaik.
Perbaikan sentimen pasar domestik dan global juga menjadi katalis lain yang diperhitungkan.
Meskipun demikian, KB Valbury mencatat sejumlah risiko yang dapat menekan proyeksi BBCA. Risiko tersebut antara lain jika pertumbuhan kredit dan penyesuaian imbal hasil kredit lebih rendah dari perkiraan. Biaya pendanaan serta CoC yang lebih tinggi dari estimasi juga berpotensi menekan kinerja BCA. Selain itu, penurunan NIM yang lebih dalam dari perkiraan menjadi faktor risiko lainnya.
KB Valbury juga mencermati potensi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebagai salah satu risiko terhadap proyeksi BCA (BBCA).






