Beranda / Bisnis / Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Sentimen Geopolitik dan Kebijakan The Fed Jadi Kunci

Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Sentimen Geopolitik dan Kebijakan The Fed Jadi Kunci

Prediksi Harga Emas Pekan Depan: Sentimen Geopolitik dan Kebijakan The Fed Jadi Kunci

Pakar memprediksi harga emas dunia berpotensi tetap berada pada jalur kenaikan dalam sepekan ke depan, meskipun tren penurunan masih mungkin berlanjut. Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan harga emas akan terkoreksi di level support pertama US$ 4.381 per troy ounce, dan berlanjut ke support kedua US$ 4.262 per troy ounce.

Namun, Ibrahim juga melihat peluang harga emas untuk kembali menguat. “Kemudian untuk resistance pertama harga emas jika mengalami kenaikan adalah di US$ 4.553 per troy ounce. Kemudian resisten kedua di US$ 4.682 per troy ounce,” kata Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu.

“Jadi harga emas dunia dalam sepekan kemungkinan ditransaksikan di US$ 4.262 per troy ounce dan resistance di US$ 4.682 per troy ounce,” bebernya lebih lanjut. Pergerakan harga emas pekan depan diprediksi masih akan dipengaruhi oleh sentimen geopolitik dan kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).

Ibrahim menyoroti ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat terkait Selat Hormuz. “Kita melihat bahwa AS mengatakan blokade di Selat Hormuz sampai saat ini sudah dilakukan oleh armada lautnya. Namun Teheran sendiri mengklaim bahwa kendali atas jalur perairan tersebut dikuasai oleh Iran,” jelasnya.

Selain di Timur Tengah, ketegangan juga kembali meningkat di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina, menyusul keterlibatan negara-negara anggota NATO, salah satunya Inggris.

Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim memaparkan pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, di Kongres mengenai inflasi AS yang masih cukup tinggi. “Dia juga menyampaikan beberapa pernyataan kunci tentang arah kebijakan moneter dan prinsip kepemimpinannya, bahwa saat ini bank sentral melihat pergerakan perekonomian dan tidak ada toleransi untuk inflasi tinggi,” papar Ibrahim.

Ia menyebutkan, inflasi AS yang tetap tinggi dapat menjadi salah satu faktor harga emas terkoreksi cukup tajam. “Dan dalam pertemuan sebelumnya di bulan Agustus, Kevin Warsh mengatakan tidak akan meningkatkan suku bunga karena saat ini relatif lebih tinggi di masa kepemimpinan Powell. Hal ini yang kemungkinan besar membuat pasar sedikit bergejolak walaupun terkoreksi sesaat,” kata Ibrahim.

Selain itu, Ibrahim memprediksi harga emas akan kembali rebound, didukung oleh faktor permintaan emas global yang kuat. Ia menambahkan, pernyataan Kevin Walsh akan mendorong bank-bank sentral global untuk kembali melakukan pembelian emas, sehingga mendorong tren kenaikan harga berlanjut.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *