Beranda / Market / Prediksi Harga Minyak Dunia: Fluktuatif Akibat Ketegangan Geopolitik

Prediksi Harga Minyak Dunia: Fluktuatif Akibat Ketegangan Geopolitik

Prediksi Harga Minyak Dunia: Fluktuatif Akibat Ketegangan Geopolitik

JAKARTA – Harga minyak dunia diprediksi akan bergerak fluktuatif pada pekan mendatang. Ketidakpastian yang dipicu oleh perkembangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga komoditas energi ini.

Direktur PT Traze Andalan Resources, Ibrahim Assuaibi, memproyeksikan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berpotensi terkoreksi hingga mencapai level US$ 76,30 per barel. Namun, ia juga tidak menutup kemungkinan WTI kembali menguat seiring dengan meningkatnya ketegangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

“Kemungkinan besar dalam perdagangan sepekan ke depan support harga minyak WTI di US$ 76.30 per barel. Namun, jika menguat, resistance harga minyak mentah WTI di US$ 98.00 per barel,” ungkap Ibrahim dalam keterangannya pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat sempat mencatatkan kenaikan sebesar US$ 1,30 atau 1,6%, ditutup pada level US$ 83,53 per barel. Penguatan ini terjadi setelah investor memangkas ekspektasi terhadap terobosan diplomatik yang sebelumnya diharapkan dapat membuka kembali aliran minyak dari Timur Tengah.

Ibrahim menyoroti pernyataan Amerika Serikat yang mengklaim blokade di Selat Hormuz telah dilakukan oleh armada lautnya. Namun, Teheran sendiri menyatakan bahwa kendali atas jalur perairan strategis tersebut berada di tangan Iran.

Selain itu, Ibrahim juga mengamati perkembangan geopolitik di Amerika Latin. Ia menyebutkan, Venezuela, pasca-penguasaan oleh Amerika, kemungkinan akan keluar dari negara-negara anggota OPEC. “Di sisi lain, minyak-minyak di Venezuela akan dikuasai oleh AS sehingga ada kemungkinan terjadinya oversupply,” katanya.

Ketegangan juga kembali meningkat di Eropa Timur antara Rusia dan Ukraina. Situasi ini semakin kompleks dengan keterlibatan negara-negara anggota NATO, termasuk Inggris.

“Ini yang cukup menarik sehingga membuat harga minyak mentah tidak terlalu naik tajam dan kembali ke level US$ 90,” pungkas Ibrahim, merujuk pada potensi stabilisasi harga di kisaran tersebut meskipun ada berbagai gejolak.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *