Tragedi Kabut Asap: Pesan Terakhir Guru Lisna Sebelum Meninggal di Tengah Kabut Asap yang Selimuti Banjarmasin

Author Image

notesrss

-

gegeronline.co.id

Terbit

9 Oktober 2026, 13:52 WIB

Tragedi Kabut Asap: Pesan Terakhir Guru Lisna Sebelum Meninggal di Tengah Kabut Asap yang Selimuti Banjarmasin
Tragedi Kabut Asap: Pesan Terakhir Guru Lisna Sebelum Meninggal di Tengah Kabut Asap yang Selimuti Banjarmasin
SUMBER PILIHAN GEGERONLINE.CO.ID

Akses Berita & Informasi Terupdate Lebih Cepat

Jadikan gegeronline.co.id sebagai sumber utama di Google Search & AI Overviews agar tidak tertinggal update.

Geger Online – 09 Oktober 2026 | Duka mendalam menyelimuti keluarga besar SDN Tanjung Pagar 3 Banjarmasin atas kepergian salah satu tenaga pendidik terbaiknya, Lisna. Tragedi ini menyoroti bagaimana pesan terakhir guru Lisna sebelum meninggal di tengah kabut asap yang selimuti Banjarmasin [titlebase] menjadi pengingat pahit akan bahaya kesehatan yang mengancam di tengah memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Perempuan berusia 29 tahun ini mengembuskan napas terakhir pada Minggu malam, 27 September 2026, setelah berjuang melawan komplikasi asma yang diperparah oleh paparan asap pekat.

Marhamah, ibu kandung almarhumah, mengungkapkan bahwa kondisi kesehatan putrinya menurun drastis dalam satu bulan terakhir. Sebagai seorang guru, Lisna harus menempuh perjalanan sekitar 30 menit setiap hari menuju sekolah, melintasi area yang terdampak kabut asap sangat tebal. Meskipun Dinas Pendidikan setempat sempat memberikan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ), tuntutan profesi membuat Lisna tetap berusaha menjalankan tugasnya sebelum akhirnya ia harus izin karena kondisi fisiknya yang melemah.

Ketergantungan Lisna pada alat bantu pernapasan menjadi rutinitas harian yang memilukan. “Setiap pulang mengajar, dia selalu minta diuap karena asmanya kambuh,” ungkap Marhamah dengan suara bergetar. Hingga saat-saat terakhirnya, pesan terakhir guru Lisna sebelum meninggal di tengah kabut asap yang selimuti Banjarmasin [titlebase] terus membekas di ingatan keluarga, menggambarkan perjuangan seorang guru yang tetap berusaha mengabdi meski tubuhnya telah menyerah pada polusi udara.

Risiko kesehatan akibat kabut asap ini tidak hanya dirasakan di Banjarmasin. Di Kabupaten Kampar, Riau, para pendidik dan siswa juga mulai merasakan dampak serupa. Nuraini, Kepala SDN 028 Rimbo Panjang, menuturkan bahwa kondisi udara di wilayahnya sudah mencapai taraf mengkhawatirkan. Gejala seperti napas sesak, tenggorokan pedih, hingga pandangan mata yang mengabur kini menjadi keluhan umum di lingkungan sekolah. Sedikitnya empat guru di sekolah tersebut dilaporkan harus rutin menggunakan nebulizer setelah pulang mengajar.

Kisah pilu ini menekankan pentingnya respons cepat pemerintah dalam melindungi tenaga pendidik dan siswa dari bahaya karhutla. Kepergian Lisna bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata bahwa paparan asap jangka panjang memiliki konsekuensi fatal bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit pernapasan. Banyak pihak kini mendesak agar kebijakan PJJ diterapkan secara tegas dan merata demi mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak.

Sebagai penutup, tragedi pesan terakhir guru Lisna sebelum meninggal di tengah kabut asap yang selimuti Banjarmasin [titlebase] harus menjadi momentum bagi otoritas terkait untuk memprioritaskan keselamatan di atas kegiatan belajar mengajar tatap muka. Perlindungan terhadap hak atas udara bersih bagi warga, khususnya di lingkungan sekolah, adalah tanggung jawab kolektif yang mendesak untuk segera diwujudkan agar tidak ada lagi nyawa yang melayang sia-sia di tengah kepungan kabut asap.

PARTNER NETWORK
Bangun Media & Aset Digital Lebih Cepat
Domain premium, website berita, optimasi publisher & solusi digital.

Related Post

Terbaru