Beranda / Bisnis / YB Sekuritas Targetkan 80.000 Nasabah di 2026, Perluas Jaringan Edukasi

YB Sekuritas Targetkan 80.000 Nasabah di 2026, Perluas Jaringan Edukasi

YB Sekuritas Targetkan 80.000 Nasabah di 2026, Perluas Jaringan Edukasi

PT Yakin Bertumbuh Sekuritas (YB Sekuritas) menargetkan pertumbuhan agresif jumlah nasabah pada 2026 dengan sasaran mencapai 80.000 Single Investor Identification (SID). Jumlah ini hampir dua kali lipat dari posisi saat ini yang berkisar 40.000 SID.

Direktur Utama Yakin Bertumbuh Sekuritas, Angga Raharja, menyatakan bahwa ekspansi basis investor ini akan didukung oleh penguatan layanan ritel, perdagangan saham daring, serta pembukaan sejumlah titik layanan dan Education Hub di berbagai daerah.

“Kami tahun ini mengejar angka 80 ribu SID. Saat ini sekitar 40 ribu,” kata Angga di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Terbaru, YB Sekuritas meresmikan Education Hub di Jakarta Barat. Fasilitas ini dirancang sebagai ruang bagi investor untuk berkumpul, bertukar pengalaman, mendapatkan edukasi pasar modal, dan berkomunikasi langsung dengan analis perusahaan.

Pemilihan Jakarta Barat sebagai lokasi Education Hub didasari oleh basis nasabah yang cukup besar di kawasan tersebut, termasuk segmen high net worth.

“Education Hub ini sebenarnya tempat untuk kumpul-kumpul, saling tukar pengalaman dan pengetahuan. Karena sekarang online trading sudah marak, akhirnya trading dilakukan sendiri-sendiri. Kami berharap dengan berkumpul, investor bisa saling bertukar pengetahuan dan pengalaman sehingga pengambilan keputusan investasinya lebih bijak,” ujar Angga.

Selain menjadi pusat edukasi, Education Hub YB Sekuritas juga menyediakan akses langsung kepada analis untuk memberikan pandangan dan informasi terkait kondisi pasar kepada investor.

Pembukaan hub di Jakarta Barat ini melengkapi jaringan YB Sekuritas yang sudah ada di sejumlah kota seperti Solo, Surabaya, Semarang, Padang, dan Batam. Setelah Jakarta Barat, perseroan mempertimbangkan ekspansi berikutnya ke Bandung.

Angga menambahkan bahwa ekspansi ini akan disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi masing-masing wilayah. Strategi ini merupakan bagian dari upaya YB Sekuritas untuk memperluas jangkauan di tengah pertumbuhan investor ritel Indonesia.

Bidik Generasi Z

Dalam upaya ekspansi nasabah, YB Sekuritas juga menargetkan investor dari kalangan generasi muda, khususnya Generasi Z. Angga menjelaskan bahwa segmen Gen Z merupakan salah satu target penting sejalan dengan semakin besarnya kontribusi kelompok investor muda di pasar modal Indonesia. Meskipun demikian, basis nasabah YB Sekuritas tetap mencakup investor dengan usia dan profil kekayaan yang beragam.

“Target investor sebenarnya dari mahasiswa sampai high net worth. Kami juga menyasar Gen Z,” katanya.

Untuk memperkuat penetrasi ini, YB Sekuritas akan mengandalkan kanal digital dan produk berbasis teknologi, termasuk pengembangan platform perdagangan dan layanan digital perseroan.

Selain bisnis perdagangan saham, perseroan juga sedang mempertimbangkan pengembangan bisnis surat utang atau obligasi. Saat ini, kegiatan utama YB Sekuritas meliputi perdagangan saham dan jasa penjamin emisi efek.

Di bisnis pasar modal, YB Sekuritas telah terlibat dalam sejumlah aksi penawaran umum perdana saham (IPO), dengan penanganan lebih dari 20 hingga 30 proyek IPO.

Untuk tahun ini, YB Sekuritas masih menggodok sejumlah rencana emisi baru. Salah satu proyek yang sedang dipersiapkan diperkirakan memiliki nilai emisi di bawah Rp100 miliar dan masih dalam proses.

Di tengah ekspansi bisnis ini, Angga melihat prospek pasar saham Indonesia masih positif. Meskipun demikian, investor saat ini cenderung mengambil sikap wait and see menjelang kepastian terkait indeks MSCI.

Menurutnya, investor domestik maupun asing masih menunggu perkembangan reformasi pasar modal Indonesia dan keputusan MSCI. Namun, kondisi tersebut tidak lagi memicu kepanikan berlebihan di pasar.

“Saat ini investor lokal maupun asing masih wait and see terkait MSCI. Tetapi saya melihat Bursa Efek Indonesia tidak tinggal diam. Pekerjaan rumah yang bisa dikerjakan sudah banyak dikerjakan. Saya melihat masih positif, arahnya IHSG masih positif ke depan,” ujar Angga.

Ia menilai perbaikan transparansi dan keterbukaan informasi yang dilakukan Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan langkah positif untuk menjawab kekhawatiran investor global.

Angga juga berpendapat bahwa risiko Indonesia kembali dikategorikan sebagai frontier market masih relatif jauh, mengingat berbagai pembenahan yang telah dilakukan bursa.

“Skenario terburuknya memang frontier market, tetapi menurut saya dengan perkembangan saat ini, pekerjaan rumah bursa terkait MSCI sudah banyak yang dikerjakan. Menurut saya masih jauh ke level frontier market,” katanya.

Oleh karena itu, Angga berharap tidak ada kebijakan domestik baru yang justru menimbulkan ketidakpastian dan mengganggu kepercayaan investor. “Jangan ada tiba-tiba kebijakan yang mengganggu investor karena itu akan menimbulkan kepanikan masyarakat,” tegasnya.

Proyeksi IHSG

Mengenai arah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Angga memproyeksikan level 6.500 masih berpeluang dicapai dalam jangka pendek. Namun, ia menilai target IHSG mencapai 7.000 pada akhir 2026 relatif berat.

“Rp6.500 masih mungkin. Tetapi Rp7.000 akhir tahun menurut saya berat,” ujarnya.

Menurut Angga, level atas IHSG yang realistis untuk diperhatikan berada di sekitar 6.900. Dari sisi sektoral, ia melihat saham-saham pertambangan masih memiliki daya tarik, terutama di tengah perkembangan harga komoditas. Sektor emas dan batu bara dinilai masih menarik, sementara sektor perbankan menghadapi tantangan yang lebih berat.

“Yang masih menarik saat ini sektor pertambangan. Emas dan batu bara masih oke. Banking ini masih agak berat,” katanya. Tekanan terhadap sektor perbankan juga dinilai dapat berimbas terhadap sektor properti, sehingga investor perlu lebih selektif dalam memilih saham.

Di sisi lain, Angga melihat peluang jangka panjang pada saham-saham yang berkaitan dengan pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Menurutnya, perkembangan AI di kawasan Asia Tenggara membuka peluang bagi perusahaan Indonesia yang memiliki eksposur terhadap infrastruktur pusat data.

“Kalau untuk mengejar saham-saham yang booming karena AI, Indonesia mungkin agak ketinggalan. Tetapi dari sisi lain kita punya data center yang mengarah ke berbasis AI,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembangunan pusat data membutuhkan dukungan infrastruktur yang kuat, terutama pasokan listrik dan air yang stabil. Karena itu, kawasan industri yang mampu menyediakan kedua kebutuhan tersebut berpotensi memperoleh manfaat dari ekspansi industri pusat data.

“Yang dibutuhkan data center pertama kestabilan listrik dan air. Jadi kawasan industri yang bisa mendukung air dan kestabilan listrik itu yang dicari,” ujarnya.

Dengan demikian, Angga menyarankan investor untuk mencermati sektor pusat data sebagai salah satu tema investasi jangka panjang, seiring meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital dan AI di Indonesia.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *