Beranda / Bisnis / Target IHSG 7.000 Dinilai Berat, Sekuritas Ungkap Level Realistis dan Sektor Menarik

Target IHSG 7.000 Dinilai Berat, Sekuritas Ungkap Level Realistis dan Sektor Menarik

Target IHSG 7.000 Dinilai Berat, Sekuritas Ungkap Level Realistis dan Sektor Menarik

JAKARTA – Target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menyentuh level 7.000 pada akhir 2026 dinilai terlalu ambisius oleh Direktur Utama Yakin Bertumbuh Sekuritas, Angga Raharja. Menurutnya, angka 6.500 masih dalam jangkauan, namun 7.000 pada akhir tahun tersebut terasa berat.

Angga memperkirakan level atas IHSG yang lebih realistis untuk dicermati berada di kisaran 6.900. Ia menambahkan bahwa sektor pertambangan masih menunjukkan daya tarik yang kuat, terutama seiring dengan perkembangan harga komoditas global. Sektor emas dan batu bara dinilai masih prospektif, berbeda dengan sektor perbankan yang diprediksi menghadapi tantangan lebih berat.

“Yang masih menarik saat ini sektor pertambangan. Emas dan batu bara masih oke. Banking ini masih agak berat,” ujar Angga di Jakarta, Minggu (30/8/2026).

Tekanan yang dihadapi sektor perbankan diperkirakan dapat memberikan dampak terhadap sektor properti. Oleh karena itu, Angga menyarankan investor untuk lebih selektif dalam memilih saham-saham di sektor tersebut.

Di sisi lain, Angga melihat adanya peluang investasi jangka panjang pada saham-saham yang berkaitan dengan pusat data (data center) dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Perkembangan AI di kawasan Asia Tenggara dinilai membuka peluang bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia yang memiliki eksposur terhadap infrastruktur pusat data.

“Kalau untuk mengejar saham-saham yang booming karena AI, Indonesia mungkin agak ketinggalan. Tetapi dari sisi lain kita punya data center yang mengarah ke berbasis AI,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa pembangunan pusat data memerlukan dukungan infrastruktur yang solid, utamanya pasokan listrik dan air yang stabil. Dengan demikian, kawasan industri yang mampu menyediakan kedua kebutuhan krusial tersebut berpotensi besar mendapatkan manfaat dari ekspansi industri pusat data.

“Yang dibutuhkan data center pertama kestabilan listrik dan air. Jadi kawasan industri yang bisa mendukung air dan kestabilan listrik itu yang dicari,” ujarnya.

Angga menyarankan investor untuk mencermati sektor pusat data sebagai salah satu tema investasi jangka panjang, seiring dengan meningkatnya kebutuhan infrastruktur digital dan AI di Indonesia.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *