JAKARTA – PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang impresif pada semester I-2026. Pendapatan bersih emiten Grup Bakrie ini melonjak menjadi Rp 2,59 triliun, meningkat sebesar Rp 814,69 miliar atau 45,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 1,77 triliun.
Pertumbuhan pendapatan ini turut mendongkrak lonjakan laba usaha sebesar 283,2%, mencapai Rp 301,5 miliar. Angka ini jauh melampaui laba usaha pada semester I tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 78,6 miliar. Selain itu, BNBR juga membukukan laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) positif sebesar Rp 423 miliar, naik Rp 295,2 miliar atau 230,9% dari Rp 127,8 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama & Chief Executive Officer (CEO) BNBR, Anindya N Bakrie, menyatakan bahwa pencapaian ini diraih di tengah kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian. “Bakrie & Brothers mampu mencatatkan pertumbuhan positif di tengah ketidakpastian dan kondisi ekonomi global yang tidak kunjung menentu. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa strategi, resiliensi, adaptabilitas, serta kerja keras seluruh tim mulai menunjukkan hasil,” ujar Anindya dalam keterangan resminya, Jumat (28/8/2026).
Anindya menjelaskan, kenaikan pendapatan BNBR sebesar Rp 814,69 miliar utamanya didorong oleh peningkatan kinerja dari beberapa unit usaha. Kontributor terbesar dalam pertumbuhan ini adalah PT Bakrie Indo Infrastructure (BIIN). Pendapatan BIIN Group melonjak Rp 450,7 miliar atau 256,1% menjadi Rp 626,7 miliar pada semester I-2026, dari sebelumnya Rp 176 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Lonjakan ini sebagian besar disebabkan oleh dampak konsolidasi penuh PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) pada tahun 2026.
Kontribusi pertumbuhan juga datang dari PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR). Pendapatan VKTR Group meningkat Rp 232,5 miliar atau 56,2% menjadi Rp 646,6 miliar, dibandingkan Rp 414 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan kinerja VKTR didorong oleh pertumbuhan penjualan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) serta kenaikan penjualan PT Bakrie Autoparts (BA).
Sementara itu, PT Bakrie Metal Industries (BMI) mencatat pendapatan bersih sebesar Rp 1,3 triliun, naik Rp 120,9 miliar atau 10,2% dari Rp 1,18 triliun pada semester I tahun sebelumnya. Pertumbuhan BMI ditopang oleh kenaikan pendapatan BMI Parent sebesar 37,5%, PT Bakrie Construction (Bcons) sebesar 33,6%, dan PT Southeast Asia Pipe Industries (SEAPI) sebesar 15,1%.
Aksi Korporasi dan Ekspansi
Wakil Direktur Utama & Co-Chief Executive Officer (Co-CEO) BNBR, A Ardiansyah Bakrie, mengungkapkan bahwa perseroan telah menyelesaikan penerbitan saham baru melalui mekanisme penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue pada akhir Juli 2026. Melalui aksi korporasi ini, BNBR berhasil menghimpun dana sebesar Rp 4,76 triliun.
Ardiansyah menambahkan bahwa sejumlah unit usaha BNBR juga mencatat perkembangan kinerja positif sepanjang enam bulan pertama 2026, sejalan dengan peningkatan pendapatan konsolidasi perseroan. Direktur BNBR, Roy Hendrajanto M Sakti, menekankan bahwa perseroan melihat struktur keuangan yang semakin kuat sebagai modal untuk mengembangkan portofolio infrastruktur strategis, termasuk jalan tol dan jaringan pipanisasi untuk transportasi minyak dan gas.
BNBR juga terus melanjutkan ekspansi pada sektor industri masa depan, seperti elektrifikasi transportasi dan energi berkelanjutan. Perseroan optimistis strategi ini akan menopang pertumbuhan berkelanjutan, memberikan nilai tambah bagi pemegang saham, serta mendukung pembangunan nasional.
Meskipun pendapatan, laba usaha, dan EBITDA mengalami peningkatan, BNBR mencatat penurunan laba bersih. Roy menjelaskan bahwa penurunan ini terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT. “Bakrie & Brothers mencatatkan penurunan laba bersih yang terutama disebabkan oleh dampak eksternal berupa kenaikan floating rate terhadap beban bunga CCT, khususnya pada tahun-tahun awal setelah akuisisi ketika komponen beban bunga masih relatif tinggi,” pungkas Roy.






