JAKARTA – Kinerja PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) sepanjang semester I-2026 menunjukkan kemampuan perseroan untuk tetap mencetak laba di tengah tekanan pendapatan. Meskipun pendapatan mengalami penurunan, SMMA berhasil mempertahankan dan bahkan meningkatkan labanya.
Keberhasilan ini didukung oleh strategi perseroan dalam menekan berbagai pos beban. Tercatat, SMMA berhasil memangkas total beban sebesar Rp2,73 triliun atau 14,40%, dari Rp19,01 triliun menjadi Rp16,28 triliun pada semester I-2026. Penurunan terbesar terjadi pada beban jasa asuransi, yang menyusut dari Rp9,17 triliun per 30 Juni 2025 menjadi Rp4,89 triliun per 30 Juni 2026. Beban keuangan reasuransi dan beban pokok penjualan juga mengalami pengecilan.
Selisih penurunan beban yang lebih besar daripada pelemahan penjualan ini memungkinkan SMMA untuk mencatatkan kenaikan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Laba ini melonjak dari Rp1,31 triliun menjadi Rp2,37 triliun pada semester I-2026.
Sementara itu, pendapatan SMMA pada periode Januari-Juni 2026 mengalami penyusutan sebesar 8,68% atau Rp1,77 triliun, menjadi Rp18,61 triliun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp20,38 triliun. Penurunan ini terutama disebabkan oleh lesunya pendapatan dari bisnis underwriting asuransi, jasa asuransi, dan pendapatan lain-lain.
Kenaikan laba bersih SMMA pada paruh pertama 2026 turut mendongkrak laba bersih per saham dasar menjadi Rp363 per saham, naik dari posisi sebelumnya Rp206 per saham. Pergerakan positif laba per saham ini disambut baik oleh pelaku pasar, yang tercermin pada kinerja saham SMMA di bursa.
Pada penutupan perdagangan Jumat (28/8/2026), saham SMMA menguat 0,12% ke level 20.075. Penguatan ini melanjutkan tren positif selama sepekan terakhir yang naik 1,90% dan mencatat kenaikan signifikan sebesar 38,45% sejak awal tahun (year-to-date/ytd).
Dari sisi neraca, total aset SMMA menunjukkan pertumbuhan sebesar Rp9,33 triliun atau 7,75% secara tahunan, mencapai Rp129,72 triliun pada semester I-2026, naik dari Rp120,39 triliun di tahun sebelumnya. Liabilitas juga mengalami kenaikan menjadi Rp101,24 triliun dari Rp94,48 triliun, serta ekuitas yang bertambah menjadi Rp28,47 triliun.
Namun, jumlah kas dan setara kas pada akhir periode tercatat menurun menjadi Rp17,28 triliun pada semester I-2026, dibandingkan Rp18,95 triliun pada semester I-2025. Penurunan kas ini terkait dengan peningkatan kas bersih yang digunakan untuk aktivitas operasi, yang membengkak menjadi Rp6,14 triliun, lebih tinggi dari Rp4,5 triliun pada semester I-2025.






