Beranda / Bisnis / Transformasi TBS Energi: Bisnis Non-Batu Bara Jadi Tulang Punggung Pendapatan

Transformasi TBS Energi: Bisnis Non-Batu Bara Jadi Tulang Punggung Pendapatan

Transformasi TBS Energi: Bisnis Non-Batu Bara Jadi Tulang Punggung Pendapatan

Transformasi PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) mulai menunjukkan hasil signifikan. Bisnis di luar sektor batu bara kini menjadi penopang utama pendapatan dan profitabilitas perseroan, menggeser dominasi komoditas tersebut dalam portofolio bisnis.

Sepanjang semester I-2026, segmen pengelolaan limbah dan ekosistem kendaraan listrik menyumbang 66,5% dari total pendapatan konsolidasi TBS. Angka ini jauh melampaui kontribusi bisnis batu bara yang hanya sebesar 31,4%.

Pergeseran komposisi bisnis ini menjadi sinyal penting bagi investor, terutama karena terjadi setelah TBS sepenuhnya keluar dari bisnis pembangkit listrik tenaga batu bara dan memangkas aktivitas perdagangan batu bara sekitar dua pertiga secara tahunan.

Direktur dan Chief Financial Officer TBS Energi Utama, Juli Oktarina, menyatakan bahwa perubahan ini menunjukkan realisasi transformasi perseroan menuju bisnis infrastruktur berkelanjutan. “Tahun lalu batu bara masih jadi penyumbang utama pendapatan kami. Hari ini bisnis non-batu bara kami dua kali lipat lebih besar, dan bisnis inilah yang menghasilkan kas. Inilah transisi yang kami janjikan,” ujar Juli dalam keterangan tertulis, Jumat (28/8/2026).

Menariknya, transformasi portofolio ini tidak serta-merta membuat pendapatan konsolidasi anjlok. Pendapatan perseroan relatif stabil di angka US$ 173 juta pada semester I-2026.

Namun, dari sisi profitabilitas, terjadi perubahan yang sangat signifikan. Laba kotor TBS melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 28,2 juta, dibandingkan dengan US$ 13,9 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama didorong oleh penurunan beban pokok pendapatan sebesar US$ 13,5 juta.

Alhasil, margin laba kotor melonjak drastis dari 8,1% menjadi 16,3%. EBITDA konsolidasi juga tercatat tumbuh 23,7%. Dengan demikian, TBS mampu menghasilkan laba yang lebih besar meskipun basis aset perseroan turun 3,6% secara tahunan.

Kinerja tersebut sekaligus menunjukkan bahwa strategi mengurangi ketergantungan terhadap batu bara mulai mengubah kualitas pendapatan TBS. Pendapatan kini beralih dari bisnis yang sangat terpapar siklus komoditas menjadi bisnis dengan pendapatan yang lebih berulang.

Segmen Pengelolaan Limbah sebagai Mesin Pertumbuhan

Segmen pengelolaan limbah menjadi motor utama dalam transformasi TBS. Pendapatan dari segmen ini melonjak 77,8% menjadi US$ 105,9 juta, dari sebelumnya US$ 59,6 juta pada semester I-2025. Kontribusinya terhadap pendapatan konsolidasi mencapai 61,2%.

Lebih penting lagi, segmen pengelolaan limbah menyumbang sekitar 92% dari total EBITDA konsolidasi TBS. Laba kotor segmen ini meningkat 91,9% menjadi US$ 17,6 juta, dari US$ 9,2 juta. Margin laba kotor pun mengalami kenaikan menjadi 16,6% dari 15,4%.

Sementara itu, EBITDA segmen melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 23,6 juta. Kinerja positif ini ditopang oleh aktivitas pengelolaan limbah di sejumlah wilayah operasional. Cora Environment di Singapura mengelola sekitar 752.000 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik 86%. Asia Medical Enviro Services mengelola sekitar 2.100 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik 90%. Di Indonesia, ARAH Environmental mengelola sekitar 5.800 ton limbah dengan tingkat ketersediaan pabrik mencapai 84%.

Besarnya kontribusi segmen ini menjadi salah satu aspek paling penting dari transformasi TBS. Bisnis pengelolaan limbah memberikan karakter pendapatan yang relatif berulang dan tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi harga komoditas seperti batu bara.

Ekosistem Kendaraan Listrik Mulai Menghasilkan

Selain limbah, ekosistem kendaraan listrik juga menunjukkan perkembangan yang pesat. Pendapatan dari segmen Electrum melonjak 184% menjadi US$ 9,1 juta pada semester I-2026, hampir tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tidak hanya pendapatan, profitabilitas segmen ini juga mulai berbalik positif. Laba kotor Electrum mencapai US$ 0,4 juta, berbanding terbalik dengan rugi US$ 0,5 juta pada semester I-2025. EBITDA segmen juga berbalik positif menjadi US$ 0,5 juta.

Secara operasional, ekosistem Electrum kini mencakup hampir 14.000 unit motor listrik dan sekitar 550 Battery Swapping Station. Volume penukaran baterai mencapai lebih dari 1,7 juta kali per bulan, dengan lebih dari 2.500 unit kendaraan dalam skema rent-to-own dan total jarak tempuh yang telah melampaui 135 juta kilometer.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa bisnis kendaraan listrik TBS mulai bergerak dari fase investasi menuju fase komersialisasi yang lebih matang.

Batu Bara Tetap Berkontribusi, Namun Porsinya Menyusut

Meskipun bisnis non-batu bara kini mendominasi, TBS belum sepenuhnya meninggalkan sektor batu bara. Segmen ini masih memberikan kontribusi pendapatan sebesar US$ 34,9 juta pada semester I-2026, meskipun turun 4,1% dari US$ 36,3 juta pada periode sebelumnya.

Namun, profitabilitas segmen batu bara justru membaik drastis. Laba kotor melonjak menjadi US$ 9,3 juta, dari hanya US$ 1,3 juta. Margin laba kotor meningkat signifikan dari 3,5% menjadi 26,6%. EBITDA segmen juga berbalik positif menjadi US$ 1,3 juta, dibandingkan rugi US$ 11,1 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Perbaikan ini terutama didorong oleh disiplin biaya dan membaiknya biaya produksi setelah persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Artinya, selama masa transisi, batu bara masih berfungsi sebagai salah satu sumber kontribusi finansial, namun porsinya dalam portofolio TBS terus menyusut.

Arus Kas Membaik, Neraca Menguat

Transformasi bisnis juga mulai tercermin pada arus kas perseroan. Arus kas operasi TBS berbalik positif menjadi US$ 14,6 juta, dibandingkan dengan angka negatif US$ 31,6 juta pada semester I-2025. Perubahan ini menjadi indikator penting, mengingat ekspansi bisnis baru seperti pengelolaan limbah dan kendaraan listrik membutuhkan investasi yang besar.

Dari sisi neraca, TBS memiliki kas sebesar US$ 94,7 juta per 30 Juni 2026. Utang bank jangka pendek tercatat turun 30,9% secara tahunan, sementara total liabilitas jangka pendek menyusut 13,5%.

Perseroan juga melakukan refinancing obligasi rupiah melalui PUB II dan PUB III, yang memindahkan sekitar US$27,5 juta kewajiban dari jatuh tempo jangka pendek, sehingga profil jatuh tempo utang menjadi lebih panjang.

Rasio utang bersih terhadap EBITDA membaik menjadi 5,4 kali, dibandingkan 5,6 kali pada akhir 2025. Juli Oktarina menambahkan bahwa posisi ini memberikan ruang bagi perseroan untuk terus mendanai agenda transformasi. “Kami punya likuiditas untuk mendanai rencana pertumbuhan dan tetap berada di jalur target netralitas karbon 2030. Bisnis-bisnis baru kami sudah menghasilkan kas, utang jangka pendek kami turun signifikan, dan neraca kami memberi ruang untuk terus berinvestasi,” katanya.

Energi Terbarukan Jadi Pendukung Portofolio Bersih

TBS juga masih memiliki sumber pertumbuhan dari sektor energi terbarukan. Berbeda dengan bisnis yang dikonsolidasikan, kepemilikan perseroan pada segmen energi terbarukan berbentuk entitas asosiasi, sehingga kontribusinya dicatat melalui bagian laba entitas asosiasi.

Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) berkapasitas 6 MW telah beroperasi penuh dan memberikan kontribusi US$110.300 terhadap laporan laba rugi perseroan. Sementara itu, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung berkapasitas 46 MWp masih sesuai jadwal dan ditargetkan beroperasi pada kuartal IV-2026.

Jika terealisasi sesuai target, PLTS tersebut akan menambah sumber pendapatan baru non-batu bara sekaligus memperkuat portofolio energi bersih TBS.

Dengan perkembangan tersebut, transformasi TBS kini bukan lagi sekadar perubahan narasi bisnis. Pengelolaan limbah telah menjadi mesin EBITDA, kendaraan listrik mulai mencetak laba, arus kas operasi telah positif, sementara kontribusi batu bara terus menyusut. Bagi investor, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan bisnis non-batu bara dapat terus mengimbangi kebutuhan investasi dan menghasilkan arus kas yang cukup untuk memperbaiki struktur keuangan perseroan secara berkelanjutan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *