PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan seluruh entitas anak berhasil membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp30,86 triliun pada paruh pertama tahun 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan sebesar 17,42% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yang tercatat sebesar Rp26,28 triliun.
Pertumbuhan laba yang impresif ini ditopang oleh beberapa faktor utama. Peningkatan pendapatan bunga menjadi salah satu pendorong utama, diiringi dengan membaiknya pengelolaan beban bunga. Namun, laporan keuangan konsolidasian BRI yang dipublikasikan pada Senin (31/8/2026) juga mencatat adanya kenaikan pada beban pencadangan atau impairment.
Dari sisi pendapatan, BRI mencatat pendapatan bunga secara konsolidasi sebesar Rp107,92 triliun, mengalami pertumbuhan 5,42% secara tahunan atau year on year (yoy). Sementara itu, beban bunga berhasil ditekan sebesar 5,87% (yoy) menjadi Rp27,39 triliun, turun dari angka Rp29,10 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kombinasi antara kenaikan pendapatan bunga dan penurunan beban bunga ini secara efektif mendorong pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) menjadi Rp80,53 triliun, yang merupakan pertumbuhan 9,91% (yoy) pada semester I-2026.
Meskipun demikian, pertumbuhan laba BRI juga dihadapkan pada peningkatan beban pencadangan. Pos impairment for financial assets tercatat sebesar Rp25,51 triliun, mengalami kenaikan 9,64% (yoy).
Dari sisi rasio profitabilitas, return on asset (ROA) BRI menunjukkan peningkatan. ROA sebelum pajak tercatat sebesar 3,30% pada akhir Juni 2026, sedikit meningkat dari 3,29% pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, ROA setelah pajak mencapai 2,70%, naik dari 2,63%.
Kinerja return on equity (ROE) juga turut menguat. ROE tercatat sebesar 22,59%, meningkat dari 21,09% pada semester I-2025. Apabila ROE dihitung dengan membagi laba setelah pajak dengan rata-rata total ekuitas, angkanya mencapai 18,50% pada akhir Juni 2026, naik dari 16,95% pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, peningkatan profitabilitas BBRI ini terjadi di tengah adanya penyempitan pada net interest margin (NIM). Pada semester I-2026, NIM berada di level 6,40%, mengalami penurunan dari 6,58% pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan NIM ini sejalan dengan tren margin perbankan secara umum.






